AADC 2: Film Yang Tidak Pernah Gagal Membuat Fenomena

Sebagai salah satu generasi era 90-an, film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu tolak ukur tingkat kegaulan seseorang pada jaman itu. Kala itu, saya masih SMP ketika menemukan sosok Rangga & Cinta; walau yang paling membuat saya terpesona adalah bagian puisi dan buku karya Chairil Anwar.

Bergulir era selama hampir 14 tahun, aura film ini nampak veteran di kalangan pecintanya. Terbukti ketika konfirmasi sekuel film ini muncul, euforia yang begitu hyper sangat terasa kental. Penonton membludak; fakta bahwa ada film Indonesia yang berhasil mengalahkan film luar tidak kalah fenomenal yakni Civil War, menjadi bukti paling otentik bahwa AADC2 ini hyper-euphoria.

Sesungguhnya, saya tidak ingin menuliskan banyak review buruk mengenai film ini. Kontemplasi sebelum akhirnya menulis review selama beberapa bulan kebelakang membuat saya memutuskan hanya menulis apa yang baik. Ini dikarenakan: ‘man, film Indonesia ngalahin Civil War, kapan lagi?’

Mengenai Pernikahan

Terketuk saya membaca sebuah lafalan mengenai #somedayiwillgetmarried yang sempat booming beberapa waktu lalu di linimasa Path saya.

B8C7X3SIcAENZJx.jpg-large

Pernikahan merupakan sebuah momen yang mendadak begitu sering saya dengar frasanya. Salah satu alasan sederhana saja: umur saya kini bertransformasi menuju seperempat abad, sehingga menikah adalah budaya yang normal terjadi.

“Aku, kalau mau menikah mah gampang aja. Tinggal tunjuk cewek-cewek di kampung (pacar saya asli Garut, Bandung), terus ajak kawin. Tapi kan menikah nggak semudah itu.” – Pacar, mengenai pernikahan.

Belakangan ini dunia membuat tingkat pesimistis terhadap pernikahan melonjak tinggi. Saya melihat banyak perselingkuhan, baik hati ataupun fisik, yang membuat kepala menggeleng miris.

Saya melihat, kemudian menjadi takut; takut bahwa cinta akan berhenti ketika pernikahan ditanda-tangan untuk seumur hidup.

Kecewa Itu (Sebenarnya) Tunggakan

Ini kali pertama saya merasakan kecewa tak tertahan; ingin dikeluarkan tapi tak mampu, tak ingin dikeluarkan akhirnya malah memakan sebagian emosi yang berujung tarikan nafas pada setiap waktu.

Saya jadi gatal mengutip kalimat Brad Warner:
“Disappointment is just the action of your brain readjusting itself to reality after discovering things are not the way you thought they where.”

Bahasa mudahnya: Kekecewaan adalah tindakan dari kepala kita untuk melakukan tindakan penyesuaian dengan sendirinya ketika mendapatkan sebuah keadaan berbeda dari ekspektasi alias gagal maning.

Belajar Mengeja Belajar

Sekali lagi saya belajar untuk menkaji kata belajar sekaligus mematahkan idiom bahwa hidup adalah lingkaran pelajaran yang membosankan. Nyatanya, pelajaran hidup tidak pernah habis dan itulah yang membuat berwarna.

Pada sebuah siang menyenangkan, ditengah hari libur dari penat pekerjaan, saya diharuskan menjaga hati (serta emosi) mendengar sebuah kejujuran dari seorang laki-laki berkepala tiga yang belakangan bertransformasi menjadi teman bincang menyenangkan.

“Jadi saya selingkuhan?” ujar saya tidak percaya, sembari menahan agar mata saya tidak mendelik lebar, sekaligus tangan agar tidak menepuk keras bahunya… atau tangannya… atau apapun dari tubuhnya yang mampu mentransfer emosi. Ia tidak menjawab dan hanya menarik nafas, panjang dan berat.

Fellexandro Ruby

Kata Fellexandro Ruby mengenai pendidikan di Indonesia:

Gue adalah produk yang hanya diajari untuk mengingat, menghafal, akan tetapi tidak untuk mengerti dan memahami. Gue dan generasi seangkatan didoktrin untuk menyimpan informasi tanpa mampu menghubungkan informasi tersebut dengan dunia nyata. Ini akhirnya membuat sebuah fenomena: mahasiswa fresh graduate yang lulus dan punya gelar tidak industry-fit.


Fellexandro Ruby atau yang lebih dikenal dengan @captainruby pada akun sosial medianya merupakan food enthusiasm dibalik Wanderbites. Pekerjaan utamanya adalah seorang Fotografer & Videographer di bidang makanan yang memiliki kecintaan lebih pada menulis.

Dalam wawancara untuk: KETIKA.co.id

Berhentikan Kereta Ini, Cukup Sekali Saja

Wajah itu selalu bertekun di balik layar komputer, membuat matanya tidak bisa melihat terlalu jauh, terlalu dekat, dan terlalu malam. Ia relakan seluruh waktu dalam hidupnya untuk menghidupi orang lain yang bukan dirinya sendiri. Ia dengan sederhana, namun berhasil secara utuh, mentransfer energi cinta dan positivas hidup dengan tanpa timpang mengajar betapa kerasnya hidup. Dan betapa kita harus kuat menghadapi semuanya.

Dengan umurnya yang tidak lagi muda, tanpa pernah mengeluh, ia emban terus tanggung jawab yang tertulis eksplisit di buku nikah. Tidak pernah ia nikmati kerja keras yang selama ini telah lakukan. Kota terjauh yang pernah ia sambangi adalah Manado—setidaknya, seingat saya. Dan tidak pernah sekalipun ia menginjak kaki keluar negeri.

Pernah saya bertanya mengenai kemana saja larinya uang yang selama ini ia cari. Ia hanya mesem dengan wajah menyebalkan seperti biasa. “Sekolah lu siapa yang bayar? Oma siapa yang jaga?” Tuturnya.

Tidak pernah seutuhnya saya mengerti makna kalimat itu sampai realita memaksa saya mengerti. Di pagi hari dalam mobil tuanya, ia meminta. Dengan suara lelah dan wajah penuh kerut, ia meminta. Itu pertama kali ia meminta, secara gamblang. Itu pertama kali ia bercerita mengenai umurnya yang tidak lagi muda dan sulitnya mencari uang di umur yang seharusnya sudah masuk usia pensiun.

Saat itu, saya hanya mampu terdiam. Seperti tertelan lubang hitam angkasa yang memberi nama sebagai pengertian.

Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak “kelapangdadaan” yang ia berikan untuk menghidupi saya. Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk memastikan saya bisa menempati rumah terbaik, teraman, ternyaman. Hari itu saya belajar, kasih tanpa pamrih yang keluar seorang laki-laki.