Filosofi Kopi: Film Penuh Filosofi

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Kalau boleh jujur, sebagai penikmat kata dan musik dari Dewi “Dee” Lestari, sudah kerap kali saya dikecewakan dengan adaptasi filmnya. Mulai dari Perahu Kertas yang (seharusnya) lebih mudah diterjemahkan secara visual, sampai Supernova yang absolut tidak memiliki batasan visual pasti.

Filkop-02

Memberanikan diri, saya ambil kesempatan di Jumat malam untuk berbagi dengan salah satu film karya Angga Dwimas SasongkoFilosofi Kopi. Sudah lama saya mengenal novelet “Filosofi Kopi”, dan — seperti para pembaca umumnya– saya sudah membayangkan dengan samar-samar mengenai Ben & coffee shop bernama Filosofi Kopi.

Ekspektasi saya untuk film Filosofi Kopi nol kosong, simpel karena saya sudah sering kecewa dengan film hasil adaptasi buku. Hari itu, saya duduk di bioskop hanya untuk menjadi penikmat film karya Angga, sutradara yang salah satu filmnya, Hari Untuk Amanda, menjadi favorit sepanjang dekade.

Kenali lebih dalam dan jauh, terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona. (Filosofi mengenai Kopi Tubruk)

Saya pencinta kopi…. dan melihat film Filosofi Kopi adalah oase indah. Bercerita mengenai persahabatan antara Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) ditengah kemelut politik-entrepreneur menjadi pemilik coffee shop bernama Filosofi Kopi.

Filkop-05

Jangan bayangkan film ini dipenuhi aura para pencinta kopi seperti gerakan-gerakan mencium harum wangi kopi, berbicara lugas-tegas dan berat. Ada, namun tidak banyak karena sesungguhnya, film ini sederhana, dengan makna luar biasa bijaksana.

Selama 117 menit, Angga dan Jenny Jusuf, sebagai screenplay writer, membawa para penonton ke dalam alur cerita sarat emosi. Saya bisa pastikan, ini adaptasi film Dee yang paling menguras airmata. Perahu Kertas… kalah saing.

Filkop-04

Akting Chicco Jerikho nampak sangat tepat, tidak berlebihan, walau pada awal film saya bisa merasakan ketidaknyamanan yang muncul entah karena apa. Rio Dewanto, di satu sisi, memang membuktikan bahwa dia adalah aktor Indonesia papan atas. Saya salut pada keduanya.

Saya tidak bisa spoiler, akan tetapi, banyak adegan-adegan yang membuat airmata ini menetes tanpa bisa berhenti. Ini seperti jurnal untuk memaafkan diri sendiri, sekaligus warning sign bahwa manusia memiliki beban dan masa lalu yang menjadi present baggage. Itu adalah fakta yang tak dapat dihindari.

Saya suka dengan pemilihan settingediting film, sampai dengan pencocokan music background. Semuanya artistik, tepat sasaran, dan seperti saling dukung untuk menciptakan artistik film yang baik.

Tidak lupa, nyawa Dee sebagai pencipta utama masih terasa. Tidak berlebihan seperti di Perahu Kertas dan Supernova, namun tepat adanya. Mungkin Filosofi Kopi adalah Tiwus dalam bentuk film. Tidak sempurna, tapi indah karena apa adanya.

Filkop-03

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *