Sebuah Juni Bernama Bahagia

Seharusnya bersama denganmu adalah sebuah kebahagiaan dalam bentuk lain.

Nyatanya, hati tidak pernah bisa dibohongi. Bahagia memang begitu sederhana. Bahagia adalah pola pikir. Namun kadang kala, bahagia adalah juga perkara siapa yang ada di samping kita.

Kamu adalah bentuk paradoks yang begitu kontras. Bersamamu adalah bahagia ketika kamu juga adalah kenyataan yang begitu menyakitkan untuk dikenang. Kamu membuat kebahagiaan datang mutlak hanya dari dirimu. Bahaya yang diam-diam menusuk jiwa.

Mungkin saya bisa membohongi orang lain, tersenyum di depan mereka, mengatakan bahwa sejauh ini, semuanya terasa begitu indah. Namun begitu disapa kesendirian, saya tahu ini adalah kemunafikkan tingkat tertinggi.

Pembohong ulung.

Seseorang yang berlari dari kenyataan yang tak ingin tersingkap.

Namun sekali lagi:
Bahagia adalah pola pikir, bahagia adalah sederhana.

Kali ini, melewati malam sendiri yang begitu sederhana, hanya dengan gelap lampu, dengan lagu yang begitu sendu mengalun dari Bon Iver, saya berpikir dan mencerna. Saya mulai merasa kehilangan arah. Saya mulai merasa terbang tanpa tujuan, saya merasa begitu munafik. Saya merasa kehilangan diri saya. Kepada siapa saya bisa berbicara mengenai benar dan salah ketika memisahkan diri–antara benar dan salah– sudah begitu kesulitan. Saya ditekan keadaan, yang bodohnya ada karena ego yang begitu tinggi.

Seharusnya saya berhenti sebelum semua semakin racuh. Sebelum seluruh tenaga habis untuk berdiri menjadi diri yang bukan saya.

Tidak bisa. Bodoh.

Kebahagiaan semu ini terasa begitu indah.

Saya tidak tahu kemana saya berlari, atau berjalan, sekarang.

Kenapa kamu bisa menciptakan tawa yang begitu imortal dan saya hanya bisa menciptakan kebahagiaan semu untuk diri saya sendiri? Begitu miris.

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Why You Keep Coming Back

Because you’re addicted. Because you know exactly what Edward meant when he called Bella his own “personal brand of heroin” and you’re ashamed to admit you feel that way. Because you’re like a moth to the flame with this person, because you know you’ll get hurt in the end and yet. Because a part of you knows better and another part doesn’t want to; because you’re not ready to all-the-way know better. Because this is a suicide leap but the way they make you feel makes it somehow worth it.

Because they speak your language. Because they understand you even when they don’t. Because on some deep, intrinsic level you just get each other. Because sometimes it seems like they know you better than you know yourself. Because they’ve seen the worst of you and the best; because, regardless of how they hurt you, you still feel an inexplicable trust.

Because you’re afraid. You’re afraid you’ll never be loved like that again; you’re afraid no one else will be in tune with you, your moods, the essence of who you are in this necessary specific way. Because you’re afraid you don’t have the capacity to love anyone like that again; afraid all your love energy is spent, afraid you’re incapable of ever emotionally getting it up for anyone else. Because you’ve never been so vulnerable with anyone else and the thought of even trying makes you feel hopeless and tired.

Because you think this time will be different, think that with all the naiveté of someone proposing marriage to their drug addicted mate hoping that’s the move that will cure them. “This time will be different” — you hear people say that and you roll your eyes so loud you wake up the neighbors but you do exactly the same thing; the same thing over and over and expecting different results. Because you think you can make this work if you try a little harder, if you just push a little more.

Because you believe in it, against your better judgment. Because you think it’s worth it; because you don’t stop to consider the very real possibility that the negatives outweigh the positives. Because you think you owe each other, your history, something still; because you feel inherently bonded and you don’t want to break it. Because you leave logic out of it; because after all, the heart wants what the heart wants and what can you do about that.

Because you live in the past, because you remember who you were once, who they were, and what you had; remember this and want to rewind. Because you think it’s possible to somehow recreate an idealized past in an unsure future. Because you’ve been holding onto the possibility of becoming a whole again for months, for years, safe and protected by the idea that no matter what happens, you’re not alone because of that faint background possibility of us.

Because you think they’ll change, you’ll change, the circumstances will change; things will somehow mysteriously get better. Because you think this time around you’ll appreciate each other because you know what it’s like to be without. Because you have kids together. Because you have a dog together. Because you have amazing memories together. Because you have an “amor vincit omnia” tattoo. Because Hollywood or literature or God made you believe that love is enough. Because you don’t want to think about the possibility of a world in which it isn’t.

Originally wrote by Mila Jaroniec

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Article | Leave a comment

Jam Satu Dini Hari

Saya berdiri diantara kumpulan pikiran yang memakan sel-sel otak dalam diri saya sejak beberapa jam lalu.

Tidak ada jawaban; saya hanya menangis dan memikirkan logisme diantara kejadian nurani ini. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya orang yang sering saya dengar namanya dari orang lain yang kebetulan berbagi nama sebagai sehabat baik. Dia juga bukan orang yang pernah berbicara apapun pada saya. Namun airmata ini tidak berhenti, bahkan menangis untuk alasan yang sendiri juga tidak tahu.

Sesungguhnya, ketika bertanya pada Tuhan, “mengapa saya menangis?” dan untaian lagu Michael Buble mengalun, saya hanya bisa menahan nafas untuk tidak membiarkan seluruh perasaan ini melompat-lompat keluar dari diri saya.

Dia bukan siapapun, dan saya tidak mengenal dia. Tetapi, kenapa mata itu terlihat begitu sedih? Kenapa saya seperti bisa merasakan setiap senti kesedihan yang ada di dalam dirinya? Apa karena kami menyayangi orang yang sama, atau hanya murni karena sisi melankolis saya sedang berlebihan

Sesungguhnya, saya tidak tahu mengapa perasaan ini bisa ada. Jadi, siapapun kamu disana, berdiri untuk apapun kamu hari ini di depan saya… saya sedang mendoakan kebahagiaan untukmu.Kebahagiaan yang juga sedang saya perjuangkan untuk diri saya sendiri. Kalau ada momen dimana saya bisa mengenal kamu secara pribadi, berbicara, dan berbagi mengenai banyak hal, perkenankan saya memelukmu dan memberitahu bahwa bahagia itu indah, walau hanya satu per sekian detik.

12. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Mencintai Karena Ada

aku sudah berusaha semaksimal mungkin, Kesatria
untuk melepaskan semuamuanya dalam hidup

semaksimal-maksimalnya

namun yang ada hanyalah sepi
terpanah dibalik sukma dan jiwa

kita tahu, Kesatria

cinta ini ada karena ada
cinta ini hidup karena memang
ia harus berkembang membesar
sebelum orang lain menariknya
keluar dari atomatom tubuh

kita tahu, Kesatria

kita samasama tahu

mencintaimu karena ada
mencintaimu bukan karena alasan
mencintaimu karena menjadi sahabat bukanlah pilihan

kita samasama tahu, Kesatria

11. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Parafrase | Leave a comment

Manusia Sempurna

Sebuah posting blog pada Januari, 2010 oleh Reven Putra, berjudul Manusia Sempurna.

Gue pikir semua orang harus punya pantulan ‘human perfect’ di masing-masing diri mereka, dimana manusia sempurna itu menjadi inspirasi dalam menjalankan hidupnya. Dimana manusia sempurna itu menjadi seseorang yang memberitahu tentang dunia secara nyata.

Gue percaya, setiap orang diberikan satu manusia sempurna versi mereka masing-masing sama Yang Diatas, karena Tuhan selalu mengirimkan sesuatu dengan caraNya sendiri.

Walau, well.. gue tahu, manusia sempurna itu memang tidak pernah ada. Ia cuma sebuah khayalan gue, idiom dari gue, untuk mendeskripsikan seseorang yang mengenal gue dengan sangat baik, dan menginspirasi gue dengan sangat besar.

Manusia itu bukan Tuhan. Dia hanya mendapat label manusia sempurna, tapi ia bukan Tuhan

Dia adalah orang yang pernah ada dalam bagian hidup kita, terlalu indah untuk dikenang, terlalu menyakitkan untuk dihilangkan.

Dia adalah seseorang yang pernah ada, seseorang yang selalu menuntun kita untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari kita.

Gue pernah punya satu ‘perfect human’ versi gue sendiri. Pernah, pernah, pernah punya. Namanya Mika.

Mika adalah cewek pertama yang tahu kalau gue benci setengah mati dengan bokap yang hanya bisa kasih gue harta, tanpa bisa mengajarkan gue apa itu bahagia. Mika adalah cewek pertama –dan gue harap yang terakhir– yang tahu betapa takutnya gue dengan cicak dan kadal. Cewek pertama yang tahu kalau kepala gue pernah ada jahitan besar karena pernah terjatuh dari lantai 3 rumah saat sedang berantem besar sama bokap, dan beliau tanpa sengaja mendorong gue.

She’s always be my first list – dan tidak pernah berubah sedetik pun sampai saat ini. Mika is too abstract to be score, too abstract to understood… Mika simply unpredictable.

Namun sekarang semuanya sudah beda, dan gue cuma bisa bilang maaf beribu kali ke Mika.

Tiga hari kemudian, masuk sebuah headline dan sub headline koran yang sengaja di scan dan di posting di blog yang sama:

KECELAKAAN MOBIL DI KM 37 TOL JAKARTA – BANDUNG MEMAKAN KORBAN.
“Tidak disangka, kecelakaan kembali terjadi di sekitaran tol Pasteur yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Korban langsung meninggal di tempat bernama Mika Senjaputri (20), dan korban patah kaki dan sekaligus pengemudi yang sekarang ada di Rumah Sakit Pasteur bernama Reven Putra (22), berasal dari Jakarta.”

11. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Dance

why should I cry
when am I with you, it’s like laughing everyday

why should I grieve
when am I with you, crying never existed

why shouldn’t I be grateful
when am I with you, all kind of insult and
all sorts of negativity
are so easy to surmounted

why should I stop smiling
when am I with you, grace are around us

why oh why
why oh why

you no need to talk
just show me….

Dance

….and we will dance under my rainbow life.

11. July 2014 by Ribka Anastasia
Categories: Parafrase | Leave a comment

Newer posts →