Stories

Falling In Love

Teman saya berbagi cerita, mengenai satu kisah menyedihkan yang terjadi belakangan waktu dalam hidupnya.

“Kamu tahu, semesta itu super menyebalkan. They play with us.. Think it’s funny when it’s hurt.

Saya menyerengit, bingung.

Funny is, when I share same day of birthday, sit at the same coffee shop almost everyday, listen to a (mostly) same singers and songs, we even like a same part of the lyrics… but we barely know each other. Life’s parody, rite?

Saya kemudian tertawa karena menyadari topik pembicaraan yang mendadak tersetir ini akan berarah kemana.

“Masih banget mikir soal barista itu?”

Tanpa pikir panjang, teman saya mengangguk.

Kisah ini memang dimulai dari kecintaannya duduk pada sebuah coffee shop di bilangan Serpong. Bertahun-tahun duduk di area yang sama, teman saya baru menyadari ada satu brewer coffee yang menarik perhatiannya. Berkerap waktu memandang, teman saya mendapatkan fakta menarik bahwa mereka berbagi ulang tahun yang sama, bahkan mencinta indie band yang sama. Hal ini–kesamaan ini–membuat ia makin mencinta pada seseorang yang belum pernah berbagi nama depan dengannya.

He loveeeeees The Cure, She & Him, also, one day when I was sit in that coffee shop, I listened Nina Simone & Carla Bruni’s song was played.” Sekali waktu, dia menelpon, bercerita mengenai hal yang menurut saya tidak penting.

Begitulah teman saya, selalu mencinta dengan penuh.

Alur pembicaraan kami, pada akhirnya sampai di titik filosofis hidup; mengenai cinta lebih banyak. Di tengah dialog pada sore hari, sebuah kalimat membangunkan saya. Menyergap tanpa bisa dihindari.

Bertahun hidup dan sekarang ada di umur 20-an, saya menyadari, cinta itu bentuknya fleksibel. Namun, fleksibilitas ini kadang dapat berubah bentuk menjadi kepastian ketika ada kekuatan besar tentang mencinta seseorang. Kekuatan yang membuat kita merasa seluruh klise mengenai hidup adalah pembenaran; seperti, kita rela sakit untuk kebahagiaan orang yang kita cintai, tersenyum ketika harus menangis, sampai melepaskan ketika seluruh jiwa dan logika mengatakan untuk menariknya tetap di permukaan bumi milik kita.

Saya terdiam. Kalimat itu panjang, namun bermakna begitu dalam–setidaknya bagi saya. Saya menghela nafas, samar-samar kehilangan aktivasi suara teman yang mulai menjadi backsound.

It’s funny how we can said thing that really make us sad, only to make people we love feel happy. Like, we can easily said “go grab your happiness” when we know their happiness is a heavy root of our sadness. Scary how love cover every single tears.

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.