• Travel

    Titik-titik Menarik di Bali

    Bali tidak pernah gagal membuat para wisatawan untuk dapat menemukan titik-titik baru yang menjadi mangnet pengunjung setiap tahunnya. Tahun 2017 lalu, hampir empat kali menginjak Pulau Dewata, saya takjub dengan bagaimana Bali menawarkan euforia lewat wisata alam ataupun kafe-kafe yang–kalau kata anak jaman sekarang–sangat Instagramable.

    Bukan Travel Blogger atau Food Blogger, tapi tempat-tempat ini simpel memberikan “warna” ketika saya berada di Bali.

  • Momentum

    Mengenai Meregang (Versi Saya)

    Saya rasa mengunjungi Ubud beberapa waktu lalu membuka (lagi) sedikit pemahaman terhadap hidup. Salah satu highlight-nya adalah membaca ulang salah satu laman blog dari penulis sekaligus editor favorit saya, Windy Ariestanty mengenai Meregang (baca tulisannya disini).

    Saya kenali tulisan ini setengah dekade lalu, namun pemahaman menyeluruhnya baru didapatkan ketika saya sedang menikmati matahari pagi pada balkon belakang rumah kawan di Ubud, bersebelahan dengan Cafe Pomegranate. Tidak ada yang istimewa pada situasi kala itu; hanya saya dan hati yang sedang belajar untuk meregang selebar-lebarnya seperti kata Windy pada tulisan itu, serta rumah yang memiliki seribu kenangan dengan orang berbeda dari seseorang yang saya (rasa) saya cintai begitu dalam.

    Saya terbangun pukul enam pagi. Tidak ada yang apapun yang menganggu atau menarik saya secara paksa untuk beranjak dari tempat tidur. Hanya alam bawah sadar yang memang kerap kali mengetuk mata di antara pukul lima sampai tujuh pagi hari. Sebut saja dengan rutinitas.

    Matahari perlahan bersinar, tidak begitu hebat, karena hujan mengguyur Ubud sedari malam hari. Subuh itu, saya seperti dialunkan kalimat dari tulisan Windy–mulai dari kepala, kemudian ke hati:

    Beberapa orang tak ingin berada di dalam sebuah hubungan karena mereka harus “meregang” untuk orang lain. Aku tahu itu bisa sangat menyakitkan. Pada titik tertentu kau akan menangis karena mengira sudah tak mampu lagi meregang. Tapi untuk bisa menghadirkan manusia baru, kau harus terus membuka, membuka, dan membuka tanpa menutup kemungkinan kau akan terluka. (Windy Ariestanty)

    Tertawa, saya tertawa hebat pagi itu. Rasanya seperti ditampar puluhan kali oleh jiwa yang belasan tahun ini lebih sering dimakan oleh logika.

    Cukup menarik, saya rasa, karena tulisan Meregang itu dibuat oleh Windy ketika ia di Ubud, bertemu salah seorang bidan dan madre dari Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim. Dan tulisan yang menyadarkan jiwa ini, baru saya pahami makna keseluruhannya ketika saya sedang di Ubud, berkontemplasi dengan pikiran yang bulanan kemarin begitu keruh.

    Saya menarik kesimpulan, sejenak, tidak tahu sampai kapan waktu: Saya rasa ini waktu saya belajar meregang, seperti yang Windy tulis. Tidak dengan ke-aku-an, tidak dengan logika, namun dengan kata hati. Belajar memahami apa yang hati ini ingin tuliskan, bukan karena logika atau ketakutan atas ketidaktahuan masa depan.

    Melihat Ubud dari dekat, memahami desa itu layaknya penduduk lokal, mengenal manusia-manusia didalamnya dalam bentuk lebih dekat, meregang kali ini rasanya cukup seimbang walau saya tidak tahu, akan selama dan semampu apa saya meregang.

    Mba Windy, Ibu Robin…. pertanyaannya, kapan kita tahu kita harus berhenti meregang?

  • Parafrase

    Monsieur

    Beyond right and wrong, we met on inadvertency.

    In the middle of inability to feel something, I identify the possibility of you. I took a glimpse, depth to your complexion; to the essential habit which is known only by yourself. Odd is, the possibility still there even more solid.

    I accept who you are whilst I am trying to contribute something positive into your life. Love should be that melancholic, shouldn’t it? To give each other way to growth without interfere their quirks. Odd is, I love your weirdness as I found myself very comfortable sharing idiotic things to you.

    You drowning me into the world that created my our own Himalaya. I felt depth into that, cannot stop. Yet, in this millennial-complicated world, I found you very simple to be notice. I found you lead me into simple things and I treasure that moment.

    But again, opening into something new such a very uphill stage, right? As pleasing as it is, I learned from the past. The urge to keep you here keeps me straightly talking to God, to show me His legitimate solid intention.

    Jakarta
    November 15 2017
    (writing this on Facebook pages, hoping everything will be alright at the end)
  • Momentum,  Parafrase

    Surat Dari Hati Seorang Wanita Yang Terluka Dan Memilih Menepi

    Ini mengenai suara hati seorang wanita yang tidak terpilih secara rupa, dan memilih menepi.

    Buat Anda yang merasa sudah berada di titik memutuskan, tanpa benar-benar memperjuangkan apa yang menjadi perasaan Anda sesungguhnya, selamat! Anda tetap menjadi manusia paling jujur di rotasi alam semesta saya.

    Mungkin saya bodoh, atau mungkin ini karma tidak pernah mencintai seluruh hati sejak duapuluhenam tahun hidup. Entahlah.

    Saya punya ideologi begini: Perasaan itu adalah salah satu hal paling kompleks yang pernah manusia bisa benar-benar simpulkan kebenarannya. Perasaan–yang dengan bangga saya sebut cinta ini–membuat saya mampu melihat bahwa seseorang bisa bersama seseorang yang lain tanpa impresi yang benar-benar besar mengelilingi keduanya. Atau bahkan sebaliknya, memilih tidak bersama padahal punya sejuta impresi yang begitu melekat antar satu sama lain.

    Saya akhirnya belajar untuk mencukupkan diri.

    Cukup mengenai, mendengar dari mulutmu dan melihat dari sorot matamu bahwa lewat waktu krusial dan segala kegilaan di hari libur lalu, kita bertemu dalam kedewasaan dan putuskan untuk saling mencinta dalam kepasrahan. Tidak peduli ragamu dimana, tetapi hati kita bertaut dalam semesta dirimu dan diriku. Cukup untuk mengetahui kita lebih memilih meletakan hati—dan masa depan—kepada Yang Diatas untuk benar-benar dipasrahkan. Cukup untuk mengerti bahwa cinta itu memang begini adanya: memasrahkan, tidak perlu memilih, dan melihat melalui segala ketidakberdayaan.

    Walaupun, saya tidak bisa katakan cukup adalah “benar-benar” cukup. Saya masih manusia biasa dan keluar dari sebuah arena perang tanpa benar-benar berperang (walau, sampai detik ini saya percaya, cinta bukanlah peperangan) hanya karena terlalu mengerti bahwa kamu tidak pernah bisa benar-benar memilih dikala lelah/panik, ego ini masih terlalu manusia untuk menyerah. Ego ini masih nampak ingin bersinar, walau tak bisa benar-benar kunampakan bentuknya. Tapi, tidak menyerah hanya semakin memperkeruh suasana, bukan?

    Ada kalanya ketika saya lelah, atau beberapa lagu kita terdengar dari radio, atau beberapa kenangan muncul di kepala, ada pertanyaan sedikit terucap: mengapa kalau hatimu lebih memilih hatiku, keduanya tidak bisa benar-benar bersama? Atau, ketika kamu meyakinkan saya, di hari ketiga setelah seluruh kegilaan di hari libur itu selesai berputar dan kita bertemu dalam kedewasaan, kamu tetap tidak bisa jujur kepada dia mengenai perasaanmu yang sesungguhnya? Namun, saya terlalu cinta. Terlalu cinta untuk melihat kejanggalan itu dan memilih untuk percaya bahwa kamu berkata dari realita, bukan dari tekanan karena mengecewakan banyak hal, juga molekul manusia.

    Ideologi “hati memilih dan tidak dipilih” menjadi dasar saya bertahan dalam seluruh keadaan tidak berlogika ini. Saya belajar mencukupkan diri dan memeluk Tuhan dalam jarak paling erat untuk bisa benar-benar ikhlas. Saya tidak perlu jelaskan dengan menggebu-gebu mengenai bahwa hatimu memilih hati saya, kepada siapapun itu, karena akan muncul pertanyaan paling hakiki dari semuanya: mengapa hatinya memilih kamu, tapi tidak bersama kamu?

    Kamu tahu, saya akan minim jawaban, bahkan cenderung malas menjelaskan analogi yang saya punya mengenai ini. Saya akan sangat terlihat semakin bodoh ketika mencoba menjelaskan betapa saya tahu kamu sedang hilang arah, dan saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya adalah terang untuk menuntunmu kembali ke rumah kita. Bersama Tuhan. Apabila diperbolehkan.

    Walau begitu, kenyataan absolut mengenai:

    Kamu menyakiti saya–dengan seluruh kemampuanmu–kamu menyakiti saya, tidak pernah bisa saya selipkan sedikitpun lewat bibir ini. Saya memilih katakan, kamu hilang arah dan saya belajar pahami itu.

    Kamu berbohong–dengan seluruh keabsahan fakta–kamu berbohong mengenai banyak hal, dan saya memilih percaya dengan seluruh kata-katamu. Percaya karena malam kemarin, setelah selesai segala kegilaan, dan kita bertemu dalam kedewasaan, matamu berbicara terlalu banyak dan terlalu jujur, untuk saya lakukan validasi.

    Kamu adalah manusia yang memakan habis kepercayaan saya akan dunia. Tapi, Sayang, Tuhan masih begitu berbelas kasih dengan saya. Tidak ada keraguan padamu, atau pada diri saya, atau pada manusia lain; bahkan sampai detik ini, tiga hari setelah kegilaan ini akhirnya mereda. Saya memilih masih percaya ketika kamu bilang, “kamu cinta saya. Hati kamu memilih saya.”

    Kamu adalah satu-satunya orang yang membuat saya punya cukup alasan untuk membenci atau berlaku kasar. Tapi saya tidak mampu, dan tidak cukup kuat, untuk bisa membenci atau mengutuk kamu dan manusia lainnya.

    Sayang,

    Malam kemarin, puluhan kali mata kita bertemu, puluhan kali kita berusaha menggengam pada ketidakberdayaan dan ketidakpastian, puluhan kali juga saya yakin, cinta itu hanya untuk saya. Bukan cinta yang terdefinisi dari berapa banyak jawaban pesan, atau dering telepon, atau ucapan “aku sayang kamu”, atau pada kecupan, atau pelukan, atau validasi dalam status; ini tentang cinta dalam diam, yang hanya dipahami oleh saya. Anehnya, saya yakini perasaan kita nampak sejalan dan sewarna dalam segalanya: rasa, bentuk, dan kuota.

    Sayang,

    Banyak orang yang membaca ini akan berpikir saya pasti hanya berhalusinasi dalam kesakitan paling dalam. Naive bahasa lebih membuminya. Tapi.. Kamu tahu saya kan, Kak? Kita adalah sepasang manusia yang melihat terlalu saling mengenal satu sama lain. Terlalu bersahabat sangat baik, dan terlalu bermimpi besar tentang masa depan kita.

    Tapi, mencintaimu adalah melihatmu bahagia, walau saya harus setengah mati menahan ego untuk tidak memperjuangkanmu. Saya bisa, saya mampu, tapi, tidaklah. Air berlabuh pada sungai yang sama nantinya, kalau air itu memang harus berlabuh.

    Pilihan saya–atau bahkan kita berdua–untuk mencintai seperti angin; akan saya terima. Seperti katamu: tidak perlu saya berteriak meminta kamu memperjuangkan saya, hatimu disini dan tidak akan kemana-mana. Tidak perlu benar-benar menggenggam, tidak perlu benar-benar bersentuhan fisik, tidak perlu benar-benar memiliki.

    Malam kemarin adalah cukup untukku mengerti hatimu dan derunya. Benar atau tidaknya apa yang kamu katakan, saya kembali memilih percaya.

    Sayang percayalah aku berserah dengan ketidakberdayaan, berbahagia dengan satu impian bahwa kita mungkin bisa bersama suatu hari nanti; bukan karena kita memaksakan keadaan, atau karena kamu didera perasaan bersalah. Kupikir cinta tak akan lelah memberi, namun ternyata, cintaku pada diriku sendiri lebih besar. Jadi biarlah kini, mengetahui hatimu sudah menjadi milik saya adalah kekuatan untuk menepi dan berjalan meneruskan hidup.

    Maaf, kulepaskan engkau terlebih dahulu, muara tawaku. Kutunggu kau dalam waktu yang tidak bisa kuprediksi, dalam cinta yang tertimbun dalam-dalam di hati, dalam kepasrahan jiwa dan raga.

    Doaku, semoga kamu benar-benar bahagia. Kalau memang yang kamu katakan benar adanya, jujurlah pada dirimu sendiri dan jangan siksa jiwamu. Karena, kalau kamu tidak bahagia, sungguhlah… sungguhlah… melepaskanmu adalah keputusanku yang paling bodoh.

     

    Dari,
    Yang mencintaimu melalui hatinya yang terdalam
    (Percayalah, aku paham betul perbedaan arti cinta dan jatuh cinta. Dan… “Aku cinta kamu.”)
    Yang 
    terluka karena tidak punya kesempatan untuk berjuang lebih besar
    (Tetap ya menjadi manusia…)
    Dan memilih menepi agar kamu bahagia

  • Momentum

    Tin Dan Ketidakmungkinan

    Namanya Tin dan ia adalah manusia paling terencana yang ada di muka bumi ini.

    Namun setahun terakhir adalah transisi tersulit baginya. Tin menemukan sisi implusifnya begitu mendominasi. Sulit untuk menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya, namun seluruh implusivitas itu seringkali ia lakukan untuk membenarkan apa yang terdeskripsi di kepala. Kesalahan Tin hanya satu: ia tidak pernah mumpuni menjelaskan apa yang sesungguhnya dirasakan kepada siapapun, sehingga satu tahun kebelakang, Tin menjadi orang yang paling tidak terencana di muka bumi ini. Atau, katakanlah, muka bumi untuk dirinya sendiri.

    Ia berikan makanan paling bergizi untuk semua pikiran negatif dalam dirinya. Ia bahkan dengan mudahnya mampu menelan cepat pil tentang kenyataan dengan komposisi terbanyak. Buatnya kenyataan adalah ketidakjelasan paling hakiki.

    Setahun yang mengubah hidup Tin. Setahun sebelum akhirnya Tin ditampar dengan sangat keras oleh realita. Setahun bagi Yang Diatas untuk mengingatkan Tin bahwa ia masih manusia yang punya batasan.

    Tin kemudian berkenalkan dengan sebuah idiom bernama konsekuensi.

    Tin dibandrol konsekuensi–serta kenyataan–bahwa dirinya tidak bisa ia pegang dengan tangan sendiri. Ada satu Maha yang menentukan banyak hal dalam hidupnya: baik, buruk, bahagia, sedih, sehat, sakit. Tin dibuat berserah, dalam arti yang sesungguhnya.

    Suatu malam, ditengah kesesakan yang tidak terkira menyapa dirinya, Tin peluk satu-satunya hal yang bisa ia jadikan sandaran: dirinya sendiri. Ia dekap erat dirinya dengan airmata yang tidak mampu dihentikan. Momen itu, Tin meyakini bahwa hidup tidak lagi berada sepenuhnya ditangannya.

    Mendadak Tin ingat kata seseorang, “berserah…. berserah sesungguhnya tanpa punya tendensi untuk menyelipkan rencana apapun, selain rencana Tuhan.”

    Malam itu, tanpa bisa Tin hentikan, airmata adalah hal paling realistis yang bisa Tin yakin lakukan. Butuh sekitar lima jam sampai Tin bisa memberhentikan kekacauan jiwa yang membuat tetesan airmatanya terus mengalir.

    Tin ingat, diantara kumpulan tiga ratus menit itu, puluhan menit sempat membuat sebuah lintasan mengenai Tin dan kematian. Sempat ia bisikan kepada dirinya bahwa ia tidak sanggup. Ia tidak mampu, cenderung takut menghadapi semuanya.

    Akan tetapi, sebuah suara seperti berbisik di hatinya: “Coba lagi… kali ini bersama-Ku.”

    Hatinya menderas pun tangisnya menyadari bahwa ia tidak pernah sendiri. Tin tahu yang ia perlukan adalah menerima segalanya dengan lapang dada dan tidak memberi makan segala pikiran negatif yang menggantung. Tin tahu, hidupnya bukanlah tentang seberapa panjang, tetapi seberapa berserah ia kepada Yang Diatas.

    Tin menarik nafas, panjang. Bukan berat, tapi panjang. Dan sekali lagi, Tin coba berdiri diatas ketidakmungkinan, berserah kepada seluruh rencana buta yang tidak pernah dikisahkan padanya.

    Tin kali ini berserah kepada Yang Diatas.

  • Postcard Letter

    2.6

    Lama surat ini keluar, tepatnya puluhan hari sejak ulang tahun ke duapuluh enam terselenggara. Saya bahkan melewatkan momen menulis untuk diri saya di umur duapuluh lima tahun. Tidak ada yang berbeda, hanya banyak hal yang kemudian saya mengerti tidak bisa dituliskan secara gamblang melalui 26 aksara huruf. Banyak perasaan yang terlalu mendalam untuk kemudian dikisahkan dalam aksara dan paragraf.

    Atau saya yang bertransformasi menjadi manusia yang akan hilang dimasyarakat karena tidak menulis, menurut Pramoedya.