2.3

Tepat satu tahun lalu saya menulis begini, disini:

“Dan ini doa seumur hidup saya: semoga saya bisa berdiri sampai angka 2 bertemu dengan angka 3 dan menghasil satu kejadian magis di dalam hidup saya.”

Hari ini, saya kembali bertambah umur, menyatukan angka 2 juga 3 dalam satuan linear berbanding lurus.

Hari ini, tepat setahun lalu, saya belajar untuk membangun dinding dengan sesama; berusaha detach agar tidak merasa tersakiti….namun tidak berhasil karena saya kembali diingatkan, belajar, dan didekatkan dengan satu kegiatan yang paling tidak bisa saya lakukan: percaya kepada manusia. Untuk kali ini, saya menyerah dalam kekuatan suatu refleksi jiwa bernama kata hati.

Surat Kepada Dia Yang Membuat Saya Jatuh Cinta Kepada Toko Kopi

Selamat malam,

Ditengah cuaca dingin yang berhembus sepanjangan sore ini, saya akhirnya kembali menikmati waktu dengan satu coffee shop favorit dibilangan Serpong, Tangerang. Sudah berkali-kali memang saya ke tempat itu–tapi bukan untuk duduk dan berdialog dengan diri sendiri, melainkan bekerja.

Kali ini, sambil menunggu janji buka puasa bersama teman kantor yang sudah resign, saya memiliki kesempatan untuk duduk dan bercengkrama dengan suara hati. Pun melamun.

Sungguh, tidak ada yang salah dengan melamun. Ia adalah bagian dari aktualisasi diri, setidaknya menurut saya begitu.

Saya sesungguhnya tidak berpikir mengenai dia sampai sebuah lagu dari Landon Pigg yang berjudul “Falling In Love at The Coffee Shop” teralun samar-samar ke pendengaran. Tidak bisa berdalih, saya meletakan buku The Happiness Project yang sedang dibaca dan akhirnya masuk dalam sebuah jalur panjang di salah satu bagian otak bernama memori.

This Is When You Realized You Madly In Love With Stranger That Became An Important Stranger For You

Let’s say, this whole post will describe how much in love I am now. It’s contain many cheesy line would make you vomit. If you can’t handle a girl who’s in love, I warned you, stop reading. But if you want to find a little piece of trust with love, keep going on.

Halo kamu manusia yang penuh dengan cinta, apa kabar? Sudah hampir menuju setahun sejak saya pertama kali memutuskan menulis mengenai kamu.

Saya kangen kamu, walau baru beberapa jam sebelum post ini ditulis, kamu menemani saya berbagi pagi dengan segelas kopi Starbucks bekasan kemarin dan kamu dengan sarapan khas Persian.

Saya kangen kamu, walau baru beberapa jam sebelum post ini ditulis, kamu sedang sibuk memarahi saya dan kebiasaan meminum kopi yang akhirnya membuat saya jadi nokturnal.

Saya kangen kamu, walau lusa kemarin kita bertengkar karena saling menyalahkan mengenai jaringan internet siapa yang jelek; kamu atau saya, kemudian kamu memutuskan untuk mengalah dan memasang alat tambahan guna mengurangi freezing picture di Skype.

Thank You For The Sky

So, today was … awesome. Or can I called today with the best Saturday I’ve had until now? I can, I guess. Remember, I once told you that happiness is a state of mind? Remember that I told you before about being happy is simple? I got a prove today.

I, maybe, a very cheesy girl who really loves something related with nature. I can drop a tears only because I see a big rainbow after the rain. I feel so happy when I can spend a lot of night see the sky is full of stars. Mostly, everything about nature can make me happy.

And today, I got a very (lemme say) early present for my next birthday. I got sky; a very deep, blue, cottony sky from Houston, Texas. I know it’s cheesy, I know it’s so weird, but for me, this is the best thing that someone gave to me. Ever.

Why suddenly that people come up with sky? So, at our chat, I once said I really wanna see a sky from where he lives which is Houston, Texas. He said he can’t go outside and bring the video camera to lively record the sky, so he suggest to give me the sky I want to see in other way, which is video or photo.

So, the next day after that chat, I asked him, ‘where is my sky?’ but (I think) he forgot about it. Today, suddenly he come up and sent me those 42 files. I really no have idea what he sent, because the last thing he sent to me was his own photo …. which is a very freak boy with broken teeth and blood covered his face. All around his face.

…..Because I thought he wants to fool me again, I’m not expecting something good from all those 42 files.

And when I opened it, look what I got… a very cottony sky from Texas. It makes me smile for the rest of the day. See? Being happy is simple, right? Happiness is a state of mind, right? When you tell your mind to be happy, you’ll happy. Vice versa.

Call it cheesy. Call it stupid. But still, it’s a very best thing I ever had … a man who brought me sky. I mean, it’s sky! Even it’s only a picture but I still feel grateful.

So, here, I specially made this post for you. For keeping my mind from thing named “forget” and for give you a special kind of thank you. So, thank you, Monster Alligator.

It’s so sweet of you. 🙂

(Anyway pardon my bad English. I try my best to make the grammar and stuff, right.)

Halo Soe

Halo Soe, atau Gie, atau Soe Hok Gie.

Akhirnya kita bertemu di Mandalawangi, walau aku tidak kesana secara langsung dan hanya melihat plang dengan tulisan besar “Mandalawangi.” Walau tidak ke Gunung Pangrango. Walau batas kemampuan baru bisa membawaku melewati sejam jalan setapak ke sebuah air terjun indah dengan rasa dingin dibawah garis normal.

Aku merasa tidak apa-apa. Aku merasa cukup Gie. Aku merasa perjalanan liburan kali ini terasa begitu indah, simpel karena aku menyadari bahwa aku berkunjung ke tempat favoritmu.

Aku merasa makin jatuh cinta denganmu. Aku merasa makin mengerti kesepian yang kamu ceritakan lewat tulisan-tulisanmu. Makin mengerti mengenai perjuangan yang kamu lakukan, walau tidak semuanya; dan tidak akan pernah kumengerti semuanya, karena aku tidak pernah mengenalmu secara personal.

Gie, ternyata sebegitu indahnya Mandalawangi sampai kamu mampu menulis puisi begitu indah disana Recommended Reading. Atau kesepian dan cinta yang berkembang jadi satu yang mampu membuat sebuah Mandalawangi terasa begitu personal untukmu? Kupilih jawaban kedua. Mungkin bukan soal bagaimana, tapi siapa dan kenapa.

Gie, tanpa perlu mengenalmu, kamu mampu membuatku merasa bahwa perasaan aneh dan kesendirian ditengah banyak orang baik disekelilingku adalah sebuah rasa yang normal. Bahwa semuanya memang begitu adanya. Naturally happens.

Gie, tahukah kamu bahwa cinta kadang kala membawaku kepada sebuah jenis perasaan yang tidak kumengerti; bahkan kadang kala tak dapat kudeskripsikan lewat kata-kata? Bahwa kadang kala, aku merasa sia-sia dengan segala jenis perasaan yang ada. Bahwa …. ahh, lupakan saja Gie. Aku mungkin terlalu berkhayalan. Terlalu senang bahwa aku mendatangimu setelah sekian banyak perjumpaan maya lewat bukumu, “Dibawah Lentera Merah” dan film yang dimainkan dengan baik oleh Nicolas Saputra. Kenalkah kamu dengan dia, Gie? Artis Ibukota yang bertransformasi paling mendekati dirimu.

Aneh ya, Gie? Mungkin, kalau kamu masih hidup, aku dengan segala jenis harga diri yang ada, akan mendatangimu dan mencerocos mengenai bagaimana kamu membawaku kepada sebuah pengalaman intrapersonal yang indah.

Untuk semua itu, untuk semua perasaan yang tidak terdeskripsi, untuk sebuah Mandalawangi yang kau perkenalkan sebelum aku injak, untuk sebuah prosa dan karya yang membawaku pada imaji liar.

Untuk semua yang ada… Terima kasih.

Terima kasih untuk berbagi sebuah perjuangan, mendeskripsikan lewat kata-kata.

Terima kasih untuk telah ada.

 

Penggemar terberatmu.