Himalaya

Aku berdoa. Kamu berdoa. Kita sama-sama memanjatkan cinta kepada Pencipta lewat sebuah doa mengenai keinginan mencapai Himalaya.

Aku menua. Kamu menua. Kita berempati terhadap satu sama lain; terkadang melupa, bahwa cinta adalah substansi esensial dalam hidup. Bahwa cinta adalah kekuatan hakiki untuk mencapai puncak tertinggi di Himalaya.

Pertemuan kita berawal dari kesederhanaan kemudian menjadi segala keapaadaan. Pertemuan kita akhirnya mengajarkan cinta adalah sebuah uji daya perjuangan dengan cara yang berbeda-beda pada setiap orang.

Kita adalah Himalaya. Indah, namun sulit untuk dicapai sampai titik terakhirnya. Perjuangan mendaki Himalaya dinyatakan wajib dilalui oleh manusia-manusia yang profesional pada pendakian gunung.

Namun boleh kuingatkan sedikit: 1) profesional adalah terus berjuang mencapai objektivitas dan 2) sesusah itu mendaki Himalaya, keindahannya di akhir tidak tertandinggi oleh apapun.

Kita masing-masing adalah Himalaya. Kita memandang pada satu titik puncak tertinggi bersama warna pelangi yang berbaur dengan gunungan awan.

Sehingga, dengan seluruh perjalanan mencapai Himalaya yang sudah lumayan jauh untuk dilepas ini, bisakah kamu bayangkan, lima atau sepuluh tahun dari sekarang;

Misalkan kita duduk bersama di sebuah teras rumah dengan halaman luas, ditemani siur angin pedesaan di pinggir daerah Bandung.

Misalkan kita berbagi cerita setiap malam, berargumentasi mengenai mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, ditemani dengan kicau deru suara jangkrik malam hari.

Misalkan kita berkeliling dunia, menikmati berbagai jenis kopi dengan dua orang anak kecil yang berteriak minta diberi perhatian.

Misalkan di suatu malam, kamu kesakitan, dan kita mengerti bahwa berdua adalah cara indah yang diberikan Tuhan pada setiap manusia dimuka bumi ini untuk saling menguatkan.

Pembayangan mengenai ini menjadi tenaga dan inspirasi yang tak pernah habis untuk terus bertahan, dengan segala kesalahan, dengan segala keindahan, dengan segala kesulitan, dengan segala tantangan.

Karena mendaki Himalaya bersamamu nampaknya menjadi mungkin. Semoga kamu-pun tidak menyerah untuk mendaki Himalaya bersamaku.

Photo Courtesy: Junebug Wedding

 

22. May 2017 by Ribka Anastasia
Categories: Parafrase, Stories | Leave a comment

Memilih Mana: Cinta Pencipta atau Cinta Cinta?

Bagi saya yang rajin menjadi pengunjung gereja setiap minggunya, judul diatas pasti menjadi sungguh kontroversial. Pemeluk agama, siapapun mereka, pasti tanpa berpikir panjang akan menjawab lugas: “saya memilih mencinta Pencipta saya.” Jawaban berikut adalah lumrah; dimana menurut saya, sejatinya jawaban seperti apapun adalah lumrah. Saya bukan berkapasitas menilai benar atau salah atas pilihan orang lain.

Di Indonesia, fenomena seperti ini masih memiliki ketertarikan tersendiri. Seorang beragama, dalam budaya non-monokromatik agama, tanpa disengaja pasti bersinggungan terhadap manusia lain dengan perbedaan keyakinan. Lumrah. Yang (kurang) lumrah, setidaknya di Indonesia, adalah ketika harus menyadari bahwa “bersinggungan” tersebut memiliki kemungkinan menjadi cinta dan berpotensi berakhir kepada keinginan untuk komitmen seumur hidup alias menikah.

Continue Reading →

14. August 2016 by Ribka Anastasia
Categories: Article, Momentum, Stories | Leave a comment

AADC 2: Film Yang Tidak Pernah Gagal Membuat Fenomena

Sebagai salah satu generasi era 90-an, film Ada Apa Dengan Cinta merupakan salah satu tolak ukur tingkat kegaulan seseorang pada jaman itu. Kala itu, saya masih SMP ketika menemukan sosok Rangga & Cinta; walau yang paling membuat saya terpesona adalah bagian puisi dan buku karya Chairil Anwar.

Bergulir era selama hampir 14 tahun, aura film ini nampak veteran di kalangan pecintanya. Terbukti ketika konfirmasi sekuel film ini muncul, euforia yang begitu hyper sangat terasa kental. Penonton membludak; fakta bahwa ada film Indonesia yang berhasil mengalahkan film luar tidak kalah fenomenal yakni Civil War, menjadi bukti paling otentik bahwa AADC2 ini hyper-euphoria.

Sesungguhnya, saya tidak ingin menuliskan banyak review buruk mengenai film ini. Kontemplasi sebelum akhirnya menulis review selama beberapa bulan kebelakang membuat saya memutuskan hanya menulis apa yang baik. Ini dikarenakan: ‘man, film Indonesia ngalahin Civil War, kapan lagi?’

Continue Reading →

10. June 2016 by Ribka Anastasia
Categories: Movie, Review | Leave a comment

Mengenai Pernikahan

Terketuk saya membaca sebuah lafalan mengenai #somedayiwillgetmarried yang sempat booming beberapa waktu lalu di linimasa Path saya.

B8C7X3SIcAENZJx.jpg-large

Pernikahan merupakan sebuah momen yang mendadak begitu sering saya dengar frasanya. Salah satu alasan sederhana saja: umur saya kini bertransformasi menuju seperempat abad, sehingga menikah adalah budaya yang normal terjadi.

“Aku, kalau mau menikah mah gampang aja. Tinggal tunjuk cewek-cewek di kampung (pacar saya asli Garut, Bandung), terus ajak kawin. Tapi kan menikah nggak semudah itu.” – Pacar, mengenai pernikahan.

Belakangan ini dunia membuat tingkat pesimistis terhadap pernikahan melonjak tinggi. Saya melihat banyak perselingkuhan, baik hati ataupun fisik, yang membuat kepala menggeleng miris.

Saya melihat, kemudian menjadi takut; takut bahwa cinta akan berhenti ketika pernikahan ditanda-tangan untuk seumur hidup.

Continue Reading →

28. March 2016 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum | Leave a comment

Kecewa Itu (Sebenarnya) Tunggakan

Ini kali pertama saya merasakan kecewa tak tertahan; ingin dikeluarkan tapi tak mampu, tak ingin dikeluarkan akhirnya malah memakan sebagian emosi yang berujung tarikan nafas pada setiap waktu.

Saya jadi gatal mengutip kalimat Brad Warner:
“Disappointment is just the action of your brain readjusting itself to reality after discovering things are not the way you thought they where.”

Bahasa mudahnya: Kekecewaan adalah tindakan dari kepala kita untuk melakukan tindakan penyesuaian dengan sendirinya ketika mendapatkan sebuah keadaan berbeda dari ekspektasi alias gagal maning.

Continue Reading →

24. January 2016 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum | Leave a comment

Belajar Mengeja Belajar

Sekali lagi saya belajar untuk menkaji kata belajar sekaligus mematahkan idiom bahwa hidup adalah lingkaran pelajaran yang membosankan. Nyatanya, pelajaran hidup tidak pernah habis dan itulah yang membuat berwarna.

Pada sebuah siang menyenangkan, ditengah hari libur dari penat pekerjaan, saya diharuskan menjaga hati (serta emosi) mendengar sebuah kejujuran dari seorang laki-laki berkepala tiga yang belakangan bertransformasi menjadi teman bincang menyenangkan.

“Jadi saya selingkuhan?” ujar saya tidak percaya, sembari menahan agar mata saya tidak mendelik lebar, sekaligus tangan agar tidak menepuk keras bahunya… atau tangannya… atau apapun dari tubuhnya yang mampu mentransfer emosi. Ia tidak menjawab dan hanya menarik nafas, panjang dan berat.

Continue Reading →

11. December 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum | Leave a comment

← Older posts

Newer posts →