The Happy Pills

We met at the inadvertence of life and as usual, timing is always a bitch. We believe that our distinctions are the reason why we should follow life’s culture; as we know—culture in odd moment—killing everybody who are plainly live in it.

You are my happy pills. The one who can bring limitless happiness as my life runs in differences desire. Even at periodically, you spin too fast and I feel like I could literally die in your depth vortex; your thoughts, especially.

You are my happy pills. The one that could exactly convert every perception into some beautiful things and create contingent of restful atmosphere that can make me stay eternally.

You are my happy pills as we believe our togetherness are the only way to develop one another’s soul. We are, like, created to bring colour to one another’s spirit and stroll the world with our peculiar ego.

Nevertheless with that kind of specific relationship, we also realised, that pills have a grace period. We don’t know when, we don’t know how… but, when everything has reached the dead end, we can measure one thing: that happy pills leaves the hell of treasure we called happyness memories. And it’s a rare feeling people could delegate.

Mengunci Ingatan

Bandung, 2010

Di sebuah malam, menumpuk himpunan batangan PRO Mild pada asbak hijau toska, mengepul asap yang diikuti suara batuk-batuk kecil dari wanita berbalut kaos putih polos.

“Asap rokok kamu… Ganggu,” tegas sang wanita, ketus.

Laki-laki, si perokok batangan menenggok kecil dari fokus pandang utamanya: rokok, gitar, dan kertas, “kamu ngerokok-lah biar nggak keganggu sama asapnya.” Tercerai-berai kalimat itu, si laki-laki telak kena lempar bolpen dari wanita, diikuti gelak tawa keduanya.

“Kamu aneh,” laki-laki itu kembali melihat gitar dan kertasnya, sambil mengumam lanjut, “badan tatoan, rambut pendek cepak, minum bir udah kayak air putih.. tapi nggak ngerokok,”

You can’t get all in one package, darling…

Himalaya

Aku berdoa. Kamu berdoa. Kita sama-sama memanjatkan cinta kepada Pencipta lewat sebuah doa mengenai keinginan mencapai Himalaya.

Aku menua. Kamu menua. Kita berempati terhadap satu sama lain; terkadang melupa, bahwa cinta adalah substansi esensial dalam hidup. Bahwa cinta adalah kekuatan hakiki untuk mencapai puncak tertinggi di Himalaya.

Pertemuan kita berawal dari kesederhanaan kemudian menjadi segala keapaadaan. Pertemuan kita akhirnya mengajarkan cinta adalah sebuah uji daya perjuangan dengan cara yang berbeda-beda pada setiap orang.

Kita adalah Himalaya. Indah, namun sulit untuk dicapai sampai titik terakhirnya. Perjuangan mendaki Himalaya dinyatakan wajib dilalui oleh manusia-manusia yang profesional pada pendakian gunung.

Namun boleh kuingatkan sedikit: 1) profesional adalah terus berjuang mencapai objektivitas dan 2) sesusah itu mendaki Himalaya, keindahannya di akhir tidak tertandinggi oleh apapun.

Kita masing-masing adalah Himalaya. Kita memandang pada satu titik puncak tertinggi bersama warna pelangi yang berbaur dengan gunungan awan.

Sehingga, dengan seluruh perjalanan mencapai Himalaya yang sudah lumayan jauh untuk dilepas ini, bisakah kamu bayangkan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang;

Misalkan kita duduk bersama di sebuah teras rumah dengan halaman luas, ditemani siur angin pedesaan di pinggir daerah Bandung.

Misalkan kita berbagi cerita setiap malam, berargumentasi mengenai mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, ditemani dengan kicau deru suara jangkrik malam hari.

Misalkan kita berkeliling dunia, menikmati berbagai jenis kopi dengan dua orang anak kecil yang berteriak minta diberi perhatian.

Misalkan di suatu malam, kamu kesakitan, dan kita mengerti bahwa berdua adalah cara indah yang diberikan Tuhan pada setiap manusia dimuka bumi ini untuk saling menguatkan.

Pembayangan mengenai ini menjadi tenaga dan inspirasi yang tak pernah habis untuk terus bertahan, dengan segala kesalahan, dengan segala keindahan, dengan segala kesulitan, dengan segala tantangan.

Karena mendaki Himalaya bersamamu nampaknya menjadi mungkin. Semoga kamu-pun tidak menyerah untuk mendaki Himalaya bersamaku.

Photo Courtesy: Junebug Wedding

 

Universe

I am sitting in my favourite coffee shop, listening to Coldplay’s song, remembering about things while my half-desktop running for Criminal Minds. I like the movie a lot.

Not like the other day, my mind isn’t focus on the movie. There are a lot of things in my head, running like it’s the marathon route when actually it’s not. As always, I have this unspeakable question to myself; a questions I always keep asking and reminding.

I don’t know since when I have no capacity to talk about what’s on my mind. I see (too many) people passed by in my life when most of them are a blessing & important. Strange is, I can’t see myself show them how important they are to me. I abandon them. My ability to trust people fall down. I biased to see towards people.

No one’s fault but mine.

Perjalanan Rasa

“Books are the plane, and the train, and the road. They are the destination, and the journey. They are home.” (Anna Quindlen)

“Kemana kamu akan pergi?”

“Rumah.”

“Rumah? Kamu tidak seperti orang yang ingin pulang ke rumah.”

“Maksudnya?”

I’m not American, I’m Chinese. But I’ve been staying here (America) for ten years. This is where I belong to be. Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.
(Life Traveler, Windy Ariestanty)

Pengejar Matahari

Mereka adalah pengejar matahari. Namanya bermacam-macam, jenis kelaminnya pun bisa perempuan atau laki-laki. Mereka semua acapkali ditemukan sedang duduk-duduk di pinggir pantai, menunggu matahari yang datang atau pulang kembali ke tempatnya.

Sayangnya mereka jarang berbicara satu sama lain. Nampaknya sepi adalah teman baik para pengejar matahari, dan mereka begitu nyaman berbagi hening.

Di pinggir pantai, para pengejar matahari berbagi tempat dengan mereka para penikmat senja, pecinta biru laut, atau dengan mereka yang hanya duduk-duduk di pinggir pantai tanpa bisa diberi julukan.