Sebuah Juni Bernama Bahagia

Seharusnya bersama denganmu adalah sebuah kebahagiaan dalam bentuk lain.

Nyatanya, hati tidak pernah bisa dibohongi. Bahagia memang begitu sederhana. Bahagia adalah pola pikir. Namun kadang kala, bahagia adalah juga perkara siapa yang ada di samping kita.

Kamu adalah bentuk paradoks yang begitu kontras. Bersamamu adalah bahagia ketika kamu juga adalah kenyataan yang begitu menyakitkan untuk dikenang. Kamu membuat kebahagiaan datang mutlak hanya dari dirimu. Bahaya yang diam-diam menusuk jiwa.

Mungkin saya bisa membohongi orang lain, tersenyum di depan mereka, mengatakan bahwa sejauh ini, semuanya terasa begitu indah. Namun begitu disapa kesendirian, saya tahu ini adalah kemunafikkan tingkat tertinggi.

Pembohong ulung.

Seseorang yang berlari dari kenyataan yang tak ingin tersingkap.

Namun sekali lagi:
Bahagia adalah pola pikir, bahagia adalah sederhana.

Kali ini, melewati malam sendiri yang begitu sederhana, hanya dengan gelap lampu, dengan lagu yang begitu sendu mengalun dari Bon Iver, saya berpikir dan mencerna. Saya mulai merasa kehilangan arah. Saya mulai merasa terbang tanpa tujuan, saya merasa begitu munafik. Saya merasa kehilangan diri saya. Kepada siapa saya bisa berbicara mengenai benar dan salah ketika memisahkan diri–antara benar dan salah– sudah begitu kesulitan. Saya ditekan keadaan, yang bodohnya ada karena ego yang begitu tinggi.

Seharusnya saya berhenti sebelum semua semakin racuh. Sebelum seluruh tenaga habis untuk berdiri menjadi diri yang bukan saya.

Tidak bisa. Bodoh.

Kebahagiaan semu ini terasa begitu indah.

Saya tidak tahu kemana saya berlari, atau berjalan, sekarang.

Kenapa kamu bisa menciptakan tawa yang begitu imortal dan saya hanya bisa menciptakan kebahagiaan semu untuk diri saya sendiri? Begitu miris.

Photo featured by here

Jam Satu Dini Hari

Saya berdiri diantara kumpulan pikiran yang memakan sel-sel otak dalam diri saya sejak beberapa jam lalu.

Tidak ada jawaban; saya hanya menangis dan memikirkan logisme diantara kejadian nurani ini. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya orang yang sering saya dengar namanya dari orang lain yang kebetulan berbagi nama sebagai sehabat baik. Dia juga bukan orang yang pernah berbicara apapun pada saya. Namun airmata ini tidak berhenti, bahkan menangis untuk alasan yang sendiri juga tidak tahu.

Sesungguhnya, ketika bertanya pada Tuhan, “mengapa saya menangis?” dan untaian lagu Michael Buble mengalun, saya hanya bisa menahan nafas untuk tidak membiarkan seluruh perasaan ini melompat-lompat keluar dari diri saya.

Dia bukan siapapun, dan saya tidak mengenal dia. Tetapi, kenapa mata itu terlihat begitu sedih? Kenapa saya seperti bisa merasakan setiap senti kesedihan yang ada di dalam dirinya? Apa karena kami menyayangi orang yang sama, atau hanya murni karena sisi melankolis saya sedang berlebihan?

 

Sesungguhnya, saya tidak tahu mengapa perasaan ini bisa ada. Jadi, siapapun kamu disana, berdiri untuk apapun kamu hari ini di depan saya… saya sedang mendoakan kebahagiaan untukmu.Kebahagiaan yang juga sedang saya perjuangkan untuk diri saya sendiri. Kalau ada momen dimana saya bisa mengenal kamu secara pribadi, berbicara, dan berbagi 08’ mengenai banyak hal, perkenankan saya memelukmu dan memberitahu bahwa bahagia itu indah, walau hanya satu per sekian detik.
Photo featured by here