AADC 2: Film Yang Tidak Pernah Gagal Membuat Fenomena

Sebagai salah satu generasi era 90-an, film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu tolak ukur tingkat kegaulan seseorang pada jaman itu. Kala itu, saya masih SMP ketika menemukan sosok Rangga & Cinta; walau yang paling membuat saya terpesona adalah bagian puisi dan buku karya Chairil Anwar.

Bergulir era selama hampir 14 tahun, aura film ini nampak veteran di kalangan pecintanya. Terbukti ketika konfirmasi sekuel film ini muncul, euforia yang begitu hyper sangat terasa kental. Penonton membludak; fakta bahwa ada film Indonesia yang berhasil mengalahkan film luar tidak kalah fenomenal yakni Civil War, menjadi bukti paling otentik bahwa AADC2 ini hyper-euphoria.

Sesungguhnya, saya tidak ingin menuliskan banyak review buruk mengenai film ini. Kontemplasi sebelum akhirnya menulis review selama beberapa bulan kebelakang membuat saya memutuskan hanya menulis apa yang baik. Ini dikarenakan: ‘man, film Indonesia ngalahin Civil War, kapan lagi?’

Filosofi Kopi: Film Penuh Filosofi

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Kalau boleh jujur, sebagai penikmat kata dan musik dari Dewi “Dee” Lestari, sudah kerap kali saya dikecewakan dengan adaptasi filmnya. Mulai dari Perahu Kertas yang (seharusnya) lebih mudah diterjemahkan secara visual, sampai Supernova yang absolut tidak memiliki batasan visual pasti.

Filkop-02

Memberanikan diri, saya ambil kesempatan di Jumat malam untuk berbagi dengan salah satu film karya Angga Dwimas SasongkoFilosofi Kopi. Sudah lama saya mengenal novelet “Filosofi Kopi”, dan — seperti para pembaca umumnya– saya sudah membayangkan dengan samar-samar mengenai Ben & coffee shop bernama Filosofi Kopi.

Kepastian Cinta Dalam The Judge

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Buat saya yang cukup aktif mengikuti perjalanan film Robert Downey Jr., The Judge adalah salah satu yang paling emosional. Tidak ada perubahan karakter dalam diri Hank Palmer yang diperankan oleh Downey–masih sangat slengekan dan menyebalkan–tetapi dalam porsi emosional tingkat tinggi.

Judge-02

Kisah dimulai dengan perbincangan Downey dan rival kerjanya dalam sebuah toilet umum pengadilan. Dalam film ini, Downey diceritakan sebagai pengacara yang terkenal sukses membela koruptor, white-collar crime, serta orang-orang kaya yang statusnya bersalah.

Mike Kattan: “And how does it feel, Hank? Knowing that every client you represent is guilty?”
Hank Palmer: “It’s fine. Innocent people can’t afford me.”

Perjalanan film The Judge baru dimulai ketika Downey mendapat kabar bahwa sang Ibu meninggal dunia. Seluruh kekuatan meluruh. Pada momen ini, Downey mulai menampaknya sisi laki-laki emosional dalam porsi yang (masih) acceptable. Emosi ini terus berkembang dan nampak semakin jelas-menguat ketika Downey mengetahui sang Ayah terkena tuduhan pembunuhan, tidak jauh berbeda dari hari kematian sang Ibu.

Her: Cinta Dalam Bentuk Moderen

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Sebenarnya, sudah cukup lama saya menikmati film Her, setidaknya hampir setengah tahun yang lalu. Namun, film ini masuk ke dalam kategori cukup membekas dan sulit dilupakan. Kalau mencari pengganti love sci-fi jaman “Eternal Sunshine Of The Spotless Mind”, Her adalah versi moderen, versi kekinian. Versi lengkap dan lebih menguras airmata.

Menceritakan tentang seorang socially awkward, Theodore dan hubungannya dengan seorang wanita yang diperankan sangat seksi-apik oleh Scarlet Jo.

Her-03

Dibawa kedalam 126 menit, film besutan Spike Jonze yang juga melahirkan sebuah film menarik di tahun 2009, “Where The Wild Things Are”, Her menarik dengan cara yang… well, begitu moderen. Karena sungguh, tak ada yang lebih menegangkan daripada menyaksikan bagaimana moderenisasi membawa manusia menjadi tidak fungsional. Atau mungkin, yang membuat film ini menarik adalah prediksi Jonze mengenai modernisasi yang akhirnya menjadi simalakama.

The Fault In Our Stars

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Kemunculan sebuah film yang kisah awalnya diambil dari novel karya John Green berjudul The Fault In Our Stars sudah dalam status tayang di Indonesia. Tidak, film ini tidak seklise “The Notebook” atau “PS I Love You” yang kerap membuat saya merinding sendiri saking gagal menahan emosi (sedikit) jijik karena terlalu klise.

I believe the universe wants to be noticed. I think the universe is in-probably biased toward the consciousness, that it rewards intelligence in part because the universe enjoys its elegance being observed. And who am I, living in the middle of history, to tell the universe that it-or my observation of it-is temporary? –The Fault In Our Stars

Ini film mengenai percaya bahwa bahagia itu punya konsep yang luas.

Film ini simpel menceritakan mengenai cinta yang dicampur dengan keyakinan antara Gus dan Hazel, sepasang manusia yang sama-sama memiliki penyakit mematikan di umur muda.

They began as a strangers, but didn’t end as strangers.

TFIOS-02

Saya percaya lewat film ini, ada banyak orang yang kembali dicerahkan bahwa diluar sana masih ada cinta tanpa pamrih; yang memberi tanpa perlu menerima.

Cinta Sederhana Ala Mouly Surya

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

What They Don’t Talk When They Talk About Love atau yang bisa dengan mudah disingkat sebagai Don’t Talk Love adalah karya sineas film yang vakum selama 4 tahun lebih, setelah sebelumnya menjadi sutradara terbaik untuk film “Fiksi” di FFI 2008, Mouly Surya.

Apa yang mau digambarkan Mouly lewat film ini cukup simpel yaitu berusaha memberitahu bahwa dunia orang-orang berkekurangan (difabel) juga seperti kita, manusia yang diberikan kepercayaan dari Yang Diatas untuk memiliki fungsi tubuh baik. Dan tidak selamanya, hidup dengan keadaan berkekurangan adalah sebuah ketidakindahan.

DTAL-04

Don’t Talk Love memiliki setting sebuah Sekolah Luar Biasa, dimana saya pribadi sangat jatuh cinta dengan ambience yang ada di sekolah ini. Begitu hijau, homey, namun tetap terasa sederhana. Di sekolah ini, anak-anak berkebutuhan khusus menghadiri kelas, mereka bersosialisasi, mendengarkan cerita radio (adegan tiga menit yang sangat cerdas), dan jatuh cinta. Mereka berlaku selayaknya orang-orang tanpa kebutuhan khusus.