Bandung, 2010

Di sebuah malam, menumpuk himpunan batangan PRO Mild pada asbak hijau toska, mengepul asap yang diikuti suara batuk-batuk kecil dari wanita berbalut kaos putih polos.

“Asap rokok kamu… Ganggu,” tegas sang wanita, ketus.

Laki-laki, si perokok batangan menenggok kecil dari fokus pandang utamanya: rokok, gitar, dan kertas, “kamu ngerokok-lah biar nggak keganggu sama asapnya.” Tercerai-berai kalimat itu, si laki-laki telak kena lempar bolpen dari wanita, diikuti gelak tawa keduanya.

“Kamu aneh,” laki-laki itu kembali melihat gitar dan kertasnya, sambil mengumam lanjut, “badan tatoan, rambut pendek cepak, minum bir udah kayak air putih.. tapi nggak ngerokok,”

You can’t get all in one package, darling…

 

Bandung, 2015

Wanita yang sama, tato yang sama, rambut cepak yang sama, dan PRO Mild yang kini menyisip diantara tangan kecil berlapis kutek merah.

Namanya Kirana.

Rokoknya bercampur dengan kopi hitam. Sudah gelas kedua.

Ia duduk diantara kumpulan pertemanan, menyendiri di pojokan meja Myloc Cafe Braga, tidak tersentuh. Matanya menatap ke arah jendela, tepatnya ke Jalan Braga yang sore ini terlihat begitu padat. Sesekali ia cepat menghapus setetes dua tetes air mata yang menitik perlahan.

Melamun, kegiatan sore yang paling Kirana cintai. Tidak perlu bernegosiasi dengan siapapun dalam kausa apapun. Melamun, kegiatan berbicara dengan diri sendiri yang menjadi favorit Kirana sejak dua tahun terakhir.

Dan PRO Mild yang menjadi asupan lain diluar kopi hitamnya.

“Buat cowok yang udah mulai bawa-bawa dia ngorbanin apa aja buat lo, go to hell…. Cinta itu harusnya gak perlu merasa berkorban. Once you felt that way to someone, it’s not love… Gw jadi elo, gw putusin Kirana cowok kayak gitu!” Sepenggal kata-kata yang muncul dikepalanya, berada antara kepulan asap rokok, menari-nari merasuk ke dalam jiwanya.

Memori. Siapa yang menciptakan? Mengapa sulit untuk menghapus memori?

Kirana menarik nafas, mengambil cangkir kopinya yang ternyata… sudah kosong. Ia berdiri, dengan waktu secepat kilat…. sentakan dari arah luar Jalan Braga, satu tekanan kencang klakson mobil, melemahkan rasionya.

Kirana linglung… Memori yang menggetarkan hati, kembali membayang jelas……

 

Bandung, 2013

“Lo dimana, sih?” Suara Kirana, terdengar terpotong-potong karena kesulitan sinyal.

Laki-laki berteriak, “sinyal aing jelek, sis. Lo udah sampe?”

“Udaaaaah, lapaaaar…”

“Braga macet, orang Jakarta nih sialan bikin Bandung macet. Sabar. Pesen makanan dulu sana, sekalian cariin PRO Mild ya…”

Kirana mendesis, “males! Gue ogah mendukung gerakan elo ngerokok. Beli sendiri. Cepetan! Lama bayarin makan.”

Suaranya perlahan menghilang, tergantikan dengan sentakan dari saluran telepon; seperti satu tekanan kencang klakson mobil yang mendadak membuat Kirana seperti berhenti bernapas.

“Aldo? Do?”

Hening.

“Aldo? Nyet, jawab gue! Aldo?!”

Kirana terduduk lemas. Dari jalur telepon itu, Kirana bisa dengar suara keributan permintaan tolong.

 

Bandung, 2015

Kirana linglung… Memori yang menggetarkan hati, kembali membayang jelas.

Kirana terduduk lemas. Memorinya sedang tidak bisa diajak berkompromi. Tangannya bergetar, mengambil satu puntung rokok PRO Mild, membakarnya cepat. Nafasnya seperti berhenti, seluruh tubuhnya bergetar.

Memorinya berputar, lagi dan lagi, bersama asap rokok.

“Ini lagu yang menurut gue, akan membuat mati para pejuang lupakan mantan… Kayak elo…” Di sudut kafe yang sama, beberapa tahun lalu, ketika keduanya masih sama-sama menjadi mahasiswa ITB dan Kirana sedang difase putus sambung.

Not as melancholic as you, dumb…

Laki-laki itu tidak peduli, sembari memutar speaker dengan volume kencang. Kirana sebenarnya tahu band ini, hanya saja ia malas berbasa-basi.

Asap rokok menganggu mata Kirana, membuat memorinya kembali ke dunia nyata.

“Kirana, kita nggak bisa nyembuhin luka hati yang udah jadi biru legam, yang udah bonyok. Kita nunggu itu selesai, kalau kita berdamai dengan seluruh memorinya. And the fuck-est moment in brain system is… ketika lo mau lupain sesuatu, thing get more intense and real. Dan itu terkunci, locked out di kepala lo,” Kirana teringat sebuah kalimat, bagian potongan memorinya dengan sang sahabat, Aldo. “Legowo, Kirana.. For all the fuck up adulthood moments, cari kunci ingatan itu dan buang memorinya.”

Nafasnya sudah kembali teratur, Kirana kemudian tertawa menyadari sesuatu yang menjadi takdirnya.

Kunci itu sudah terbawa ketika laki-laki itu terkekang dalam insiden sore hari di Jalan Braga. Serpihan hatinya berserak diantara asap-asap rokok PRO Mild, diantara setiap percakapan bersubtansi, diantara sofa warna-warni kafe Myloc Braga, diantara sudut-sudut Kampus ITB; dan melegam biru entah sampai kapan waktu.

 

Terinspirasi oleh:
Mengunci Ingatan (BARASUARA)

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *