• Why You Keep Coming Back

    Because you’re addicted. Because you know exactly what Edward meant when he called Bella his own “personal brand of heroin” and you’re ashamed to admit you feel that way. Because you’re like a moth to the flame with this person, because you know you’ll get hurt in the end and yet. Because a part of you knows better and another part doesn’t want to; because you’re not ready to all-the-way know better. Because this is a suicide leap but the way they make you feel makes it somehow worth it.

    Because they speak your language. Because they understand you even when they don’t. Because on some deep, intrinsic level you just get each other. Because sometimes it seems like they know you better than you know yourself. Because they’ve seen the worst of you and the best; because, regardless of how they hurt you, you still feel an inexplicable trust.

    Because you’re afraid. You’re afraid you’ll never be loved like that again; you’re afraid no one else will be in tune with you, your moods, the essence of who you are in this necessary specific way. Because you’re afraid you don’t have the capacity to love anyone like that again; afraid all your love energy is spent, afraid you’re incapable of ever emotionally getting it up for anyone else. Because you’ve never been so vulnerable with anyone else and the thought of even trying makes you feel hopeless and tired.

    Because you think this time will be different, think that with all the naiveté of someone proposing marriage to their drug addicted mate hoping that’s the move that will cure them. “This time will be different” — you hear people say that and you roll your eyes so loud you wake up the neighbors but you do exactly the same thing; the same thing over and over and expecting different results. Because you think you can make this work if you try a little harder, if you just push a little more.

    Because you believe in it, against your better judgment. Because you think it’s worth it; because you don’t stop to consider the very real possibility that the negatives outweigh the positives. Because you think you owe each other, your history, something still; because you feel inherently bonded and you don’t want to break it. Because you leave logic out of it; because after all, the heart wants what the heart wants and what can you do about that.

    Because you live in the past, because you remember who you were once, who they were, and what you had; remember this and want to rewind. Because you think it’s possible to somehow recreate an idealized past in an unsure future. Because you’ve been holding onto the possibility of becoming a whole again for months, for years, safe and protected by the idea that no matter what happens, you’re not alone because of that faint background possibility of us.

    Because you think they’ll change, you’ll change, the circumstances will change; things will somehow mysteriously get better. Because you think this time around you’ll appreciate each other because you know what it’s like to be without. Because you have kids together. Because you have a dog together. Because you have amazing memories together. Because you have an “amor vincit omnia” tattoo. Because Hollywood or literature or God made you believe that love is enough. Because you don’t want to think about the possibility of a world in which it isn’t.

    Originally wrote by Mila Jaroniec

  • Jam Satu Dini Hari

    Saya berdiri diantara kumpulan pikiran yang memakan sel-sel otak dalam diri saya sejak beberapa jam lalu.

    Tidak ada jawaban; saya hanya menangis dan memikirkan logisme diantara kejadian nurani ini. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya orang yang sering saya dengar namanya dari orang lain yang kebetulan berbagi nama sebagai sehabat baik. Dia juga bukan orang yang pernah berbicara apapun pada saya. Namun airmata ini tidak berhenti, bahkan menangis untuk alasan yang sendiri juga tidak tahu.

    Sesungguhnya, ketika bertanya pada Tuhan, “mengapa saya menangis?” dan untaian lagu Michael Buble mengalun, saya hanya bisa menahan nafas untuk tidak membiarkan seluruh perasaan ini melompat-lompat keluar dari diri saya.

    Dia bukan siapapun, dan saya tidak mengenal dia. Tetapi, kenapa mata itu terlihat begitu sedih? Kenapa saya seperti bisa merasakan setiap senti kesedihan yang ada di dalam dirinya? Apa karena kami menyayangi orang yang sama, atau hanya murni karena sisi melankolis saya sedang berlebihan?

     

    Sesungguhnya, saya tidak tahu mengapa perasaan ini bisa ada. Jadi, siapapun kamu disana, berdiri untuk apapun kamu hari ini di depan saya… saya sedang mendoakan kebahagiaan untukmu.Kebahagiaan yang juga sedang saya perjuangkan untuk diri saya sendiri. Kalau ada momen dimana saya bisa mengenal kamu secara pribadi, berbicara, dan berbagi 08’ mengenai banyak hal, perkenankan saya memelukmu dan memberitahu bahwa bahagia itu indah, walau hanya satu per sekian detik.
    Photo featured by here
  • Mencintai Karena Ada

    aku sudah berusaha semaksimal mungkin, Ksatria
    untuk melepaskan semuamuanya dalam hidup

    semaksimal
    maksimalnya

    namun yang ada hanyalah sepi
    terpanah Toy dibalik sukma dan jiwa

    kita A tahu, Ksatria

    cinta ini ada karena ada
    cinta ini hidup karena memang
    ia harus berkembang membesar
    sebelum orang lain menariknya
    keluar dari atomatom tubuh

    kita tahu, Ksatria

    kita samasama tahu.

  • Manusia Sempurna

    Sebuah Dance posting blog pada Januari, Efficiently 2010 oleh Reven Putra, berjudul Manusia Sempurna.

    Gue pikir semua orang harus punya pantulan ‘human perfect’ di masing-masing diri mereka, dimana manusia sempurna itu menjadi inspirasi dalam menjalankan hidupnya, dimana manusia sempurna itu menjadi seseorang yang memberitahukan tentang dunia secara nyata.

    Gue percaya, setiap orang diberikan satu manusia sempurna versi mereka masing-masing sama Yang Diatas, karena Tuhan selalu mengirimkan sesuatu dengan caraNya sendiri.

    world! Gue tahu, manusia sempurna itu memang tidak pernah ada. Ia cuma sebuah khayalan gue, idiom dari gue, untuk mendeskripsikan seseorang yang mengenal gue dengan sangat baik, dan menginspirasi gue dengan sangat besar.

    Manusia itu bukan Tuhan. Dia hanya mendapat label manusia sempurna, tapi ia bukan Tuhan

    Dia adalah orang yang pernah ada dalam bagian hidup kita, terlalu indah untuk dikenang, terlalu menyakitkan untuk dihilangkan.

    Dia adalah seseorang yang pernah ada, seseorang yang selalu menuntun kita untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari kita.

    Gue pernah punya satu ‘perfect human’ versi gue sendiri. Pernah, pernah, pernah punya. Namanya Mika.

    Mika adalah cewek pertama yang tahu kalau gue benci setengah mati dengan bokap yang hanya bisa kasih gue harta, tanpa bisa mengajarkan gue apa itu bahagia these details. Mika adalah cewek pertama –dan gue harap yang terakhir– yang tahu betapa takutnya gue dengan cicak dan kadal. Cewek pertama yang tahu kalau kepala gue pernah ada jahitan besar karena pernah terjatuh dari lantai 3 rumah saat sedang berantem besar sama bokap, dan beliau tanpa sengaja mendorong gue.

    She’s always be my first list – dan tidak pernah berubah sedetik pun sampai saat ini. Mika is too abstract to scored, too abstract to understood, Mika simply unpredictable.

    cheap jerseys China Namun sekarang semuanya sudah beda, dan gue cuma bisa bilang maaf beribu kali ke Mika.

    Tiga hari kemudian, masuk sebuah headline dan sub headline koran yang sengaja di scan dan di posting di blog yang sama:

    KECELAKAAN MOBIL DI KM 37 TOL In JAKARTA – BANDUNG MEMAKAN KORBAN.
    “Tidak disangka, kecelakaan kembali terjadi di sekitaran tol Pasteur yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Korban langsung meninggal di tempat bernama Mika Senjaputri (20), dan korban patah kaki dan sekaligus pengemudi yang sekarang ada di RS. Pasteur bernama Reven Putra (22), berasal dari Jakarta.”

  • Dance

    Post Image

    why I should cry
    if with you, it’s like laughing everyday

    why I should grieve
    if with Protection you, crying as Buttons if its existence had never existed

    why N1 I shouldn’t be aenean grateful
    if with you, all kinds of insults
    and all sorts of wholesale jerseys negative things
    so easy to be surmounted

    why I should stop smiling
    if with you, smiling is like a good friend

    why oh why
    why oh why

    you no need to appendix talk
    just show me….

    Dance

    ….and we will dance under my rainbow life.

    Photo feature by here