Mengapa, Akhirnya, Kita Menikah?

Married

Kemarin malam, saya bercakap-cakap dengan salah seorang teman sejak sekolah dasar, dimana salah satu percakapannya mengenai pernikahan. Dia sudah orang kesekian yang saya interogasi mengenai pernikahan, namun kali ini, bersama dia, ada jawaban berbeda yang sedikit menyejukan hati.

“Mengapa akhirnya, kamu memutuskan menikah bersama dia?” tanya saya.

Mata teman saya berkaca, seperti menahan tangis. Saya langsung mengasumsikan dia akan menjawab mengenai klise ‘saya sayang dia.’

“Lo kan tahu gue ini orangnya keras. Kalau menurut gue logikanya nggak ada, pasti gue akan stick kepada keputusan gue. Tapi, sama dia, dia mengerti gue.. Bukan karena mengalah sama kerasnya gue, tapi karena dia mengerti kenapa gue harus bersikap keras,” ujarnya, dengan mata berkaca. Tidak perlu penjelasan panjang lebar, saya tahu ada cinta yang besar, terpancar dari kilau matanya.

Malamnya, saya berpikir cukup lama mengenai hal pernikahan ini. Ada banyak momen tertentu yang membuat saya bertanya-tanya mengenai pernikahan, cenderung skeptis. Bertanya disini, diartikan sebagai mempertanyakan seberapa besar orang menghargai pernikahan.

Bukan isu baru mengenai banyak orang tidak devoted dengan pernikahan mereka. Tidak mengelompokannya menjadi wanita dan laki-laki, karena masalah komitmen bukanlah soal gender. Namun memang, akhirnya ini yang menjadi pertanyaan saya kedepannya: kenapa seseorang memutuskan menikah, kalau dia belum siap dengan komitmen seumur hidup yang harus dipenuhi dalam sebuah pernikahan?

“The problem is that we still treat marriage as a compulsory stage in life and, moreover, an achievement, a life goal.”
(Magdelene.co)

Saya melihat sekeliling yang sudah mengalami pernikahan dan bertanya-tanya dengan diri saya sendiri: seberapa siapkah mereka berada dalam pernikahan ketika mereka memutuskan menikah?

Kesiapannya hanya berdasarkan umur yang sudah beranjak tua, paksaan orang tua, hamil diluar pernikahan, atau karena kesiapan yang benar-benar muncul karena keyakinan atas pasangan mereka? Menjawab soal keyakinan, kemudian saya bertanya lagi, ketika mereka meyakini diawal bahwa mereka mampu berkontribusi seratus persen atas komitmen pernikahan mereka, mengapa kemudian akhirnya melepas kontribusi itu dan–kemudian–selingkuh atau “bermain” dengan orang lain?

Tidak, tidak. Saya tidak pernah mengalami itu. Saya belum menikah. Tapi, saya melihat banyak sekali contoh pernikahan yang satu sama lain tidak devoted atas pasangannya, dan beberapa diantaranya saya kenal dengan baik sejak kecil.

Disatu titik, saya belajar: yakin bahwa pasangan yang akan kita nikahi adalah jodoh merupakan keputusan sulit, menyiapkan pernikahaan nyatanyapun sulit, akan tetapi.. terus menjaga komitmen pernikahan adalah pembelajaran seumur hidup. Menikah adalah bukan mengenai kewajiban yang harus dipenuhi (atau life goal, kalau kata anak-anak jaman sekarang), akan tetapi sebuah tanggung jawab seumur hidup terhadap banyak aspek, salah satunya adalah (kedepannya, tentunya) anak.

“Being married to someone or being a parent is a huge responsibility that we owe others: our spouse and children. This is why, if one is not fully committed when entering a marriage or assuming the role of a parent, it will bring negative impacts to their family.”
(Magdelene.co)

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menjadi menikah, kemudian menjadi orang tua, lalu karena ketidaksiapan kemudian ‘merusak’ anak-anak yang dilahirkan karena ketidakmampuan menjaga komitmen atau tanggung jawab yang sudah diakusisi diawal.

Karena menikah sesungguhnya adalah indah, apabila dilakukan dengan orang yang tepat, diwaktu yang tepat.

Continue Reading

Memilih Mana: Cinta Pencipta atau Cinta Cinta?

lovedifferent

Bagi saya yang rajin menjadi pengunjung gereja setiap minggunya, judul diatas sungguh kontroversial. Pemeluk agama, siapapun mereka, pasti tanpa berpikir panjang akan menjawab lugas: “saya memilih mencinta Pencipta saya.” Jawaban berikut adalah lumrah; dimana menurut saya, sejatinya jawaban seperti apapun adalah lumrah. Saya bukan berkapasitas menilai benar atau salah atas pilihan orang lain.

Di Indonesia, fenomena seperti ini masih memiliki ketertarikan tersendiri. Seorang beragama, dalam budaya non-monokromatik agama, tanpa disengaja pasti bersinggungan terhadap manusia lain dengan perbedaan keyakinan. Lumrah. Yang (kurang) lumrah, setidaknya di Indonesia, adalah ketika harus menyadari bahwa “bersinggungan” tersebut memiliki kemungkinan menjadi cinta dan berpotensi berakhir kepada keinginan untuk komitmen seumur hidup alias menikah.

Nilai menikah berbeda agama masih sangat tabu di budaya Indonesia. Buat mereka, berbeda agama, berbeda suku, berbeda tata cara hidup. Ini tidak bisa diberikan nilai salah dan benar, karena memang ada beberapa keluarga yang saya kenal menikah berbeda agama berakhir kurang baik.

Jadi, mari kita persimpel perkata memilih ini menjadi proses menuju komitmen. Beberapa pasangan yang saya kenal berbeda agama, diwaktu awal berpacaran, kerap langsung memberikan aba-aba: “lo atau gue yang pindah?” Ini menjadi warning sign kalau kata lagu Coldplay, dimana menyebabkan beberapa memutuskan menyerah dan beberapa memutuskan melanjutkan hubungan tidak biasa ini (setidaknya, di Indonesia).

NAH, di hal ini sebenarnya yang agak menganggu saya.

Sejak kapan, kita diharuskan (sekaligus dimampukan) memilih cinta Pencipta dan cinta terhadap seseorang? Sejak kapan, kita yang sedari kecil tidak memiliki kemampuan untuk memilih apapun–bahasa lebih tidak anomalinya adalah takdir/nasib–diwajibkan memilih sesuatu yang sifatnya sama-sama abstrak?

Perkaranya akan semakin kompleks ketika akhirnya salah satu diantara dua orang itu memutuskan memilih mencinta cinta, tanpa mengerti benar pilihan yang mereka buat. Mencintai Pencipta (yang banyak orang Indonesia kenal sedari mereka di kandungan), walaupun bentuknya ‘gusuran’ agama orang tua, tetap memiliki nilai kuat pada diri seseorang. Ketika cinta cinta yang mereka pikir tepat berubah senyawa menjadi “tidak tepat”, pasti tindakan “kamu sih nyuruh aku pindah…” “lah kamu kenapa mau pindah..” akan menguap dan menjadi pertengkaran paling valid. Sisanya? Hanya kenangan.

Lagipula, sejak kapan kita diharuskan memilih Mencintai Pencipta atau Mecintai Cinta? Keduanya, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, abstrak. Sejak kapan manusia terjebak pada ego trap yang membuat mereka merasa diri mereka paling “baik”? Dan sejak kapan, cinta harus dibatas dengan budaya atau norma?

Pertanyaannya: bolehkah masalah ‘pilih-memilih’ ini diberikan waktu lebih dan sepasang menjalani proses yang ada, terlebih dahulu?

Saya dulu pernah berkata “buat apa menjalani hubungan yang tidak akan sampai ke titik pernikahan?” Ijinkan saya ralat menjadi: “buat apa menjalani hubungan yang berfokus kepada pernikahan, tanpa menyadari: kamu ingin menikah sesungguhnya atau karena kewajiban?

Karena seseorang pernah berbincang begini kepada saya:

Kalau gue disuruh pilih sama pasangan gue antara satu hal atau dia, gue pilih hal yang lain itu. Kenapa? Karena mencintai seseorang bisa selamanya, tidak perlu harus bersama, tidak perlu dalam ikatan. Mungkin gue masih naif sekali menjadikan cinta tetap abstrak, tapi harus diingat, wujud utama dan pertama cinta adalah abstrak.

Tulisan ini saya tutup dengan puisi seorang keturunan Tionghoa yang memiliki keberanian melawan arus bernama Gie. Walau akhirnya meninggal sendirian, ia, dengan segala ketakutan dan kesendirian merasa semuanya tetaplah indah. (setidaknya dari apa yang saya baca)

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
(Soe Hok Gie – Mandalawangi)

Selamat Hari Minggu.

Continue Reading

A Piece of Pray In Middle Year

Flower

In a deep mellow twilight in the late July, I put a little pray of you. I speak about you to my God and Allah at the same time. I said;

Dear God and Allah,

I think I fall too hard for someone I should not fall to. I think I cannot get rid him of my mind. And the worst thing is, I actually know that I should not to. I emphasize one more time, I-really-should-not-to.

But God, I know that You and Allah are not one, and so do us. We are humans with different race, religion, family background, and attitudes. He is not the man that I always dream of, and I am not his either. We do not walk on the same path, but in one or another time, we bump into each other in the middle intersection of our way. He is not the perfect one, but he completes me. We met, talked, planted, and grew our heart together. We cherished every single moment that we shared together.

Dear Allah, why are You so far away from me? And so does him.

I cannot help myself to not fall in love with him, Allah. I know that my God is angry, so do You. We are just two humans who are supposed to be together, but somehow the world wants us to, it lets us to. But we are in a distant part of the world, that everybody always blames and nobody understands. And at the end we are always the ones who get hurt most. So my question is, “why did You both bring us here though we could not be together?”

Dear God, all this time I never find the answer yet. However, what if I ask you, “why should I keep breathing though I know that one day you will take me away to Your side?”

It is too hard, God, Allah. I somehow cannot afford myself to leave him. We are just speck of dust within the galaxy, who travel the wrong time. I think, our love was too strong, but timing was wrong. So what should we do?

But in my deepest sorrow, I once asked You, God. I said;

“Don’t urge me to leave you or to turn back from you. Where you go I will go, and where you stay I will stay. Your people will be my people an your God my God.” – Ruth 1 : 16

 

Read in from here, the real writer is Eva Silviana.
I did little bit of revision, but still I stole the pieces from her. Enjoy.

Continue Reading

AADC 2: Film Yang Tidak Pernah Gagal Membuat Fenomena

AADC2-01

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Sebagai salah satu generasi era 90-an, film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu tolak ukur tingkat kegaulan seseorang pada jaman itu. Kala itu, saya masih SMP ketika menemukan sosok Rangga & Cinta; walau yang paling membuat saya terpesona adalah bagian puisi dan buku karya Chairil Anwar.

Bergulir era selama hampir 14 tahun, aura film ini nampak veteran di kalangan pecintanya. Terbukti ketika konfirmasi sekuel film ini muncul, euforia yang begitu hyper sangat terasa kental. Penonton membludak; fakta bahwa ada film Indonesia yang berhasil mengalahkan film luar tidak kalah fenomenal yakni Civil War, menjadi bukti paling otentik bahwa AADC2 ini hyper-euphoria.

Sesungguhnya, saya tidak ingin menuliskan banyak review buruk mengenai film ini. Kontemplasi sebelum akhirnya menulis review selama beberapa bulan kebelakang membuat saya memutuskan hanya menulis apa yang baik. Ini dikarenakan: ‘man, film Indonesia ngalahin Civil War, kapan lagi?’

Continue Reading

Mengenai Pernikahan

married

Terketuk saya membaca sebuah lafalan mengenai #somedayiwillgetmarried yang sempat booming beberapa waktu lalu di linimasa Path saya.

B8C7X3SIcAENZJx.jpg-large

Pernikahan merupakan sebuah momen yang mendadak begitu sering saya dengar frasanya. Salah satu alasan sederhana saja: umur saya kini bertransformasi menuju seperempat abad, sehingga menikah adalah budaya yang normal terjadi.

“Aku, kalau mau menikah mah gampang aja. Tinggal tunjuk cewek-cewek di kampung (pacar saya asli Garut, Bandung), terus ajak kawin. Tapi kan menikah nggak semudah itu.” – Pacar, mengenai pernikahan.

Belakangan ini dunia membuat tingkat pesimistis terhadap pernikahan melonjak tinggi. Saya melihat banyak perselingkuhan, baik hati ataupun fisik, yang membuat kepala menggeleng miris.

Saya melihat, kemudian menjadi takut; takut bahwa cinta akan berhenti ketika pernikahan ditanda-tangan untuk seumur hidup.

Pertanyaan saya kepada laki-laki yang, dengan sengaja, mendua hati selalu sama: kenapa tega dan kenapa berpaling? Jawaban mereka pun rata-rata sama: lelah, bosan, atau sudah terlanjur cinta dengan yang baru.

Cinta. Berani mereka sebut cinta, ketika “cinta” yang dulu mereka sebut kepada wanita pertama sudah habis dimakan keterbiasaan. Sebenarnya mungkin perkaranya hanya satu: seberapa jauh komitmen dan cinta melebur menjadi kesetiaan. Hm, saya ralat. Perkaranya ada dua: selain komitmen, mungkin memilih laki-laki yang dengan berani mempertahankan komitmen adalah poin penting.

Saya melihat banyak sahabat mengecap pernikahan, dimana… saya juga melihat, mereka yang menikah punya keinginan membara mengecap kebebasan berstatus tidak menikah. Paradoks yang cukup membuat hati ketar-ketir tidak karuan.

Saya tidak punya jawaban atas paradoks ini, karena faktanya, banyak juga pernikahan tanpa perselingkuhan. Saya, hanya, kadang-kadang takut menjadi pesimis.

Mungkin, tindakan paling bijaksana yang mampu dilakukan adalah jujur terhadap diri sendiri. Apakah laki-laki ini terbaik? Apakah pilihan ini yang paling benar? Apakah saya ‘melihat’ menggunakan hati dan logika? Apakah keputusan menikah hanya untuk menyenangkan orang lain? Apakah karena umur yang semakin menjepit?

Yang terpenting: Apakah ini cinta? (Yes, hanya cinta memang tidak mampu memberi makan. Tapi cinta adalah pondasi dasar. Beside, uang bisa hilang, cinta–pada dasarnya–tidak bisa hilang.)

Sore kemarin, dari samping, saya lihat wajah sang pacar yang terkena sinar matahari. Sambil melihatnya menyisip minuman dingin, saya perhatikan matanya yang sudah muncul keriput halus, rambutnya yang berantakan karena baru bangun tidur, hingga tangan kecilnya yang sedang mengetik tombol ponsel.

Sudah berapa bosan ia mendengar ketakutan ini; dari menanggapi, sampai diam kelelahan.

Semoga kamu penuh komitmen ya, biar nilai buruk laki-laki yang belakangan membuat saya pesimis berkurang jauh. 🙂 #somedaywewillgetmarried

Continue Reading
1 2 3 13