This Is When You Realized You Madly In Love With Stranger That Became An Important Stranger For You

Let’s say, this whole post will describe how much in love I am now. It’s contain many cheesy line would make you vomit. If you can’t handle a girl who’s in love, I warned you, stop reading. But if you want to find a little piece of trust with love, keep going on.

Halo kamu manusia yang penuh dengan cinta, apa kabar? Sudah hampir menuju setahun sejak saya pertama kali memutuskan menulis mengenai kamu.

Saya kangen kamu, walau baru beberapa jam sebelum post ini ditulis, kamu menemani saya berbagi pagi dengan segelas kopi Starbucks bekasan kemarin dan kamu dengan sarapan khas Persian.

Saya kangen kamu, walau baru beberapa jam sebelum post ini ditulis, kamu sedang sibuk memarahi saya dan kebiasaan meminum kopi yang akhirnya membuat saya jadi nokturnal.

Saya kangen kamu, walau lusa kemarin kita bertengkar karena saling menyalahkan mengenai jaringan internet siapa yang jelek; kamu atau saya, kemudian kamu memutuskan untuk mengalah dan memasang alat tambahan guna mengurangi freezing picture di Skype.

Saya kangen kamu, karena kamu tahu kapan harus mencium pipi ini secara maya ketika saya sedang berada di masa PMS; dan seluruh tindakanmu menjadi serba salah dimata saya.

Saya kangen kamu dan percakapan yang terjadi diantara kita beberapa minggu lalu: “Why you love me?” dan kemudian kamu menjawab “because you love me…” dan saya marah, kemudian kamu berbisik pelan, “I love you more than how you tell me you love me…” dan kemudian saya tersenyum malu.

Saya kangen kamu dan seluruh waktu yang kita bagi bersama-sama.

Saya kangen kamu, walau kamu punya kebiasaan menyebalkan yakni mengejek saya dan kemampuan otak saya yang sangat rendah dengan subjek Kimia, Fisika, dan Matematika. Namun saya tahu, seberapa seringnya kamu mengejek saya, kamu bangga dengan segala jenis prestasi di bidang menulis yang saya selalu gembar-gemborkan ke kamu. Hanya ke kamu.

Saya kangen kamu, karena dengan begitu, setiap kali saya bertemu muka denganmu, ada rasa sayang yang terus bertambah dan bukan berkurang.

Saya kangen kamu, walau seluruh sahabat baik mengatakan saya sedang membuang waktu dengan sesuatu yang sia-sia. Kemudian saya bertanya kepada mereka yang mengatakan itu, akan tetapi dalam diam dan hanya sebatas kalimat di kepala, sia-sia yang seperti apa? Berpacaran selama tujuh tahun kemudian putus? Itu sia-sia bukan? Mengapa ada seseorang yang lancang memberi definisi sia-sia dalam hubungan antar anak manusia?

Saya kangen kamu, karena kamu adalah satu-satunya anak manusia yang mampu membuat saya yakin dengan hari-hari yang saya jalani, karena saya tahu, pada malam hari saya memiliki seseorang untuk berbagi cerita.

Saya kangen kamu, karena itu adalah perasaan yang tidak pernah bisa saya hentikan dari dalam diri saya. Sesuatu yang datang secara kasat mata dan terus berkembang semakin erat dan kuat. Saya kangen kamu berkata bahwa saya memiliki bibir paling indah yang pernah kamu lihat dari seorang wanita.

Saya kangen kamu mengirimkan pesan lewat Yahoo atau Whatsapp dengan isi yang tidak penting semacam “hon, just see couple who fighting and suddenly remember of us..” atau “did you realized that Italian food have an expensive price here?” atau “another issue that Iran has a nuclear. I mean, we more than a nuclear (see a handsome man who send this text to you?)

Saya kangen kamu dan pelajaran-pelajaran mengenai hukum kuantum dan hukum-hukum lain yang ada dalam Fisika atau Kimia.

Saya kangen kamu menunggu saya tertidur kemudian mematikan jaringan Skype setelah memastikan saya benar-benar tertidur.

Saya kangen kamu dan imajinasimu mengenai apa kita akan merasakan hal yang sama apabila kita berada dalam satu kota, satu negara, dan berbagi oksigen secara nyata.

Saya kangen kamu berteriak menyuruh saya mengerjakan tugas atau pekerjaan daripada hanya mengeluh mengenai itu.

Yang terindah adalah,

Saya kangen kamu karena saya tahu, hanya dengan itu kamu bisa hidup dalam kepala saya, membuat saya mengerti konsep “cukup” yang selama ini digembar-gemborkan banyak orang.

Terima kasih perjalanan yang indah ini. Walau tidak nyata, kamu menjadi seorang asing yang begitu penting untuk saya, membuat waktu menunggu laki-laki baik yang datang dalam kehidupan saya terasa lebih bermakna.

Happy one year, hon. Nice to meet you and thank you for being an important stranger to me. Our memories still in my mind; never fade, never run.

 

April, 2014.

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.