Memilih Mana: Cinta Pencipta atau Cinta Cinta?

Bagi saya yang rajin menjadi pengunjung gereja setiap minggunya, judul diatas pasti menjadi sungguh kontroversial. Pemeluk agama, siapapun mereka, pasti tanpa berpikir panjang akan menjawab lugas: “saya memilih mencinta Pencipta saya.” Jawaban berikut adalah lumrah; dimana menurut saya, sejatinya jawaban seperti apapun adalah lumrah. Saya bukan berkapasitas menilai benar atau salah atas pilihan orang lain.

Di Indonesia, fenomena seperti ini masih memiliki ketertarikan tersendiri. Seorang beragama, dalam budaya non-monokromatik agama, tanpa disengaja pasti bersinggungan terhadap manusia lain dengan perbedaan keyakinan. Lumrah. Yang (kurang) lumrah, setidaknya di Indonesia, adalah ketika harus menyadari bahwa “bersinggungan” tersebut memiliki kemungkinan menjadi cinta dan berpotensi berakhir kepada keinginan untuk komitmen seumur hidup alias menikah.

Nilai menikah berbeda agama masih sangat tabu di budaya Indonesia. Buat mereka, berbeda agama sama dengan berbeda suku, berbeda tata cara hidup. Ini tidak bisa diberikan nilai salah dan benar, karena memang ada beberapa keluarga yang saya kenal menikah berbeda agama berakhir kurang baik.

Jadi, mari kita persimpel perkata memilih ini menjadi proses menuju komitmen. Beberapa pasangan yang saya kenal berbeda agama, diwaktu awal berpacaran, kerap langsung memberikan aba-aba: “lo atau gue yang pindah?” Ini menjadi warning sign kalau kata lagu Coldplay, dimana menyebabkan beberapa memutuskan menyerah dan beberapa memutuskan melanjutkan hubungan tidak biasa ini (setidaknya, di Indonesia).

NAH, di hal ini sebenarnya yang agak menganggu saya.

Sejak kapan, kita diharuskan (sekaligus dimampukan) memilih cinta Pencipta dan cinta terhadap seseorang? Sejak kapan, kita yang sedari kecil tidak memiliki kemampuan untuk memilih apapun–bahasa lebih tidak anomalinya adalah takdir/nasib–diwajibkan memilih sesuatu yang sifatnya sama-sama abstrak?

Perkaranya akan semakin kompleks ketika akhirnya salah satu diantara dua orang itu memutuskan memilih mencinta cinta, tanpa mengerti benar pilihan yang mereka buat. Mencintai Pencipta (yang banyak orang Indonesia kenal sedari mereka di kandungan), walaupun bentuknya ‘gusuran’ agama orang tua, tetap memiliki nilai kuat pada diri seseorang. Ketika cinta cinta yang mereka pikir tepat berubah senyawa menjadi “tidak tepat”, pasti tindakan “kamu sih nyuruh aku pindah…” “lah kamu kenapa mau pindah..” akan menguap dan menjadi pertengkaran paling valid. Sisanya? Hanya kenangan.

Lagipula, sejak kapan kita diharuskan memilih Mencintai Pencipta atau Mecintai Cinta? Keduanya, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, abstrak. Sejak kapan manusia terjebak pada ego trap yang membuat mereka merasa diri mereka paling “baik”? Dan sejak kapan, cinta harus dibatas dengan budaya atau norma?

Pertanyaannya: bolehkah masalah ‘pilih-memilih’ ini diberikan waktu lebih dan sepasang menjalani proses yang ada, terlebih dahulu?

Saya dulu pernah berkata “buat apa menjalani hubungan yang tidak akan sampai ke titik pernikahan?” Ijinkan saya ralat menjadi: “buat apa menjalani hubungan yang berfokus kepada pernikahan, tanpa menyadari: kamu ingin menikah sesungguhnya atau karena kewajiban?

Karena seseorang pernah berbincang begini kepada saya:

Kalau gue disuruh pilih sama pasangan gue antara satu hal atau dia, gue pilih hal yang lain itu. Kenapa? Karena mencintai seseorang bisa selamanya, tidak perlu harus bersama, tidak perlu dalam ikatan. Mungkin gue masih naif sekali menjadikan cinta tetap abstrak, tapi harus diingat, wujud utama dan pertama cinta adalah abstrak.

Akhir berbicara, tulisan ini saya tutup dengan puisi seorang keturunan Tionghoa yang memiliki keberanian melawan arus bernama Gie. Walau akhirnya meninggal sendirian, ia, dengan segala ketakutan dan kesendirian merasa semuanya tetaplah indah. (setidaknya dari apa yang saya baca)

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
(Soe Hok Gie – Mandalawangi)

Selamat Hari Minggu. Semoga ketika memilih, itu adalah waktu tertepat untuk memilih.

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *