Sebagai salah satu generasi era 90-an, film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu tolak ukur tingkat kegaulan seseorang pada jaman itu. Kala itu, saya masih SMP ketika menemukan sosok Rangga & Cinta; walau yang paling membuat saya terpesona adalah bagian puisi dan buku karya Chairil Anwar.

Bergulir era selama hampir 14 tahun, aura film ini nampak veteran di kalangan pecintanya. Terbukti ketika konfirmasi sekuel film ini muncul, euforia yang begitu hyper sangat terasa kental. Penonton membludak; fakta bahwa ada film Indonesia yang berhasil mengalahkan film luar tidak kalah fenomenal yakni Civil War, menjadi bukti paling otentik bahwa AADC2 ini hyper-euphoria.

Sesungguhnya, saya tidak ingin menuliskan banyak review buruk mengenai film ini. Kontemplasi sebelum akhirnya menulis review selama beberapa bulan kebelakang membuat saya memutuskan hanya menulis apa yang baik. Ini dikarenakan: ‘man, film Indonesia ngalahin Civil War, kapan lagi?’

Sebuah benang merah yang memang layak diberikan kepada film ini adalah: fenomenal. Walau di satu sisi, film ini memberikan fakta menarik bahwa orang Indonesia itu anaknya iklan banget, ya. Saya berani jamin, setahun kedepan, kota wisata yang akan banyak dikunjungi adalah Jogjakarta dengan segala itinerary khas Cinta dan Rangga. Tidak hanya itu, orang-orang pasti mendadak familiar dengan Aan Mansyur, Eko Nugroho, sampai Ria Papermoon (dimana emang ini bagus banget!).

Dengan nilai-nilai seni yang dijunjung cukup tinggi, beberapa hal yang cukup ganggu (dan tidak tahan untuk tidak saya tuliskan) adalah ketika Cinta mendadak bersuara sangat puitis ketika bertemu Rangga di Jogjakarta. Padahal, dalam sebuah wawancara (Muvila Roundtable) antara Nicolas Saputra dan Dian Sastro, Dian nampak lafal dan normal menggunakan kalimat Indonesia jarang guna seperti “anomali.” Nicolas Saputra? Jangan ditanya.. Berkaprah di film Gie dan Drupadi membuat Nico nampak lebih lafal dan natural menjadi aktor puitis.

Masih perkara puisi.. Sepertinya Pablo Neruda akan jadi hits nomor dua setelah Aan Mansyur, yes?

Diakhirnya, AADC2 patut diberi empat jempol, walau penulis cerita cinta sekaliber Prima Rusdi agak bikin gagal paham dengan beberapa adegan yang too cheesy, too abege. Tapi, overall, AADC2 memang layak berada di jajaran film box office Indonesia dan dikatakan sebagai film fenomenal.

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *