• Travel

    Jogjakarta

    Saya pernah berkata bahwa saya meninggalkan sebagian hati saya di Bali dalam post ini. Kali ini dengan hati-hati namun percaya diri saya katakan bahwa saya kembali meninggalkan setengah hati saya di Jogjakarta.

    Perkenalan dengan Jogja selama 3 hari 2 malam meninggalkan kesan yang sangat membekas di hati dan pikiran. Lewat sebuah mata kuliah bernama Tugas Akhir, membawa segudang tanggung jawab berbentuk riset, saya sendirian ke Jogja. Persiapan pergi yang hanya memiliki tengat waktu satu hari ini menjadi trip pertama saya sendiri, menggunakan pesawat sendiri, dan semuanya serba sendiri.

  • Stories

    Mencinta Bayangan

    Beberapa minggu belakangan, ritme menulis saya terlihat menarik. Menarik karena berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Mengapa? Karena saya merasakan bahwa eager untuk menulis terasa begitu berbeda.

    Tidak perlu ditanya mengapa.

    Kalau banyak yang bilang, patah hati menghasilkan royalti, saya adalah salah satu orang yang percaya, menulis yang terbaik adalah (juga) ketika seseorang sedang merasakan jatuh cinta. Betul, jatuh cinta.

    Saya sedang merasa jatuh cinta. Bukan pada hujan. Bukan pada mendung. Bukan pada kegiatan alam lainnya.

  • Article

    Strange Girl

    There are a hundred things she has tried to chase away, the things she won’t remember, and that, she can’t even let herself think about because that’s when the birds scream, and the worms crawl, and somewhere in her mind it’s always raining a slow and endless drizzle.

    You will hear that she has left the country, that there was a gift she wanted you to have, but it is lost before it reaches you. Late one night the telephone will sign, and a voice that might be hers will say something that you cannot interpret before the connection crackles and is broken.

    Several years later, from a taxi, you will see someone in a doorway who looks like her, but she will be gone by the time you persuade the driver to stop. You will never see her again. Whenever it rains you will think of her.

    Originally wrote by Neil Gaiman
    Photo featured by here

  • Travel

    Bali

    “I left my half heart in Bali.”

    Mungkin itu adalah salah satu kalimat terbaik yang pernah saya temukan beberapa bulan setelah saya meninggalkan Bali. No, I am not come from Bali, I am just some local tourist who have this ‘love at first sight’ with Bali. Tidak pernah saya merasa begitu menemukan momen dimana saya bisa merasakan molekul-molekul perasaan hanya karena melihat sekumpulan foto berjudul “Bali” yang terselip di antara tumpukan foto di laptop, dan tidak sengaja terbongkar.

    Banyak hal menarik yang menyita perhatian saya mengenai Bali. Saya dan Bali seperti berbicara tanpa henti, tanpa jeda, dimana walaupun ada jeda itu hanyalah sebuah momen untuk berpikir. Seperti Jesse dan Celine dalam sekuel “Before Sunset” dan “Before Sunrise”, saya merasa begitu terkoneksi dengan Bali dan segala jenis keindahan di dalamnya.

  • Stories

    Mengenai Merelakan

    Saya membaca ini di timeline malam hari kemarin:

    Menulislah tentang apa saja malam ini. Lalu baca tulisan itu lima tahun lagi dan rasakan seberapa jauh kamu telah tumbuh semenjak hari ini. (@kartikajahja)

    Tergoda, saya mulai membaca-baca ulang draft tulisan, mulai dari yang ada di laptop sampai dengan di blog.

    Dari semuanya, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya. Menarik yang berarti membuat saya bernostalgia di masa beberapa tahun lalu, dimana tulisan saya masih berwarna begitu merah dan marah pada keadaan hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

    Seperti yang sering saya katakan, menulis adalah sebuah media untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata. Saya yang pada dasarnya tidak pandai berbicara perasaan lewat kata-kata, sangat nyaman berbincang lewat tulisan. Saya ingat satu kalimat menarik: “tangan saya jauh lebih jujur daripada mulut saya.”

  • Article

    Why Be Happy When You Could Be Normal?

    Truth for anyone is a very complex thing. For a writer, what you leave out says as much as those things you include. What lies beyond the margin of the text?

    The photographer frames the shot; writers frame their world. Mrs Winterson objected to what I had put in, but it seemed to me that what I had left out was the story’s silent twin.

    There are so many things that we can’t say, because they are too painful. We hope that the things we can say will soothe the rest, or appease it in some way. Stories are compensatory. The world is unfair, unjust, unknowable, out of control.