Momentum

Berdamai Dengan Kekalahan

“This is not the end, this is not even the beginning of the end, this is just perhaps the end of the beginning.”
― Winston Churchill

Saya teringat ketika kecil, mungkin umur saya masih menginjak angka 7 atau 8 tahun. Kala itu, ada satu brand cokelat asal Jepang yang terkenal karena multirasa dan packaging yang lucu–setidaknya untuk anak seumuran saya.

Sudah seringkali saya meminta kepada orang tua untuk dibelikan cokelat itu. Keduanya selalu menolak dengan alasan akan memicu sakit gigi. Saya menerima. Awalnya.

Sampai ketika saya diajak belanja bulanan dan menemukan cokelat itu ketika sedang berdiri di antrian kasir. Ketika itu saya segera tahu bahwa kesempatan untuk mendapatkan apa yang saya impikan sedari dulu sudah sangat dekat.

Saya menarik baju Ayah, bercerita mengenai betapa banyaknya anak-anak seumuran saya bercerita mengenai cokelat itu. Ayah namun tetap pada keputusannya. Dia tidak mau membiarkan saya mencoba cokelat itu.

Akhirnya, satu-satunya cara yang saya lakukan adalah melakukan tindakan bodoh. Saya menangis sekencang-kencangnya. Meraung-raung seakan cokelat itu adalah hal terakhir yang saya inginkan di muka bumi ini.

Saya lupa Ayah adalah sosok yang keras. Saya tetap tidak mendapatkan apa-apa.

Pada hari itu, saya belajar dua hal: Pertama, bagaimana pun saya meminta, apabila bukan jatahnya, saya tetap tidak akan bisa mendapatkannya. Kedua, how you ask is counted. Kalau kala itu saya minta dengan baik-baik, mungkin chance untuk mendapatkan cokelat masih besar.

Kalau boleh digambarkan, mungkin keadaan Jakarta–bahkan, Indonesia–kini sedang diposisi saya ketika umur 7 atau 8 tahun. Ada mereka yang tidak rela ketika menyadari bukan jatahnya untuk naik ke kursi kepresidenan. Ego anak kecil mendadak muncul karena keinginan yang mulai berkembang menjadi obsesi.

Obsesi menjadi presiden.

Seyogyanya, apabila beliau adalah satuan TNI yang belajar lebih banyak mengenai ‘kalah’ dan ‘menang’, biarkan hari ini terjadi bukan dengan orasi massa di Bundaran HI atau mundur dari kepresidenan, melainkan ucapan selamat atas kemenangan yang telah dicapai lawannya.

Karena dari hal cokelat itu saya belajar, berdamai dengan kekalahan adalah keindahan. Saya akhirnya tahu, cokelat itu memiliki bahan pewangi buatan sehingga wanginya tahan lama.

Well.. memang sih gagal jadi presiden tidak se-‘murah’ gagal beli cokelat. Tapi setidaknya, saya belajar berdamai dengan kekalahan.

(Ditulis karena lelah dengan kanal berita yang membahas mengenai Pengumuman Presiden. Tidak memihak kepada siapa-siapa. Hanya melihat fakta.)
Share With Your Loved One:

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.