Forgiveness

Ada kejadian yang masih tersimpan baik di memori kepala saya: Tragedi Air Asia dan Charlie Hebdo. Yes, keduanya punya latar belakang kisah yang berbeda; satu mengenai idealisme, sedangkan yang satu mengenai… well, mesin yang rusak, penerbangan yang tidak harusnya ada pada jam itu, bahkan (katanya) pemutihan.

Satu pikiran berlompat dalam kepala saya ketika membaca ini: “karena kita, saya, Anda, mungkin dapat meninggal di esok hari, bahkan mungkin detik kesepuluh setelah kalimat ini.

Pertanyaannya, apabila kematian itu berada hanya satu meter dari kita, apakah kita sudah siap? Apakah ini hidup yang sebenarnya ingin kita jalani?

Satu quote dari The Guardian mengenai Charlie Hebdo mungkin bisa menjadi jawaban mendekati terbaik dari pertanyaan saya:

“Two terrorist who killed our colleges, we cannot feel hate. The mobilisation that happened in France after this horrible crime must open the door to forgiveness. Everyone must think about forgiveness.”

Belasan orang meninggal dalam kisah Charlie Hebdo, puluhan dalam Tragedi Air Asia. Namun, ada dari mereka–yang lewat cara-Nya–melewati peristiwa itu layaknya cerita Final Destination.

Saya selalu bertanya: apakah saya sudah hidup dengan baik dan benar?

I think about forgiveness, especially forgiveness for myself. Hari ini, saya mencoba/berusaha membisik maaf kepada diri sendiri, untuk beberapa hal yang belakang menusuk-nusuk urat jiwa, seperti:

Memberi maaf kepada diri sendiri atas ketidakmampuan berkata, “Pi, silakan berhenti bekerja…” murni karena saya tahu, dengan hidup seperti ini, membiayai empat kepala adalah mustahil.

Memberi maaf kepada diri segala untuk segala pengecohan diri, pembodohan masal, dan pemahaman mengenai cantik yang selalu satu kategori, dimana saya tidak masuk ke dalam kategori itu.

Memberi maaf kepada diri sendiri atas ketidakmampuan menghapuskan kenangan dari setiap masa lalu yang menoreh luka batin. Tidak dalam tetapi membekas.

Memberi maaf kepada diri sendiri atas seluruh jenis keegoisan. Keinginan dimengerti, tanpa mampu memberi pengertian kepada orang lain. Memberi pilihan bahwa saya hanya ingin berdialog dengan orang tertentu, ditched out beberapa orang lain, murni karena saya tidak bisa lagi bergerak dengan cinta yang basa-basi.

Memberi maaf kepada diri sendiri atas segala jenis kelelahan untuk bernegosiasi dengan orang lain, bahkan mungkin, sahabat/orang terdekat.

Memberi maaf kepada diri sendiri atas seluruh airmata karena perasaan ‘tidak cukup’ yang selalu muncul ketika melihat orangtua terus bekerja ketika mereka seharusnya duduk bersandar di bangku kursi goyang. Atau pergi ke Israel.

Memberi maaf kepada diri sendiri atas segala kebodohan yang dilakukan tidak hanya sekali, tetapi berulang kali.

Memberi maaf kepada diri sendiri atas segala cinta yang salah kaprah, tindakan yang di-misinterpretjudgment menyakitkan, dan perasaan lelah yang menggulung ketika dunia terasa tidak bersahabat.

Memberi maaf kepada diri sendiri karena selalu bermain kecepatan dengan waktu, bertanya mengenai jawaban yang masih prematur untuk dibicarakan.

Terlebih, memberi maaf kepada diri sendiri atas segala emosi terpendam, passion tersembunyi, cinta yang tidak mampu dibicarakan, dan realita yang terasa mengigit jiwa, hati, pikiran.

 

Karena–mungkin, mungkin saja–dengan berdamai pada diri sendiri, saya, kamu, dan Anda, bisa mentransformasi hidup menjadi lebih baik.

 

Tangerang
10.42 PM
Intro Jazz Cafe

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *