Momentum

Pada Rumah Baru, Sebuah Substansi Hidup Yang Diperjelas

“Hallo.”

Mungkin hanya itu yang bisa saya ucapkan kepada seluruh manusia–yang entah–masih berkunjung ke laman ini atau tidak.

Ribuan abad setelah tulisan terakhir, bukan?

Betul untuk perlu ribuan waktu bagi saya kembali membiasakan diri terhadap sesuatu yang cukup menyita pikiran. Sebuah rutinitas pekerjaan yang mendadak menjadi kekhawatiran, dan bukan lagi keinginan dari hati–atau yang banyak orang katakan sebagai passion.

Sampai akhirnya malam ini, di sebuah toko kopi terkenal asal Seattle, saya kembali belajar berbicara dengan diri sendiri dan kembali menyisip kopi yang dulu adalah keseharian. Sebuah rutinitas lama yang sekarang menjadi begitu mewah nilainya.

Jadi, enam bulan sudah saya berpindah ke Ubud, Bali. Sebuah rumah baru yang membuat nafas saya jauh lebih segar dan Bahasa Inggris menjadi lebih baik karena dialog dini hari dengan manusia beragam suku. Kalau ditanya apa rasanya, jawabannya mungkin satu: gado-gado alias bercampur aduk.

Mungkin karena saya tidak mencintai betul kota saya dilahirkan sekaligus dibesarkan, Ubud dengan mudah mempesona hati. Akan tetapi bagi saya yang ambivert, Ubud ini juga seperti menarik satu sisi kelam dari diri seorang Virgo yang tersembunyi dengan baik: a little (not-so) much worrying. Saya ingat berapa banyak ketakutan dan ketidakmampuan untuk berpikir positif berhasil membawa diri ini kepada satu titik besar: kelelahan dan ketakutan tidak bertepi.

Saya seperti ada di Ubud, dengan kualitas pikiran di Jakarta. Begitu paradoks, dan menyebalkan.

Pikiran ini seperti butuh diberikan udara segar, apapun itu jenisnya, padahal saya sedang berada di satu kota dengan udara tersegar.

Harusnya tumpukan sawah itu adalah jawaban. Harusnya pantai dan pasir adalah teman baik untuk kontemplasi diri. Tapi, rasanya tidak cukup, karena saya tahu, ada satu masalah yang tidak pernah saya selesaikan: saya dan pikiran didalamnya.

Hari ini, malam ini, saya menyambangi teman lama: semua pemeran dan cerita romantis melankolis “Begin Again” karya John Carney, bersama dengan Cappuccino panas, dan satu lagu yang (ternyata!) saya cek di playlist iTunes pernah hampir 3,000an kali saya mainkan: “Tell Me If You Wanna Go Home.” Saya melakukan hobi lama: melamun dan menerka.

Tidak ada sawah, tidak ada pantai. Hanya Ubud dan suasana malam di Jalan Monkey Forest yang seperti memberikan sebuah pemaparan baru beserta dengan “Selamat Datang di Ubud” yang nyawanya lebih superfisial.

Saya menyadari, satu hal besar yang tidak pernah saya temui di Jakarta, atau Tangerang yang membuat saya begitu ketakutan adalah karena banyaknya cerita hidup yang memukau dalam konotasi negatif.

Saya mendengar–bahkan melihat–banyak hal runyut yang nilainya lumrah: Sebuah keluarga dan perselingkuhan yang dilihat ribuan mata. Sebuah hubungan yang hanya didasarkan kenikmatan tanpa komitmen. Sebuah kemudahan berkenalan dengan orang lain, dan mencari “pasangan” berdasarkan kualifikasi yang kategoris karena keinginan melawan sepi. Sebuah hubungan tanpa dasar cinta didalamnya.

Dan ternyata, sebagai seorang ambivert, itu cukup memakan batin dan jiwa saya. Menulis tidak lagi menjadi kebutuhan dan pikiran karena saya dikurung oleh banyak “what if” dan ketakutan tanpa batas.

Ini bukan kali pertama saya berada di Ubud, tapi jelas, berpindah kesini malahan menjadi sebuah masa yang cukup berbeda. Ubud tidak lagi menjadi “obat” melainkan “penyakit” hati yang kemunculannya tidak pernah saya sadari.

Kontemplasi malam ini, melalui Keira, Adam, dan Mark, ingatlah saya sebuah kalimat pendek yang cukup membuka pikiran:

Waiting for the next move, anticipating the next groove, and the road is long, and you’re only as strong as your next move.

Trouble Gum – Begin Again Movie

Saya tahu bukan ranahnya untuk berbicara seperti ini; tapi, berusaha mengingatkan, setidaknya, pada diri sendiri adalah kelumrahan, bukan?

Kepada para jiwa yang kelelahan dalam ketakutan: berbahagialah karena setiap langkah yang Anda lakukan adalah keindahan, sekaligus kekuatan. Walaupun nilainya hanya sekecil biji sawi, percayalah: you are only strong as your next move. Ingatlah, ketika Anda–atau saya–berhenti untuk melangkah dan menikmati kelelahan, kita intensional untuk mundur ke belakang.

Melangkahlah, sekecil yang kita bisa. Semampu yang kita bisa. Perkuat langkah itu setiap detiknya, sampai menjadi satu landasan kokoh untuk berlari mengejar apapun yang membuat kita berbahagia.

Bukan bahagia versi kita, tapi bahagia yang tidak mengecewakan kebisingan terdekat kita.

Starbucks Monkey Forest
12 Maret 2019, 22.01 WITA

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.