Momentum

Awal Dari Sebuah Akhir

Selamat Pagi Manusia Keras Kepala,

Aku baca posting kamu, namun enggan berkomentar secara langsung. Dengan pengetahuan bahwa kamu kerap kali stalking tempat ini, aku jadi punya keyakinan bahwa cepat atau lambat, kamu tahu mengenai posting ini.

Menarik karena lewat satu (dan satu-satunya) post di blog-mu, aku ternyata mampu menemukan banyak “ternyata” yang kerap terlewat ketika kita bertatap muka.

Ternyata, tulisanmu tidak prematur, namun seperti kamu seadanya, tulisan itu terasa ‘berusaha’ indah. Namun tidak apa-apa, karena setiap orang punya egoisme dalam menulis dan itu lumrah.

Ternyata, apa yang kamu katakan mengenai kita itu seringkali benar. Ingat bahwa kamu pernah bilang kita ini terlalu sama dan aku pernah menolak? Kamu yang pertama kali memperkenalkan konsep soulmate, walau sampai sekarang aku tidak mampu berpijak pada kepercayaan ini. Namun, pada akhirnya, aku sadari kita ini sesungguhnya sama dengan pola pikir yang berbeda. Lewat tulisanmu, aku tidak bisa berpaling dari fakta–bahkan judul post-mu adalah salah satu judul novelku. Menyenangkan sekaligus mengerikan dalam satu linear waktu.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, dan kamu tahu jenis ketakutan seperti apa yang menghantui diriku. Kamu boleh marah, berkali kamu katakan kamu tidak sama… kamu tetap manusia.

Sekali aku dengar kamu bicara dengan teman baikku bagaimana harus menghadapiku. Aku hanya tersenyum tipis.

Tidak ada cara menghadapi manusia. Manusia adalah perkembangan paling dinamis yang pernah ada di muka bumi ini. Yang perlu kamu lakukan adalah jadi dirimu seada-adanya, biarkan hati manusia yang menilai. Kamu tidak bisa memaksakan banyak hal dalam satu waktu.

Aku mungkin wanita paling sulit diberikan adiksi bahagia, namun aku menghargai setiap titik kecil tindakan. Aku pengamat–dimana kamu mungkin sudah tahu itu–dan kamu adalah objek amatan-ku paling tinggi nilainya. Setidaknya untuk saat ini.

Aku lebih dari sekedar posting blog, kalau boleh menambahkan.

Mari kita bangun semuanya, dari seada-adanya sampai kembali ke seada-adanya.

Jadi sekarang… Mari ke Ubud. Mari ke Singapore. Mari ke Pantai. Mari ke Disneyland. Mari mendekati mimpi kita.

Share With Your Loved One:

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.