Terketuk saya membaca sebuah lafalan mengenai #somedayiwillgetmarried yang sempat booming beberapa waktu lalu di linimasa Path saya.

B8C7X3SIcAENZJx.jpg-large

Pernikahan merupakan sebuah momen yang mendadak begitu sering saya dengar frasanya. Salah satu alasan sederhana saja: umur saya kini bertransformasi menuju seperempat abad, sehingga menikah adalah budaya yang normal terjadi.

“Aku, kalau mau menikah mah gampang aja. Tinggal tunjuk cewek-cewek di kampung (pacar saya asli Garut, Bandung), terus ajak kawin. Tapi kan menikah nggak semudah itu.” – Pacar, mengenai pernikahan.

Belakangan ini dunia membuat tingkat pesimistis terhadap pernikahan melonjak tinggi. Saya melihat banyak perselingkuhan, baik hati ataupun fisik, yang membuat kepala menggeleng miris.

Saya melihat, kemudian menjadi takut; takut bahwa cinta akan berhenti ketika pernikahan ditanda-tangan untuk seumur hidup.

Pertanyaan saya kepada laki-laki yang, dengan sengaja, mendua hati selalu sama: kenapa tega dan kenapa berpaling? Jawaban mereka pun rata-rata sama: lelah, bosan, atau sudah terlanjur cinta dengan yang baru.

Cinta. Berani mereka sebut cinta, ketika “cinta” yang dulu mereka sebut kepada wanita pertama sudah habis dimakan keterbiasaan. Sebenarnya mungkin perkaranya hanya satu: seberapa jauh komitmen dan cinta melebur menjadi kesetiaan. Hm, saya ralat. Perkaranya ada dua: selain komitmen, mungkin memilih laki-laki yang dengan berani mempertahankan komitmen adalah poin penting.

Saya melihat banyak sahabat mengecap pernikahan, dimana… saya juga melihat, mereka yang menikah punya keinginan membara mengecap kebebasan berstatus tidak menikah. Paradoks yang cukup membuat hati ketar-ketir tidak karuan.

Saya tidak punya jawaban atas paradoks ini, karena faktanya, banyak juga pernikahan tanpa perselingkuhan. Saya, hanya, kadang-kadang takut menjadi pesimis.

Mungkin, tindakan paling bijaksana yang mampu dilakukan adalah jujur terhadap diri sendiri. Apakah laki-laki ini terbaik? Apakah pilihan ini yang paling benar? Apakah saya ‘melihat’ menggunakan hati dan logika? Apakah keputusan menikah hanya untuk menyenangkan orang lain? Apakah karena umur yang semakin menjepit?

Yang terpenting: Apakah ini cinta? (Yes, hanya cinta memang tidak mampu memberi makan. Tapi cinta adalah pondasi dasar. Beside, uang bisa hilang, cinta–pada dasarnya–tidak bisa hilang.)

Sore kemarin, dari samping, saya lihat wajah sang pacar yang terkena sinar matahari. Sambil melihatnya menyisip minuman dingin, saya perhatikan matanya yang sudah muncul keriput halus, rambutnya yang berantakan karena baru bangun tidur, hingga tangan kecilnya yang sedang mengetik tombol ponsel.

Sudah berapa bosan ia mendengar ketakutan ini; dari menanggapi, sampai diam kelelahan.

Semoga kamu penuh komitmen ya, biar nilai buruk laki-laki yang belakangan membuat saya pesimis berkurang jauh. 🙂 #somedaywewillgetmarried

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *