Himalaya

Aku berdoa. Kamu berdoa. Kita sama-sama memanjatkan cinta kepada Pencipta lewat sebuah doa mengenai keinginan mencapai Himalaya.

Aku menua. Kamu menua. Kita berempati terhadap satu sama lain; terkadang melupa, bahwa cinta adalah substansi esensial dalam hidup. Bahwa cinta adalah kekuatan hakiki untuk mencapai puncak tertinggi di Himalaya.

Pertemuan kita berawal dari kesederhanaan kemudian menjadi segala keapaadaan. Pertemuan kita akhirnya mengajarkan cinta adalah sebuah uji daya perjuangan dengan cara yang berbeda-beda pada setiap orang.

Kita adalah Himalaya. Indah, namun sulit untuk dicapai sampai titik terakhirnya. Perjuangan mendaki Himalaya dinyatakan wajib dilalui oleh manusia-manusia yang profesional pada pendakian gunung.

Namun boleh kuingatkan sedikit: 1) profesional adalah terus berjuang mencapai objektivitas dan 2) sesusah itu mendaki Himalaya, keindahannya di akhir tidak tertandinggi oleh apapun.

Kita masing-masing adalah Himalaya. Kita memandang pada satu titik puncak tertinggi bersama warna pelangi yang berbaur dengan gunungan awan.

Sehingga, dengan seluruh perjalanan mencapai Himalaya yang sudah lumayan jauh untuk dilepas ini, bisakah kamu bayangkan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang;

Misalkan kita duduk bersama di sebuah teras rumah dengan halaman luas, ditemani siur angin pedesaan di pinggir daerah Bandung.

Misalkan kita berbagi cerita setiap malam, berargumentasi mengenai mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, ditemani dengan kicau deru suara jangkrik malam hari.

Misalkan kita berkeliling dunia, menikmati berbagai jenis kopi dengan dua orang anak kecil yang berteriak minta diberi perhatian.

Misalkan di suatu malam, kamu kesakitan, dan kita mengerti bahwa berdua adalah cara indah yang diberikan Tuhan pada setiap manusia dimuka bumi ini untuk saling menguatkan.

Pembayangan mengenai ini menjadi tenaga dan inspirasi yang tak pernah habis untuk terus bertahan, dengan segala kesalahan, dengan segala keindahan, dengan segala kesulitan, dengan segala tantangan.

Karena mendaki Himalaya bersamamu nampaknya menjadi mungkin. Semoga kamu-pun tidak menyerah untuk mendaki Himalaya bersamaku.

Photo Courtesy: Junebug Wedding

 

Memilih Mana: Cinta Pencipta atau Cinta Cinta?

Bagi saya yang rajin menjadi pengunjung gereja setiap minggunya, judul diatas pasti menjadi sungguh kontroversial. Pemeluk agama, siapapun mereka, pasti tanpa berpikir panjang akan menjawab lugas: “saya memilih mencinta Pencipta saya.” Jawaban berikut adalah lumrah; dimana menurut saya, sejatinya jawaban seperti apapun adalah lumrah. Saya bukan berkapasitas menilai benar atau salah atas pilihan orang lain.

Di Indonesia, fenomena seperti ini masih memiliki ketertarikan tersendiri. Seorang beragama, dalam budaya non-monokromatik agama, tanpa disengaja pasti bersinggungan terhadap manusia lain dengan perbedaan keyakinan. Lumrah. Yang (kurang) lumrah, setidaknya di Indonesia, adalah ketika harus menyadari bahwa “bersinggungan” tersebut memiliki kemungkinan menjadi cinta dan berpotensi berakhir kepada keinginan untuk komitmen seumur hidup alias menikah.

Konsep Memaafkan

Saya jarang menuliskan kalimat ini, tapi yes, saya adalah seseorang yang masuk dalam kategori sering pergi ke gereja. Bukan hanya rutinitas, ada sebuah kegiatan dan keinginan di dalam rumah itu. Namun jangan khawatir karena saya tidak akan membahas mengenai bagaimana seseorang harus hidup dalam norma gereja dan konfliknya. No.

Tepat pagi ini, diantara ibadah Kenaikan Tuhan Yesus, saya mendapat satu hal mengenai, tentu saja, kehidupan.

Belakangan, saya sedang mengalami early quarter life crisis. Banyak hal yang saya pertanyakan, dengan kuota pertanyaan lebih sulit dari saat saya tidak berada dalam fase krisis ini. Banyak pola pikir hidup yang berubah, dan saya mulai mengambil keputusan yang terasa “sangat tidak saya.”

Pagi ini, lewat satu khotbah panjang dari Gembala Pendeta, saya mendapat sedikit kesimpulan dari hidup: whatever life goes, when you have hate in your heart, all teories will go wrong.

Ada satu quote yang menarik: “I forgive but I will not forget.

Satu kalimat (yang katanya) bijaksana mengenai konsep kebencian dan memaafkan. Satu kalimat yang sering menjerumuskan seseorang dan memporakporandakan konsep memaafkan.

Menariknya, dewasa ini, ketidakmampuan melupakan kesalahan biasanya berakhir pada kemampuan untuk bombardir rasa di sosial media ─ which, sometimes, I find so funny. Sosial media dan drama digitalnya adalah salah satu yang kerap membuat proses memaafkan jadi timpang. Yes, I forgive… but I do forget? Hmm, not really. Atau, ketika kita merasa sudah melakukan tindakan/progresi memaafkan, namun atas nama inner circle di Path atau lock profile di Twitter, kita tetap berbicara mengenai status sebal. IS IT really an act of forgiveness? Saya bukanlah manusia dengan timeline suci di sosial media. Namun saya bisa pastikan, sejak beberapa tahun terakhir, saya belajar untuk mengutarakan perasaan-perasaan penting tidak di sosial media, namun face to face alias bicara langsung.

Baca Juga: Forgiveness

Pada hari ini saya belajar, satu hal yang tidak bisa dilakukan adalah memaafkan tanpa melupakan. Melupakan seluruh kesalahan adalah paket komplit-tidak-bisa-dipisahkan dari memaafkan. Kebencian tidak pernah membawa hidup kita ke titik manapun. Ketidaksukaan atas sesuatu tidak akan memberikan kita waktu untuk mencintai hal lain. Yes, you allow to not get along with someone; but not hate them. Hate is overrated and it costs you everything.

(This Is My #NoteToSelf)

Satu Kali Lagi Mengenai Manusia

Buat saya, manusia adalah mahluk hidup yang paling kompleks. Ini fakta, dengan bukti yang tidak perlu terlampir karena saya percaya, hampir seluruh manusia lain mengakui konsep ini.

Mempelajari manusia adalah hal tersulit yang pernah dilakukan manusia lain. Namun kadangkala, berbasis rasa cinta, mereka rela melakukan hal-hal (yang menurut mereka) untuk mempelajari manusia. Belasan tahun saya percaya, menjalani hidup paling baik adalah dengan mempelajari manusia sedalam-dalamnya.

Hari ini, saya belajar bahwa konsep ini tidak sepenuhnya benar.

“Most things will be okay eventually, but not everything will be. Sometimes you’ll put up a good fight and lose. Sometimes you’ll hold on really hard and realize there is no choice but to let go. Acceptance is a small, quite room.”

Tahun lalu, saya temukan quote itu di deretan post Pinterest. Saya save di komputer dan ponsel, tanpa bisa mengerti benar-benar maknanya. Yes, saya tahu bahwa ada waktu untuk melepas sesuatu yang begitu kuat mengikat kita. Yes, saya mengerti konsep good fight dan mengalah dengan ego. Tapi ada satu bagian di akhir quote yang kurang saya mengerti: acceptance is a small, quite room.

Manifest Mimpi

Saya lupa pernah membaca dimana, namun kalimat ini merupakan salah satu penyemangat di kala sedang ada di titik bawah:

“Your thoughts determine your feelings, your feelings determine your actions, and your actions determine your character.”

Saya adalah manusia yang hidup dari mimpi. Tidak pernah saya bayangkan harus mengerjakan sesuatu yang pada akhirnya menjauhi mimpi saya. Namun di sisi lain, saya juga percaya bahwa realita adalah teman baik semua manusia; jadi, ini adalah gabungan yang cukup kompleks yang kerap menjadikan saya bernegosiasi antara mimpi dan keadaan. Banyak yang bilang tindakan ini adalah idealis realistis.

Terbiasa memutuskan untuk jangka panjang, saya kadang suka gemas sendiri apabila menemukan atau bersinggungan dengan orang-orang yang go with the flow. No, I’m not that controlling… Karena ada hal-hal yang memang pada dasarnya tidak bisa kita kontrol dan harus go with the flow, misalnya, percintaan dan perasaan. Sadar mengenai hal itu, saya jadi sedikit controlling satu hal yang paling bisa saya control: pekerjaan, mimpi, karier.

Penutup Tahun 2015 2.0

Desember, 22.

Saya selalu percaya kepada angka 22; bahwa ada nilai ‘mistis’ yang dimiliki oleh gabungan angka 2 kembar ini. Saya menyukai 22, dan untuk beberapa life cases, angka/tanggal ini kerap berpartisipasi sebagai tanggal penting.

Starbucks half price (yes, ini penting karena saya cinta kopi), tanggal pertemuan pertama dengan teman maya yang menjadi sahabat baik, tanggal jadian pertama dengan mantan pertama di SMP, tanggal masuk kantor pertama kali, sampai –bahkan–tanggal jadian kedua teman dekat saya, merupakan momen-momen yang dibagi di angka/tanggal 22.