Kontemplasi Mengenai Kontemplasi

Saya ingat, ketika pertama kali memulai pekerjaan menjadi seseorang penulis amatir–bahkan sampai saat ini–ada satu pertanyaan yang masih menggantung di kepala:

“Apa yang kamu lakukan ketika sedang di mood terbawah?”

Saya menjawab, tanpa berpikir panjang, “menulis.”

“Apa yang kamu lakukan ketika sedang bahagia?”

Saya kembali menjawab, cepat, “menulis.”

Saya Tidak Ingin Menjadi Monster

“Saya tidak ingin menjadi monster atas diri saya sendiri.”

Pada satu titik di pagi hari, ketika sudah terlalu banyak frase ‘lelah’ keluar dari jiwa dan bibir, saya terduduk tanpa ditemani kopi pagi. Kepala ini pening, berputar seakan saya sedang dibawa berkeliling pada sebuah marry go round yang tak berkomando.

Kalimat panjang kembali berbisik, saya menghela nafas, “Saya. tidak. ingin. menjadi. monster. atas. diri. saya. sendiri.”

Untuk beberapa saat, seperti satu rentetean kejadian, saya teringat perasaan ketika duduk di dalam rumah tidak memberikan saya kenikmatan batin, dimana saya lebih memilih bersandar pada satu area di sudut coffee shop dengan para barista yang hanya saya kenal sebatas nama.

Falling In Love

Teman saya berbagi cerita, mengenai satu kisah menyedihkan yang terjadi belakangan waktu dalam hidupnya.

“Kamu tahu, semesta itu super menyebalkan. They play with us.. Think it’s funny when it’s hurt.

Saya menyerengit, bingung.

Funny is, when I share same day of birthday, sit at the same coffee shop almost everyday, listen to a (mostly) same singers and songs, we even like a same part of the lyrics… but we barely know each other. Life’s parody, rite?

Saya kemudian tertawa karena menyadari topik pembicaraan yang mendadak tersetir ini akan berarah kemana.

Menjejak Masa Lalu

“Apa yang paling menyakitkan dari menjejak masa lalu?” Si wanita bertanya, tenang.

Lawan bicaranya terdiam, sedikit banyak berusaha mengerti arah pembicaraan si wanita.

“Kamu tahu yang paling menyakitkan dari menjejak masa lalu adalah ketika seluruh kuota waktu bernama masa kini sudah terprogram untuk berhenti dan lumpuh rasa, namun di momen berikutnya, berdasarkan alasan bernama “penjelasan”, kamu harus kembali mundur… Beberapa tahun lalu, mungkin, beberapa belas tahun lalu hanya untuk mengerti kenapa kamu ada di masa ini.. Kenapa masa lalu terasa begitu sulit dihilangkan, walau seluruh kemampuan sungguh ingin menghilangkan itu.”

Pagi Ini

“Buat saya, kamu adalah rasa yang datang ketika seluruh ketidakmampuan untuk merasa, membuncah. Percaya yang muncul ketika rasa untuk selalu tidak percaya, hadir dalam nilai yang begitu tinggi. Kamu adalah dunia baru ketika saya lelah berputar pada dunia saya saat ini–larut dengan keterbiasaan, bersenggama dengan kebahagiaan.”

Starbucks
Banten

Permasalahan Seorang Penulis

Menulis sejak sepuluh tahun lalu, saya baru menyadari masalah mendasar seorang penulis. Masalah yang kemudian memamahbiah ke dalam diri saya secara intrapersonal.

Kerap saya mendengar ucapan agak memohon agar saya mem-filter cara bicara dan subjek pertanyaan. Kerap pula saya dikomplain mengenai bagaimana saya suka ‘menghilang’ dalam diam ketika sedang berada dalam sebuah percakapan. Di lain sisi, saya juga kerap disinggung untuk berhenti berbicara karena terlalu ceriwis.

Saya seperti berada dalam tiga tubuh berbeda.