Bali

“I left my half heart in Bali.”

Mungkin itu adalah salah satu kalimat terbaik yang pernah saya temukan beberapa bulan setelah saya meninggalkan Bali. No, I am not come from Bali, I am just some local tourist who have this ‘love at first sight’ with Bali. Tidak pernah saya merasa begitu menemukan momen dimana saya bisa merasakan molekul-molekul perasaan hanya karena melihat sekumpulan foto berjudul “Bali” yang terselip di antara tumpukan foto di laptop, dan tidak sengaja terbongkar.

Banyak hal menarik yang menyita perhatian saya mengenai Bali. Saya dan Bali seperti berbicara tanpa henti, tanpa jeda, dimana walaupun ada jeda itu hanyalah sebuah momen untuk berpikir. Seperti Jesse dan Celine dalam sekuel “Before Sunset” dan “Before Sunrise”, saya merasa begitu terkoneksi dengan Bali dan segala jenis keindahan di dalamnya.

Continue Reading →

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Travel | Leave a comment

Mengenai Merelakan

Saya membaca ini di timeline malam hari kemarin:

Menulislah tentang apa saja malam ini. Lalu baca tulisan itu lima tahun lagi dan rasakan seberapa jauh kamu telah tumbuh semenjak hari ini. (@kartikajahja)

Tergoda, saya mulai membaca-baca ulang draft tulisan, mulai dari yang ada di laptop sampai dengan di blog.

Dari semuanya, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya. Menarik yang berarti membuat saya bernostalgia di masa beberapa tahun lalu, dimana tulisan saya masih berwarna begitu merah dan marah pada keadaan hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Seperti yang sering saya katakan, menulis adalah sebuah media untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa saya ungkapkan lewat kata-kata. Saya yang pada dasarnya tidak pandai berbicara perasaan lewat kata-kata, sangat nyaman berbincang lewat tulisan. Saya ingat satu kalimat menarik: “tangan saya jauh lebih jujur daripada mulut saya.”

Continue Reading →

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Why Be Happy When You Could Be Normal?

Truth for anyone is a very complex thing. For a writer, what you leave out says as much as those things you include. What lies beyond the margin of the text?

The photographer frames the shot; writers frame their world. Mrs Winterson objected to what I had put in, but it seemed to me that what I had left out was the story’s silent twin.

There are so many things that we can’t say, because they are too painful. We hope that the things we can say will soothe the rest, or appease it in some way. Stories are compensatory. The world is unfair, unjust, unknowable, out of control.

Continue Reading →

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Article | Leave a comment

Natal Di Sebuah Coffee Shop Favorite

Di sebuah coffee shop favorit, kami berbagi cerita. Dari ketidaktahuan menjadi rasa tahu yang begitu tajam diterjemahkan lewat kata-kata atau gerak tubuh. Penolakan demi penolakan yang berujung pada penerimaan. Ini cerita Natal di sebuah coffee shop favorit.

Saya mengenal banyak orang dalam proses perjalanan dua puluh satu tahun hidup. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan, ada yang membuat hati ini terasa begitu perih; dimana seluruh kehadiran elemen mahluk hidup bernama manusia ini saya syukuri keberadaannya.

Namun, untuk penutup tahun yang begitu menyenangkan, saya kembali ditegur oleh seorang sahabat lama, berbatas dengan Americano dan Frappucino milikinya. Kami memang berbagi banyak hal di hari yang kebetulan juga adalah Natal; dengan buku “Life Traveler” karya Windy Ariestanty dan dengan Majalah Asri terbaru.

Pembicaraan itu terhenti di sebuah titik yang tidak menyenangkan bagi saya. Tidak menyenangkan karena saya tidak mampu mendeskripsikan apa yang ada di dalam hati saya dan hanya digantikan dengan mata yang berair menahan segala kata yang tertahan di pikiran.

“Kamu sesungguhnya sama saja dengan mereka yang berlaga baik-baik saja, padahal di dalam kamu itu sudah perlu dibetulin,” ujarnya sambil menunjuk bagian tubuh yang (katanya) tempat hati dan perasaan berkumpul.

Continue Reading →

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Satu November Dua Ribu Dua Belas

Banyak hal terakumulasi di dalam pikiran saya saat ini. Banyak hal yang sudah pernah terucap dan dipikirkan, atau belum terucap namun sudah dipikirkan. Banyak kemungkinan atau probabilitas yang berputar-putar dikepala ini. Dan saya sesungguhnya benci dengan keadaan seperti ini.

Keadaan dimana saya mendengar seluruh yang dikatakan oleh orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa mengerti apa yang sesungguhnya hati dan pikiran saya inginkan dengan sistem win win solution.

Seseorang pernah berkata kepada saya: “Jangan pernah terlalu keras dengan diri sendiri.”

Continue Reading →

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Senja

Namanya Senja.

Senja tidak bisa melawan seluruh ketakutan yang ada di dalam tubuh dan jiwanya, bukan karena Senja tidak ingin namun karena ketidakjelasan masih mengambang sehingga Senja merasa harus berjaga-jaga.

Senja hanya bisa mematung.

Seluruhnya terasa buram. Pertanyaan tanpa jawaban.

Tidak tersisa apa-apa, selain penyesalan atas sebuah kejadian kecil di suatu taman pada sore senja itu. Senja tidak ingin mengingat detailnya, walau dia bisa mengingat sampai bagian tertidak penting dari semuanya. Tidak ada yang belum selesai, Senja hanya ingin melebur bersama dirinya tanpa bias.

Senja memperbolehkan dirinya bertanya dengan dirinya kali ini, mengobrol tanpa henti, dan meneruskan monolog tanpa arah dan membawanya kepada sebuah kenyataan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh.

Sudah banyak yang berkata di belakang Senja bahwa ia gila. Terlalu melankolis. Terlalu berpikir melebih-lebihkan. Senja kali ini sesungguhnya tidak peduli. Ia hanya ingin berbagi dan menjadi dirinya sendiri tanpa berpikir mengenai orang lain. Senja sudah terlalu lelah berpura-pura. Dia tidak ingin menjual apapun, ke siapapun, termasuk seluruh jenis cerita atau kisah hidupnya. Ia hanya simpel ingin dimengerti tanpa kata-kata.

Namun itu mungkin permintaan paling muluk dari seorang manusia.

Senja kali ini berbagi dengan segelas cokelat hangat, dibawah hujan deras, di sebuah payung kecil berwarna hijau dengan Helvetica tebal berwarna putih. Senja hanya ingin merasa jelas atas semuanya sebelum melakukan keputusan paling gila yang pernah ia putuskan… keputusan yang pernah dilakukannya dahulu kala, 6 tahun yang lalu.

Keputusan yang membawanya pada pilihan-pilihan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh. Atau ingin namun belum berani ia dekati?

Hujan turun, begitu pula dengan senja yang kini berganti dengan malam. Begitu pula dengan Senja.

Ia jadi teringat sebuah lirik lagu dari Johnny Cash… “I only focus on the pain, the only thing that’s real …. full of broken thoughts, I cannot repair…”

Mungkin ini semua tidak nyata, ya? Senja bertanya-tanya sambil menatap langit yang begitu gelap. Seluruh rasa sakit, seluruh rasa bahagia, seluruh tawa, seluruh tangis… mungkin mereka tidak nyata. Mungkin seperti mimpi, mereka akan mati dimakan lupa. Jadi mungkin, sepertinya, mereka tidak nyata.

Malam datang sudah semakin naik ke atas. Senja memilih kabur. Kabur dari semuanya.

Photo featured by here

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Parafrase | Leave a comment

← Older posts

Newer posts →