Momentum Archive

  • Tin Dan Ketidakmungkinan

    Namanya Tin dan ia adalah manusia paling terencana yang ada di muka bumi ini.

    Namun setahun terakhir adalah transisi tersulit baginya. Tin menemukan sisi implusifnya begitu mendominasi. Sulit untuk menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya, namun seluruh implusivitas itu seringkali ia lakukan untuk membenarkan apa yang terdeskripsi di kepala. Kesalahan Tin hanya satu: ia tidak pernah mumpuni menjelaskan apa yang sesungguhnya dirasakan kepada siapapun, sehingga satu tahun kebelakang, Tin menjadi orang yang paling tidak terencana di muka bumi ini. Atau, katakanlah, muka bumi untuk dirinya sendiri.

    Ia berikan makanan paling bergizi untuk semua pikiran negatif dalam dirinya. Ia bahkan dengan mudahnya mampu menelan cepat pil tentang kenyataan dengan komposisi terbanyak. Buatnya kenyataan adalah ketidakjelasan paling hakiki.

    Setahun yang mengubah hidup Tin. Setahun sebelum akhirnya Tin ditampar dengan sangat keras oleh realita. Setahun bagi Yang Diatas untuk mengingatkan Tin bahwa ia masih manusia yang punya batasan.

    Tin kemudian berkenalkan dengan sebuah idiom bernama konsekuensi.

    Tin dibandrol konsekuensi–serta kenyataan–bahwa dirinya tidak bisa ia pegang dengan tangan sendiri. Ada satu Maha yang menentukan banyak hal dalam hidupnya: baik, buruk, bahagia, sedih, sehat, sakit. Tin dibuat berserah, dalam arti yang sesungguhnya.

    Suatu malam, ditengah kesesakan yang tidak terkira menyapa dirinya, Tin peluk satu-satunya hal yang bisa ia jadikan sandaran: dirinya sendiri. Ia dekap erat dirinya dengan airmata yang tidak mampu dihentikan. Momen itu, Tin meyakini bahwa hidup tidak lagi berada sepenuhnya ditangannya.

    Mendadak Tin ingat kata seseorang, “berserah…. berserah sesungguhnya tanpa punya tendensi untuk menyelipkan rencana apapun, selain rencana Tuhan.”

    Malam itu, tanpa bisa Tin hentikan, airmata adalah hal paling realistis yang bisa Tin yakin lakukan. Butuh sekitar lima jam sampai Tin bisa memberhentikan kekacauan jiwa yang membuat tetesan airmatanya terus mengalir.

    Tin ingat, diantara kumpulan tiga ratus menit itu, puluhan menit sempat membuat sebuah lintasan mengenai Tin dan kematian. Sempat ia bisikan kepada dirinya bahwa ia tidak sanggup. Ia tidak mampu, cenderung takut menghadapi semuanya.

    Akan tetapi, sebuah suara seperti berbisik di hatinya: “Coba lagi… kali ini bersama-Ku.”

    Hatinya menderas pun tangisnya menyadari bahwa ia tidak pernah sendiri. Tin tahu yang ia perlukan adalah menerima segalanya dengan lapang dada dan tidak memberi makan segala pikiran negatif yang menggantung. Tin tahu, hidupnya bukanlah tentang seberapa panjang, tetapi seberapa berserah ia kepada Yang Diatas.

    Tin menarik nafas, panjang. Bukan berat, tapi panjang. Dan sekali lagi, Tin coba berdiri diatas ketidakmungkinan, berserah kepada seluruh rencana buta yang tidak pernah dikisahkan padanya.

    Tin kali ini berserah kepada Yang Diatas.

  • Protected: Rumah Tua Kedua

    This content is password protected. To view it please enter your password below:

    Enter your password to view comments.
  • Memilih Mana: Cinta Pencipta atau Cinta Cinta?

    Bagi saya yang rajin menjadi pengunjung gereja setiap minggunya, judul diatas pasti menjadi sungguh kontroversial. Pemeluk agama, siapapun mereka, pasti tanpa berpikir panjang akan menjawab lugas: “saya memilih mencinta Pencipta saya.” Jawaban berikut adalah lumrah; dimana menurut saya, sejatinya jawaban seperti apapun adalah lumrah. Saya bukan berkapasitas menilai benar atau salah atas pilihan orang lain.

    Di Indonesia, fenomena seperti ini masih memiliki ketertarikan tersendiri. Seorang beragama, dalam budaya non-monokromatik agama, tanpa disengaja pasti bersinggungan terhadap manusia lain dengan perbedaan keyakinan. Lumrah. Yang (kurang) lumrah, setidaknya di Indonesia, adalah ketika harus menyadari bahwa “bersinggungan” tersebut memiliki kemungkinan menjadi cinta dan berpotensi berakhir kepada keinginan untuk komitmen seumur hidup alias menikah.

    Continue Reading…

  • Mengenai Pernikahan

    Terketuk saya membaca sebuah lafalan mengenai #somedayiwillgetmarried yang sempat booming beberapa waktu lalu di linimasa Path saya.

    B8C7X3SIcAENZJx.jpg-large

    Pernikahan merupakan sebuah momen yang mendadak begitu sering saya dengar frasanya. Salah satu alasan sederhana saja: umur saya kini bertransformasi menuju seperempat abad, sehingga menikah adalah budaya yang normal terjadi.

    “Aku, kalau mau menikah mah gampang aja. Tinggal tunjuk cewek-cewek di kampung (pacar saya asli Garut, Bandung), terus ajak kawin. Tapi kan menikah nggak semudah itu.” – Pacar, mengenai pernikahan.

    Belakangan ini dunia membuat tingkat pesimistis terhadap pernikahan melonjak tinggi. Saya melihat banyak perselingkuhan, baik hati ataupun fisik, yang membuat kepala menggeleng miris.

    Saya melihat, kemudian menjadi takut; takut bahwa cinta akan berhenti ketika pernikahan ditanda-tangan untuk seumur hidup.

    Continue Reading…

  • Kecewa Itu (Sebenarnya) Tunggakan

    Ini kali pertama saya merasakan kecewa tak tertahan; ingin dikeluarkan tapi tak mampu, tak ingin dikeluarkan akhirnya malah memakan sebagian emosi yang berujung tarikan nafas pada setiap waktu.

    Saya jadi gatal mengutip kalimat Brad Warner:
    “Disappointment is just the action of your brain readjusting itself to reality after discovering things are not the way you thought they where.”

    Bahasa mudahnya: Kekecewaan adalah tindakan dari kepala kita untuk melakukan tindakan penyesuaian dengan sendirinya ketika mendapatkan sebuah keadaan berbeda dari ekspektasi alias gagal maning.

    Continue Reading…

  • Belajar Mengeja Belajar

    Sekali lagi saya belajar untuk menkaji kata belajar sekaligus mematahkan idiom bahwa hidup adalah lingkaran pelajaran yang membosankan. Nyatanya, pelajaran hidup tidak pernah habis dan itulah yang membuat berwarna.

    Pada sebuah siang menyenangkan, ditengah hari libur dari penat pekerjaan, saya diharuskan menjaga hati (serta emosi) mendengar sebuah kejujuran dari seorang laki-laki berkepala tiga yang belakangan bertransformasi menjadi teman bincang menyenangkan.

    “Jadi saya selingkuhan?” ujar saya tidak percaya, sembari menahan agar mata saya tidak mendelik lebar, sekaligus tangan agar tidak menepuk keras bahunya… atau tangannya… atau apapun dari tubuhnya yang mampu mentransfer emosi. Ia tidak menjawab dan hanya menarik nafas, panjang dan berat.

    Continue Reading…