Stories

Mengenai Merelakan

Saya membaca ini di timeline malam hari kemarin:

Menulislah tentang apa saja malam ini. Lalu baca tulisan itu lima tahun lagi dan rasakan seberapa jauh kamu telah tumbuh semenjak hari ini. (@kartikajahja)

Tergoda, saya mulai membaca-baca ulang draft tulisan, mulai dari yang ada di laptop sampai dengan di blog.

Dari semuanya, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya. Menarik yang berarti membuat saya bernostalgia di masa beberapa tahun lalu, dimana tulisan saya masih berwarna begitu merah dan marah pada keadaan hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Seperti yang sering saya katakan, menulis adalah sebuah media untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata. Saya yang pada dasarnya tidak pandai berbicara perasaan lewat kata-kata, sangat nyaman berbincang lewat tulisan. Saya ingat satu kalimat menarik: “tangan saya jauh lebih jujur daripada mulut saya.”

That happens to me.

Membaca tulisan-tulisan yang menjadi rekapan hidup sejak beberapa tahun lalu adalah sebuah oase pada gurun. Saya jadi teringat pola hidup yang dulu sering terjadi: menyalahkan keadaan dan kemudian berbalik dengan melakukan hal yang tidak seharusnya saya lakukan demi meneriakkan rasa kecewa saya. Bodoh? Tentu saja.

Saya selalu bertanya, apakah saya bisa kembali menjadi pribadi yang mempunyai warna hidup cerah? Apakah saya bisa tersenyum tanpa harus merasa sepi setelahnya? Atau, yang paling krusial dari semuanya, apakah saya masih bisa kembali percaya sepenuhnya?

Bertahun-tahun hidup seperti itu, saya (pada akhirnya) sampai di tahap lelah. Lelah dengan semuanya dan memilih untuk hanya diam. Saya tahu sesuatu terjadi dalam diri saya, namun pikiran sudah terlalu lelah diajak berputar-putar mengenai satu hal yang sama. Kelelahan itu mungkin sampai pada puncaknya, dan perbincangan dengan salah seorang teman baik membawakan saya pada sebuah konklusi: mari melepaskan.

—-

Melepaskan.

Sungguh itu adalah nikmat terbesar yang saya miliki seumur hidup saya. Sayangnya, saya baru belajar mengenal rasa itu beberapa bulan belakangan. Setelah melepaskan semua rasa yang menghimpit tubuh dan rongga paru-paru selama kurang lebih 4 tahun, saya merasa bebas.

Bebas dari segalanya.

Saya ingat, salah satu pembicaraan dengan seorang fotografer, Agustinus Sidarta. Dengan lantang beliau mengatakan bahwa “bagaimana kita mau menerima yang baru, yang baik, kalau seandainya kita tidak membiarkan pikiran kita bebas? Kalau kita masih terkukung ini dan itu?”

Beliau benar.

Kini ketika saya merasa saya lahir baru, rasanya seperti hidup baru yang lebih berwarna dan penuh dengan cita-cita baru.
Saya merasa ….. bebas.

Dan saya merasa itu lebih dari cukup untuk mengawali hari di dunia.

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.