Belajar Mengeja Belajar

Sekali lagi saya belajar untuk menkaji kata belajar sekaligus mematahkan idiom bahwa hidup adalah lingkaran pelajaran yang membosankan. Nyatanya, pelajaran hidup tidak pernah habis dan itulah yang membuat berwarna.

Pada sebuah siang menyenangkan, ditengah hari libur dari penat pekerjaan, saya diharuskan menjaga hati (serta emosi) mendengar sebuah kejujuran dari seorang laki-laki berkepala tiga yang belakangan bertransformasi menjadi teman bincang menyenangkan.

“Jadi saya selingkuhan?” ujar saya tidak percaya, sembari menahan agar mata saya tidak mendelik lebar, sekaligus tangan agar tidak menepuk keras bahunya… atau tangannya… atau apapun dari tubuhnya yang mampu mentransfer emosi. Ia tidak menjawab dan hanya menarik nafas, panjang dan berat.

Namun sepertinya semesta ingin mengingatkan saya mengenai hukum keseimbangan: kita tidak bisa selamanya bahagia, tanpa mengenal rasa ketidaknyamanan.

Hari itu, kami memang sedang menghabiskan hari libur bersama. Hari itu, mendadak ia menepati salah satu janji tertunda: membawa mawar merah. Hari itu, kami habiskan waktu dengan mengeja tawa. Hari itu, seharusnya indah.

Hari itu, semesta mengajarkan bahwa kejujuran bisa memberikan rasa menyakitkan apabila didengarkan pada waktu yang tidak semestinya.

“Saya lepas dia, saya lepas dia demi kamu…”

Satu frasa yang harusnya mampu meluluhkan hati, namun nyatanya, malah memberi nyeri tiada terperi. Saya seperti ditendang ke galaksi dengan hanya diberi nafas melalui tabung oksigen berukuran 600 mililiter. Sakit dan mendadak ingin menenggelamkan diri ke pelosok terdalam semesta.

Namun, untuk sebuah alasan yang saya tidak mengerti, saya tidak mampu membakar amarah sampai ke puncak, kemudian bertransformasi jadi mad woman. Saya hanya terdiam; saya tertelan kekecewaan yang mencengkram tiada henti. Saya teringat sebuah kalimat yang pernah terlintas lalu ketika membuka Pinterest: “One of the worst feeling in the world is having to doubt something you thought was unquestionable.

Dan hari itu saya belajar…. saya belajar untuk mengerti bahwa cinta dan manusia — sampai saat ini — adalah terumit untuk dipelajari. Hati memiliki nyawa yang tidak bisa terlihat lewat logika, namun kadangkala, hati sudah terlalu lelah dimakan logika. Saya belajar memberikan kesempatan kedua, tanpa berharap tidak akan mengalami fase “belajar” hal lain lagi.

Karena sesungguhnya hidup adalah belajar mengeja proses belajar.

Cerita Seorang Teman Pagi Ini
Pizza E BirraKarawaci

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *