Jogjakarta

Saya pernah berkata bahwa saya meninggalkan sebagian hati saya di Bali dalam post ini. Kali ini dengan hati-hati namun percaya diri saya katakan bahwa saya kembali meninggalkan setengah hati saya di Jogjakarta.

Perkenalan dengan Jogja selama 3 hari 2 malam meninggalkan kesan yang sangat membekas di hati dan pikiran. Lewat sebuah mata kuliah bernama Tugas Akhir, membawa segudang tanggung jawab berbentuk riset, saya sendirian ke Jogja. Persiapan pergi yang hanya memiliki tengat waktu satu hari ini menjadi trip pertama saya sendiri, menggunakan pesawat sendiri, dan semuanya serba sendiri.

Bali

“I left my half heart in Bali.”

Mungkin itu adalah salah satu kalimat terbaik yang pernah saya temukan beberapa bulan setelah saya meninggalkan Bali. No, I am not come from Bali, I am just some local tourist who have this ‘love at first sight’ with Bali. Tidak pernah saya merasa begitu menemukan momen dimana saya bisa merasakan molekul-molekul perasaan hanya karena melihat sekumpulan foto berjudul “Bali” yang terselip di antara tumpukan foto di laptop, dan tidak sengaja terbongkar.

Banyak hal menarik yang menyita perhatian saya mengenai Bali. Saya dan Bali seperti berbicara tanpa henti, tanpa jeda, dimana walaupun ada jeda itu hanyalah sebuah momen untuk berpikir. Seperti Jesse dan Celine dalam sekuel “Before Sunset” dan “Before Sunrise”, saya merasa begitu terkoneksi dengan Bali dan segala jenis keindahan di dalamnya.