2.6

Lama surat ini keluar, tepatnya puluhan hari sejak ulang tahun ke duapuluh enam terselenggara. Saya bahkan melewatkan momen menulis untuk diri saya di umur duapuluh lima tahun. Tidak ada yang berbeda, hanya banyak hal yang kemudian saya mengerti tidak bisa dituliskan secara gamblang melalui 26 aksara huruf. Banyak perasaan yang terlalu mendalam untuk kemudian dikisahkan dalam aksara dan paragraf.

Atau saya yang bertransformasi menjadi manusia yang akan hilang dimasyarakat karena tidak menulis, menurut Pramoedya.

Berhentikan Kereta Ini, Cukup Sekali Saja

Wajah itu selalu bertekun di balik layar komputer, membuat matanya tidak bisa melihat terlalu jauh, terlalu dekat, dan terlalu malam. Ia relakan seluruh waktu dalam hidupnya untuk menghidupi orang lain yang bukan dirinya sendiri. Ia dengan sederhana, namun berhasil secara utuh, mentransfer energi cinta dan positivas hidup dengan tanpa timpang mengajar betapa kerasnya hidup. Dan betapa kita harus kuat menghadapi semuanya.

Dengan umurnya yang tidak lagi muda, tanpa pernah mengeluh, ia emban terus tanggung jawab yang tertulis eksplisit di buku nikah. Tidak pernah ia nikmati kerja keras yang selama ini telah lakukan. Kota terjauh yang pernah ia sambangi adalah Manado—setidaknya, seingat saya. Dan tidak pernah sekalipun ia menginjak kaki keluar negeri.

Pernah saya bertanya mengenai kemana saja larinya uang yang selama ini ia cari. Ia hanya mesem dengan wajah menyebalkan seperti biasa. “Sekolah lu siapa yang bayar? Oma siapa yang jaga?” Tuturnya.

Tidak pernah seutuhnya saya mengerti makna kalimat itu sampai realita memaksa saya mengerti. Di pagi hari dalam mobil tuanya, ia meminta. Dengan suara lelah dan wajah penuh kerut, ia meminta. Itu pertama kali ia meminta, secara gamblang. Itu pertama kali ia bercerita mengenai umurnya yang tidak lagi muda dan sulitnya mencari uang di umur yang seharusnya sudah masuk usia pensiun.

Saat itu, saya hanya mampu terdiam. Seperti tertelan lubang hitam angkasa yang memberi nama sebagai pengertian.

Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak “kelapangdadaan” yang ia berikan untuk menghidupi saya. Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk memastikan saya bisa menempati rumah terbaik, teraman, ternyaman. Hari itu saya belajar, kasih tanpa pamrih yang keluar seorang laki-laki.

Percakapan Sore Hari: Mengenai Bertemu Inspirasi

(Yang katanya dan sering dibicarakan dengan) Semesta,

Selamat pagi.

Terima kasih atas inspirasi tanpa batas sore hari lalu.

Sore di hari lalu, berbatasan dengan kopi hitam dan pencinta kopi yang kebingungan memesan kopi jenis apa di Starbucks, saya mengalami percakapan sore hari yang begitu menyenangkan di atas semesta ini.

Percakapan sore hari lalu seperti sebuah kumpulan inspirasi tak berbatas, namun memiliki nyawa yang sangat terintegrasi dengan jiwa. Percakapan sore hari lalu seperti sebuah oase ditengah kelelahan mencari inspirasi dan berbicara dengan bobot tinggi mengenai apapun.

Percakapan sore hari lalu mengingatkan saya mengenai wejangan jurnalis masa lalu. Katanya, menulis harus menggunakan mata subjektif dan, untuk sekali ini, kata “subjektif” membuat saya takut. Ketakutan terbesar saya adalah menjadikannya “terlalu-tidak-manusia” dan memberikan parafrase indah agar pembaca bisa turut merasakan betapa magical-nya percakapan sore hari yang begitu menginspirasi. Saya takut tidak menjabarkan fakta, melainkan fiksi-asumsi yang sudah mengawang di kepala sejak 15 menit percakapan dimulai.

2.4

Ini mungkin akan jadi kegiatan rutin.

Namun, tepat setahun lalu, saya menulis surat ulang tahun kepada diri sendiri di umur 23, disini. Entah saya yang memang pada dasarnya melodramatik atau karena keadaan simpel sedang tidak bersahabat, saya kabur… kabur, dan untuk pertama kalinya memilih berganti hari ulang tahun di Bandung. Satu kota yang hanya memakan waktu maksimal empat jam dari Jakarta, namun untuk satu alasan yang tidak tahu mengapa, terasa begitu bersahabat.

Alasan saya kabur sebenarnya sungguh sederhana. Tahun ini, saya merasa menjadi manusia paling bodoh yang pernah ada dan tercipta di muka bumi. Me-recall apa yang menjadi doa saya di tahun lalu: “Semoga saya bisa berdiri sampai angka 2 bertemu angka 4 dan mengkisahkan satu cerita hidup tentang cinta yang selama ini saya cari.”

Mungkin, doa ini berkontribusi paling maksimal atas segala kebodohan, ketidaklogisan pikiran yang memamahbiah sejak saya berada di umur 23 tahun. Ketakutan, ketidakpercayaan, ketidakmampuan untuk jujur dengan diri sendiri, serta keinginan kuat menyenangkan orang terdekat adalah permasalahan utama saya. Masalahnya saya terkadang lupa: orang terdekat diri saya, adalah diri saya sendiri.

Friendship Playlist – Playlist Music Share With My Music Soulmate

Happiness is, when we found our music-soulmate, a loved ones who always have that “same pleasure” when you both talk about music. The weirdest, the loudest, the un-populer… so many things and you just enjoy the convo.

One of my music soulmate, a friend since I was in college, sent me her must-listen music list. It’s quite fun–and memorable moment–because she’s in Bandung while I’m in Jakarta. It’s like, we share some personal music-memory-journey thru–I fuckin’ don’t know– 100 KM aparts?

Birthday Letter To You

Happy Birthday.

Write this on August, 13th 2014.

I write the letter a month before your birthday—actually, a day after we fight a lot about whom I should date; about how bastard you think a man who’s close to me right now.

Also, I write this while listen The Smiths’ song, a Morrisey one, Back To The Old House.

Not so sudden, it occur me. After all, whoever I date or marry, I guess you are my old house; the one that stay true and real. The one I can always turn back, over and over again, whatever the conditions.

Happy Birthday… That’s all I want to say to you. I don’t know how we make this friendship work, but we make it anyway.