2.6

Lama surat ini keluar, tepatnya puluhan hari sejak ulang tahun ke duapuluh enam terselenggara. Saya bahkan melewatkan momen menulis untuk diri saya di umur duapuluh lima tahun. Tidak ada yang berbeda, hanya banyak hal yang kemudian saya mengerti tidak bisa dituliskan secara gamblang melalui 26 aksara huruf. Banyak perasaan yang terlalu mendalam untuk kemudian dikisahkan dalam aksara dan paragraf.

Atau saya yang bertransformasi menjadi manusia yang akan hilang dimasyarakat karena tidak menulis, menurut Pramoedya.

The Happy Pills

We met at the inadvertence of life and as usual, timing is always a bitch. We believe that our distinctions are the reason why we should follow life’s culture; as we know—culture in odd moment—killing everybody who are plainly live in it.

You are my happy pills. The one who can bring limitless happiness as my life runs in differences desire. Even at periodically, you spin too fast and I feel like I could literally die in your depth vortex; your thoughts, especially.

You are my happy pills. The one that could exactly convert every perception into some beautiful things and create contingent of restful atmosphere that can make me stay eternally.

You are my happy pills as we believe our togetherness are the only way to develop one another’s soul. We are, like, created to bring colour to one another’s spirit and stroll the world with our peculiar ego.

Nevertheless with that kind of specific relationship, we also realised, that pills have a grace period. We don’t know when, we don’t know how… but, when everything has reached the dead end, we can measure one thing: that happy pills leaves the hell of treasure we called happyness memories. And it’s a rare feeling people could delegate.

Mengunci Ingatan

Bandung, 2010

Di sebuah malam, menumpuk himpunan batangan PRO Mild pada asbak hijau toska, mengepul asap yang diikuti suara batuk-batuk kecil dari wanita berbalut kaos putih polos.

“Asap rokok kamu… Ganggu,” tegas sang wanita, ketus.

Laki-laki, si perokok batangan menenggok kecil dari fokus pandang utamanya: rokok, gitar, dan kertas, “kamu ngerokok-lah biar nggak keganggu sama asapnya.” Tercerai-berai kalimat itu, si laki-laki telak kena lempar bolpen dari wanita, diikuti gelak tawa keduanya.

“Kamu aneh,” laki-laki itu kembali melihat gitar dan kertasnya, sambil mengumam lanjut, “badan tatoan, rambut pendek cepak, minum bir udah kayak air putih.. tapi nggak ngerokok,”

You can’t get all in one package, darling…

Himalaya

Aku berdoa. Kamu berdoa. Kita sama-sama memanjatkan cinta kepada Pencipta lewat sebuah doa mengenai keinginan mencapai Himalaya.

Aku menua. Kamu menua. Kita berempati terhadap satu sama lain; terkadang melupa, bahwa cinta adalah substansi esensial dalam hidup. Bahwa cinta adalah kekuatan hakiki untuk mencapai puncak tertinggi di Himalaya.

Pertemuan kita berawal dari kesederhanaan kemudian menjadi segala keapaadaan. Pertemuan kita akhirnya mengajarkan cinta adalah sebuah uji daya perjuangan dengan cara yang berbeda-beda pada setiap orang.

Kita adalah Himalaya. Indah, namun sulit untuk dicapai sampai titik terakhirnya. Perjuangan mendaki Himalaya dinyatakan wajib dilalui oleh manusia-manusia yang profesional pada pendakian gunung.

Namun boleh kuingatkan sedikit: 1) profesional adalah terus berjuang mencapai objektivitas dan 2) sesusah itu mendaki Himalaya, keindahannya di akhir tidak tertandinggi oleh apapun.

Kita masing-masing adalah Himalaya. Kita memandang pada satu titik puncak tertinggi bersama warna pelangi yang berbaur dengan gunungan awan.

Sehingga, dengan seluruh perjalanan mencapai Himalaya yang sudah lumayan jauh untuk dilepas ini, bisakah kamu bayangkan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang;

Misalkan kita duduk bersama di sebuah teras rumah dengan halaman luas, ditemani siur angin pedesaan di pinggir daerah Bandung.

Misalkan kita berbagi cerita setiap malam, berargumentasi mengenai mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, ditemani dengan kicau deru suara jangkrik malam hari.

Misalkan kita berkeliling dunia, menikmati berbagai jenis kopi dengan dua orang anak kecil yang berteriak minta diberi perhatian.

Misalkan di suatu malam, kamu kesakitan, dan kita mengerti bahwa berdua adalah cara indah yang diberikan Tuhan pada setiap manusia dimuka bumi ini untuk saling menguatkan.

Pembayangan mengenai ini menjadi tenaga dan inspirasi yang tak pernah habis untuk terus bertahan, dengan segala kesalahan, dengan segala keindahan, dengan segala kesulitan, dengan segala tantangan.

Karena mendaki Himalaya bersamamu nampaknya menjadi mungkin. Semoga kamu-pun tidak menyerah untuk mendaki Himalaya bersamaku.

Photo Courtesy: Junebug Wedding

 

Memilih Mana: Cinta Pencipta atau Cinta Cinta?

Bagi saya yang rajin menjadi pengunjung gereja setiap minggunya, judul diatas pasti menjadi sungguh kontroversial. Pemeluk agama, siapapun mereka, pasti tanpa berpikir panjang akan menjawab lugas: “saya memilih mencinta Pencipta saya.” Jawaban berikut adalah lumrah; dimana menurut saya, sejatinya jawaban seperti apapun adalah lumrah. Saya bukan berkapasitas menilai benar atau salah atas pilihan orang lain.

Di Indonesia, fenomena seperti ini masih memiliki ketertarikan tersendiri. Seorang beragama, dalam budaya non-monokromatik agama, tanpa disengaja pasti bersinggungan terhadap manusia lain dengan perbedaan keyakinan. Lumrah. Yang (kurang) lumrah, setidaknya di Indonesia, adalah ketika harus menyadari bahwa “bersinggungan” tersebut memiliki kemungkinan menjadi cinta dan berpotensi berakhir kepada keinginan untuk komitmen seumur hidup alias menikah.