Momentum

Mengenai Meregang (Versi Saya)

Saya rasa mengunjungi Ubud beberapa waktu lalu membuka (lagi) sedikit pemahaman terhadap hidup. Salah satu highlight-nya adalah membaca ulang salah satu laman blog dari penulis sekaligus editor favorit saya, Windy Ariestanty mengenai Meregang (baca tulisannya disini).

Saya kenali tulisan ini setengah dekade lalu, namun pemahaman menyeluruhnya baru didapatkan ketika saya sedang menikmati matahari pagi pada balkon belakang rumah kawan di Ubud, bersebelahan dengan Cafe Pomegranate. Tidak ada yang istimewa pada situasi kala itu; hanya saya dan hati yang sedang belajar untuk meregang selebar-lebarnya seperti kata Windy pada tulisan itu, serta rumah yang memiliki seribu kenangan dengan orang berbeda dari seseorang yang saya (rasa) saya cintai begitu dalam.

Saya terbangun pukul enam pagi. Tidak ada yang apapun yang menganggu atau menarik saya secara paksa untuk beranjak dari tempat tidur. Hanya alam bawah sadar yang memang kerap kali mengetuk mata di antara pukul lima sampai tujuh pagi hari. Sebut saja dengan rutinitas.

Matahari perlahan bersinar, tidak begitu hebat, karena hujan mengguyur Ubud sedari malam hari. Subuh itu, saya seperti dialunkan kalimat dari tulisan Windy–mulai dari kepala, kemudian ke hati:

Beberapa orang tak ingin berada di dalam sebuah hubungan karena mereka harus “meregang” untuk orang lain. Aku tahu itu bisa sangat menyakitkan. Pada titik tertentu kau akan menangis karena mengira sudah tak mampu lagi meregang. Tapi untuk bisa menghadirkan manusia baru, kau harus terus membuka, membuka, dan membuka tanpa menutup kemungkinan kau akan terluka. (Windy Ariestanty)

Tertawa, saya tertawa hebat pagi itu. Rasanya seperti ditampar puluhan kali oleh jiwa yang belasan tahun ini lebih sering dimakan oleh logika.

Cukup menarik, saya rasa, karena tulisan Meregang itu dibuat oleh Windy ketika ia di Ubud, bertemu salah seorang bidan dan madre dari Yayasan Bumi Sehat, Robin Lim. Dan tulisan yang menyadarkan jiwa ini, baru saya pahami makna keseluruhannya ketika saya sedang di Ubud, berkontemplasi dengan pikiran yang bulanan kemarin begitu keruh.

Saya menarik kesimpulan, sejenak, tidak tahu sampai kapan waktu: Saya rasa ini waktu saya belajar meregang, seperti yang Windy tulis. Tidak dengan ke-aku-an, tidak dengan logika, namun dengan kata hati. Belajar memahami apa yang hati ini ingin tuliskan, bukan karena logika atau ketakutan atas ketidaktahuan masa depan.

Melihat Ubud dari dekat, memahami desa itu layaknya penduduk lokal, mengenal manusia-manusia didalamnya dalam bentuk lebih dekat, meregang kali ini rasanya cukup seimbang walau saya tidak tahu, akan selama dan semampu apa saya meregang.

Mba Windy, Ibu Robin…. pertanyaannya, kapan kita tahu kita harus berhenti meregang?

Share With Your Loved One:

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.