• Stories

    Natal Di Sebuah Coffee Shop Favorite

    Di sebuah coffee shop favorit, kami berbagi cerita. Dari ketidaktahuan menjadi rasa tahu yang begitu tajam diterjemahkan lewat kata-kata atau gerak tubuh. Penolakan demi penolakan yang berujung pada penerimaan. Ini cerita Natal di sebuah coffee shop favorit.

    Saya mengenal banyak orang dalam proses perjalanan dua puluh satu tahun hidup. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan, ada yang membuat hati ini terasa begitu perih; dimana seluruh kehadiran elemen mahluk hidup bernama manusia ini saya syukuri keberadaannya.

    Namun, untuk penutup tahun yang begitu menyenangkan, saya kembali ditegur oleh seorang sahabat lama, berbatas dengan Americano dan Frappucino milikinya. Kami memang berbagi banyak hal di hari yang kebetulan juga adalah Natal; dengan buku “Life Traveler” karya Windy Ariestanty dan dengan Majalah Asri terbaru.

    Pembicaraan itu terhenti di sebuah titik yang tidak menyenangkan bagi saya. Tidak menyenangkan karena saya tidak mampu mendeskripsikan apa yang ada di dalam hati saya dan hanya digantikan dengan mata yang berair menahan segala kata yang tertahan di pikiran.

    “Kamu sesungguhnya sama saja dengan mereka yang berlaga baik-baik saja, padahal di dalam kamu itu sudah perlu dibetulin,” ujarnya sambil menunjuk bagian tubuh yang (katanya) tempat hati dan perasaan berkumpul.

  • Stories

    Satu November Dua Ribu Dua Belas

    Banyak hal terakumulasi di dalam pikiran saya saat ini. Banyak hal yang sudah pernah terucap dan dipikirkan, atau belum terucap namun sudah dipikirkan. Banyak kemungkinan atau probabilitas yang berputar-putar dikepala ini. Dan saya sesungguhnya benci dengan keadaan seperti ini.

    Keadaan dimana saya mendengar seluruh yang dikatakan oleh orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa mengerti apa yang sesungguhnya hati dan pikiran saya inginkan dengan sistem win win solution.

    Seseorang pernah berkata kepada saya: “Jangan pernah terlalu keras dengan diri sendiri.”

  • Parafrase

    Senja

    Namanya Senja.

    Senja tidak bisa melawan seluruh ketakutan yang ada di dalam tubuh dan jiwanya, bukan karena Senja tidak ingin namun karena ketidakjelasan masih mengambang sehingga Senja merasa harus berjaga-jaga.

    Senja hanya bisa mematung.

    Seluruhnya terasa buram. Pertanyaan tanpa jawaban.

    Tidak tersisa apa-apa, selain penyesalan atas sebuah kejadian kecil di suatu taman pada sore senja itu. Senja tidak ingin mengingat detailnya, walau dia bisa mengingat sampai bagian tertidak penting dari semuanya. Tidak ada yang belum selesai, Senja hanya ingin melebur bersama dirinya tanpa bias.

    Senja memperbolehkan dirinya bertanya dengan dirinya kali ini, mengobrol tanpa henti, dan meneruskan monolog tanpa arah dan membawanya kepada sebuah kenyataan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh.

    Sudah banyak yang berkata di belakang Senja bahwa ia gila. Terlalu melankolis. Terlalu berpikir melebih-lebihkan. Senja kali ini sesungguhnya tidak peduli. Ia hanya ingin berbagi dan menjadi dirinya sendiri tanpa berpikir mengenai orang lain. Senja sudah terlalu lelah berpura-pura. Dia tidak ingin menjual apapun, ke siapapun, termasuk seluruh jenis cerita atau kisah hidupnya. Ia hanya simpel ingin dimengerti tanpa kata-kata.

    Namun itu mungkin permintaan paling muluk dari seorang manusia.

    Senja kali ini berbagi dengan segelas cokelat hangat, dibawah hujan deras, di sebuah payung kecil berwarna hijau dengan Helvetica tebal berwarna putih. Senja hanya ingin merasa jelas atas semuanya sebelum melakukan keputusan paling gila yang pernah ia putuskan… keputusan yang pernah dilakukannya dahulu kala, 6 tahun yang lalu.

    Keputusan yang membawanya pada pilihan-pilihan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh. Atau ingin namun belum berani ia dekati?

    Hujan turun, begitu pula dengan senja yang kini berganti dengan malam. Begitu pula dengan Senja.

    Ia jadi teringat sebuah lirik lagu dari Johnny Cash… “I only focus on the pain, the only thing that’s real …. full of broken thoughts, I cannot repair…”

    Mungkin ini semua tidak nyata, ya? Senja bertanya-tanya sambil menatap langit yang begitu gelap. Seluruh rasa sakit, seluruh rasa bahagia, seluruh tawa, seluruh tangis… mungkin mereka tidak nyata. Mungkin seperti mimpi, mereka akan mati dimakan lupa. Jadi mungkin, sepertinya, mereka tidak nyata.

    Malam datang sudah semakin naik ke atas. Senja memilih kabur. Kabur dari semuanya.

    Photo featured by here

  • Postcard Letter

    Thank You For The Sky

    So, today was … awesome. Or can I called today with the best Saturday I’ve had until now? I can, I guess. Remember, I once told you that happiness is a state of mind? Remember that I told you before about being happy is simple? I got a prove today.

    I, maybe, a very cheesy girl who really loves something related with nature. I can drop a tears only because I see a big rainbow after the rain. I feel so happy when I can spend a lot of night see the sky is full of stars. Mostly, everything about nature can make me happy.

    And today, I got a very (lemme say) early present for my next birthday. I got sky; a very deep, blue, cottony sky from Houston, Texas. I know it’s cheesy, I know it’s so weird, but for me, this is the best thing that someone gave to me. Ever.

    Why suddenly that people come up with sky? So, at our chat, I once said I really wanna see a sky from where he lives which is Houston, Texas. He said he can’t go outside and bring the video camera to lively record the sky, so he suggest to give me the sky I want to see in other way, which is video or photo.

    So, the next day after that chat, I asked him, ‘where is my sky?’ but (I think) he forgot about it. Today, suddenly he come up and sent me those 42 files. I really no have idea what he sent, because the last thing he sent to me was his own photo …. which is a very freak boy with broken teeth and blood covered his face. All around his face.

    …..Because I thought he wants to fool me again, I’m not expecting something good from all those 42 files.

    And when I opened it, look what I got… a very cottony sky from Texas. It makes me smile for the rest of the day. See? Being happy is simple, right? Happiness is a state of mind, right? When you tell your mind to be happy, you’ll happy. Vice versa.

    Call it cheesy. Call it stupid. But still, it’s a very best thing I ever had … a man who brought me sky. I mean, it’s sky! Even it’s only a picture but I still feel grateful.

    So, here, I specially made this post for you. For keeping my mind from thing named “forget” and for give you a special kind of thank you. So, thank you, Monster Alligator.

    It’s so sweet of you. 🙂

    (Anyway pardon my bad English. I try my best to make the grammar and stuff, right.)

  • Momentum

    Life Is Funny

    You feel alone. You feel like, every single dialogue that you do with other people just a bunch of shit. You try to do your best but you know you just messed it up, in the end.

    You don’t know what supposed you do. The only surely thing you know very sure is you always make a mistake. That’s it. Like … you don’t have any problem but you feel like your breath is taken away for something you don’t know.

    But the good news, your feeling is getting strong about something. Something like how funny people called themselves with best friend forever but they also talking about you behind your back. Strange.

    You know what, I had this feeling before and that’s why I always keep on my mind that I never want a close relationship with someone.

    “Because in the end, people will get hurts.”

    That quote I got from (500) Days of Summer. At the first when I watched the movie, I feel like Summer Finn is so arrogant. But now .. I know she is just true with herself.

    Yep. In the end, either you or your closest one will get hurt … or you hurt each other. Maybe because that’s how world works, Gotye can make his famous song. “Somebody That I Used To Know”

    Well, that’s because life play with us. Because life is so funny and they give us many kind of jokes that sometimes we don’t get and says: “It’s not funny, dude. It hurts.”

     

    Backyard Cafe, Teras Kota
    22:03
    (*ps: At the first, I decide not to publish this in any form and just keep it for myself. But in the end, I know I can’t do that and I decide to publish it.)

  • Parafrase

    Might Be

    the night was released by the time
    and reason coming without giving you a space to think
    things that you try to keep inside by yourself finally peeled off
    the intention changed

    you like turn off your way
    and just accept the way it is

    suddenly, you asking yourself about something that you can’t broke
    “is the night armor finally coming?”
    or there is no night armor? it is just a another cliche that world created?

    you only see black and white
    but suddenly, like a paint spills into one
    you finally see the colors; blue, pink, magenta, orange

    your world not only black and white

    but the worst is when you doesn’t want to think about that;
    might be the night armor can be true.
    might be the things not always peel off.
    might be the colors are true.

    might be.

    ….

    and
    it’s all because you scared to feel hurt again
    or maybe you just don’t realize the color that finally coming into your life.

    Tangerang, 6 October 2012
    Starbucks Coffee

    Photo featured by Rezky Nugraha