Percakapan Sore Hari: Mengenai Bertemu Inspirasi

(Yang katanya dan sering dibicarakan dengan) Semesta,

Selamat pagi.

Terima kasih atas inspirasi tanpa batas sore hari lalu.

Sore di hari lalu, berbatasan dengan kopi hitam dan pencinta kopi yang kebingungan memesan kopi jenis apa di Starbucks, saya mengalami percakapan sore hari yang begitu menyenangkan di atas semesta ini.

Percakapan sore hari lalu seperti sebuah kumpulan inspirasi tak berbatas, namun memiliki nyawa yang sangat terintegrasi dengan jiwa. Percakapan sore hari lalu seperti sebuah oase ditengah kelelahan mencari inspirasi dan berbicara dengan bobot tinggi mengenai apapun.

Percakapan sore hari lalu mengingatkan saya mengenai wejangan jurnalis masa lalu. Katanya, menulis harus menggunakan mata subjektif dan, untuk sekali ini, kata “subjektif” membuat saya takut. Ketakutan terbesar saya adalah menjadikannya “terlalu-tidak-manusia” dan memberikan parafrase indah agar pembaca bisa turut merasakan betapa magical-nya percakapan sore hari yang begitu menginspirasi. Saya takut tidak menjabarkan fakta, melainkan fiksi-asumsi yang sudah mengawang di kepala sejak 15 menit percakapan dimulai.

2.4

Ini mungkin akan jadi kegiatan rutin.

Namun, tepat setahun lalu, saya menulis surat ulang tahun kepada diri sendiri di umur 23, disini. Entah saya yang memang pada dasarnya melodramatik atau karena keadaan simpel sedang tidak bersahabat, saya kabur… kabur, dan untuk pertama kalinya memilih berganti hari ulang tahun di Bandung. Satu kota yang hanya memakan waktu maksimal empat jam dari Jakarta, namun untuk satu alasan yang tidak tahu mengapa, terasa begitu bersahabat.

Alasan saya kabur sebenarnya sungguh sederhana. Tahun ini, saya merasa menjadi manusia paling bodoh yang pernah ada dan tercipta di muka bumi. Me-recall apa yang menjadi doa saya di tahun lalu: “Semoga saya bisa berdiri sampai angka 2 bertemu angka 4 dan mengkisahkan satu cerita hidup tentang cinta yang selama ini saya cari.”

Mungkin, doa ini berkontribusi paling maksimal atas segala kebodohan, ketidaklogisan pikiran yang memamahbiah sejak saya berada di umur 23 tahun. Ketakutan, ketidakpercayaan, ketidakmampuan untuk jujur dengan diri sendiri, serta keinginan kuat menyenangkan orang terdekat adalah permasalahan utama saya. Masalahnya saya terkadang lupa: orang terdekat diri saya, adalah diri saya sendiri.

Konsep Memaafkan

Saya jarang menuliskan kalimat ini, tapi yes, saya adalah seseorang yang masuk dalam kategori sering pergi ke gereja. Bukan hanya rutinitas, ada sebuah kegiatan dan keinginan di dalam rumah itu. Namun jangan khawatir karena saya tidak akan membahas mengenai bagaimana seseorang harus hidup dalam norma gereja dan konfliknya. No.

Tepat pagi ini, diantara ibadah Kenaikan Tuhan Yesus, saya mendapat satu hal mengenai, tentu saja, kehidupan.

Belakangan, saya sedang mengalami early quarter life crisis. Banyak hal yang saya pertanyakan, dengan kuota pertanyaan lebih sulit dari saat saya tidak berada dalam fase krisis ini. Banyak pola pikir hidup yang berubah, dan saya mulai mengambil keputusan yang terasa “sangat tidak saya.”

Pagi ini, lewat satu khotbah panjang dari Gembala Pendeta, saya mendapat sedikit kesimpulan dari hidup: whatever life goes, when you have hate in your heart, all teories will go wrong.

Ada satu quote yang menarik: “I forgive but I will not forget.

Satu kalimat (yang katanya) bijaksana mengenai konsep kebencian dan memaafkan. Satu kalimat yang sering menjerumuskan seseorang dan memporakporandakan konsep memaafkan.

Menariknya, dewasa ini, ketidakmampuan melupakan kesalahan biasanya berakhir pada kemampuan untuk bombardir rasa di sosial media ─ which, sometimes, I find so funny. Sosial media dan drama digitalnya adalah salah satu yang kerap membuat proses memaafkan jadi timpang. Yes, I forgive… but I do forget? Hmm, not really. Atau, ketika kita merasa sudah melakukan tindakan/progresi memaafkan, namun atas nama inner circle di Path atau lock profile di Twitter, kita tetap berbicara mengenai status sebal. IS IT really an act of forgiveness? Saya bukanlah manusia dengan timeline suci di sosial media. Namun saya bisa pastikan, sejak beberapa tahun terakhir, saya belajar untuk mengutarakan perasaan-perasaan penting tidak di sosial media, namun face to face alias bicara langsung.

Baca Juga: Forgiveness

Pada hari ini saya belajar, satu hal yang tidak bisa dilakukan adalah memaafkan tanpa melupakan. Melupakan seluruh kesalahan adalah paket komplit-tidak-bisa-dipisahkan dari memaafkan. Kebencian tidak pernah membawa hidup kita ke titik manapun. Ketidaksukaan atas sesuatu tidak akan memberikan kita waktu untuk mencintai hal lain. Yes, you allow to not get along with someone; but not hate them. Hate is overrated and it costs you everything.

(This Is My #NoteToSelf)

Filosofi Kopi: Film Penuh Filosofi

oleh: Ribka Anastasia Setiawan

Kalau boleh jujur, sebagai penikmat kata dan musik dari Dewi “Dee” Lestari, sudah kerap kali saya dikecewakan dengan adaptasi filmnya. Mulai dari Perahu Kertas yang (seharusnya) lebih mudah diterjemahkan secara visual, sampai Supernova yang absolut tidak memiliki batasan visual pasti.

Filkop-02

Memberanikan diri, saya ambil kesempatan di Jumat malam untuk berbagi dengan salah satu film karya Angga Dwimas SasongkoFilosofi Kopi. Sudah lama saya mengenal novelet “Filosofi Kopi”, dan — seperti para pembaca umumnya– saya sudah membayangkan dengan samar-samar mengenai Ben & coffee shop bernama Filosofi Kopi.

Pertanyaan Mengenai Kamu

Now Listening: Tiap Senja – Float

Ini sudah lewat tiga bulan dan saya masih bertanya-tanya mengenai kamu. Mengenai saya. Mengenai kita.

Saya sudah lelah daya menghisap seluruh emosi sendirian… saya hanya ingin bertanya kepada kamu, seperti dulu saya bertanya banyak hal.

Semua orang berkata, kamu hanya menggunakan saya atas nama kepentingan. Saya berusaha menepi asumsi itu, tapi tak mampu menahan bisik dan tanya: “betulkah?”

Saya mengingat seluruh detail hari-hari yang kita jalani. Seluruhnya, tanpa jeda. Seharian bermalam di Jakarta saat pergantian hari menuju ulang tahun, percakapan setiap menit via telepon, berbagi kisah di Pantai Melayu dan kamu di Jakarta, ucapan kangen pertama kali ….. semuanya masih melekat di kepala dan terlihat nyata.

Saya ingin bertanya, melihat ke dalam matamu, mencoba meraih jawaban disana dari satu pertanyaan yang tertahan sepanjang nafas: semuanya pura-pura? Apakah hanya saya yang berlebihan merasakan rasa dan menafsir emosi?

Katamu, kamu tidak tahu seberapa jauh saya disakiti dan dibuat lupa dengan kata percaya. Saat itu, saya hanya bisa menjawab dalam hati, “kamu membuat saya lupa bahwa saya melupa kata percaya… saya hanya takut mengatakan itu, terang-terangan.”

Walau pada akhirnya, seberapapun saya mencoba menjelaskan kepada kamu, cinta adalah rasa. Mungkin kita kurang merasakan cinta itu, atau saya salah menafsir emosi, atau kamu memang persis seperti apa yang mereka semua katakan.

Demi apapun, berikan saya satu penjelasan yang realistis, bukan surealis, mengenai semua ini. Bentangan kamu jelas, simbolik antar manusia yang terbuka, namun saya meluruh dengan asa. Kalau boleh mengutip lirik lagu yang saat ini saya dengar:

Tidakkah bimbang menyiksa, padahal masih banyak pulau yang dapat kamu temu? Sejenak saja, hampirikku… biar riak berlabu di pantaiku.

3:25 PM
Starbucks Coffee

Forgiveness

Ada kejadian yang masih tersimpan baik di memori kepala saya: Tragedi Air Asia dan Charlie Hebdo. Yes, keduanya punya latar belakang kisah yang berbeda; satu mengenai idealisme, sedangkan yang satu mengenai… well, mesin yang rusak, penerbangan yang tidak harusnya ada pada jam itu, bahkan (katanya) pemutihan.

Satu pikiran berlompat dalam kepala saya ketika membaca ini: “karena kita, saya, Anda, mungkin dapat meninggal di esok hari, bahkan mungkin detik kesepuluh setelah kalimat ini.