Fellexandro Ruby

Kata Fellexandro Ruby mengenai pendidikan di Indonesia:

Gue adalah produk yang hanya diajari untuk mengingat, menghafal, akan tetapi tidak untuk mengerti dan memahami. Gue dan generasi seangkatan didoktrin untuk menyimpan informasi tanpa mampu menghubungkan informasi tersebut dengan dunia nyata. Ini akhirnya membuat sebuah fenomena: mahasiswa fresh graduate yang lulus dan punya gelar tidak industry-fit.


Fellexandro Ruby atau yang lebih dikenal dengan @captainruby pada akun sosial medianya merupakan food enthusiasm dibalik Wanderbites. Pekerjaan utamanya adalah seorang Fotografer & Videographer di bidang makanan yang memiliki kecintaan lebih pada menulis.

Dalam wawancara untuk: KETIKA.co.id

26. October 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Kata Mereka | Tags: | Leave a comment

Berhentikan Kereta Ini, Cukup Sekali Saja

Wajah itu selalu bertekun di balik layar komputer, membuat matanya tidak bisa melihat terlalu jauh, terlalu dekat, dan terlalu malam. Ia relakan seluruh waktu dalam hidupnya untuk menghidupi orang lain yang bukan dirinya sendiri. Ia dengan sederhana, namun berhasil secara utuh, mentransfer energi cinta dan positivas hidup dengan tanpa timpang mengajar betapa kerasnya hidup. Dan betapa kita harus kuat menghadapi semuanya.

Dengan umurnya yang tidak lagi muda, tanpa pernah mengeluh, ia emban terus tanggung jawab yang tertulis eksplisit di buku nikah. Tidak pernah ia nikmati kerja keras yang selama ini telah lakukan. Kota terjauh yang pernah ia sambangi adalah Manado—setidaknya, seingat saya. Dan tidak pernah sekalipun ia menginjak kaki keluar negeri.

Pernah saya bertanya mengenai kemana saja larinya uang yang selama ini ia cari. Ia hanya mesem dengan wajah menyebalkan seperti biasa. “Sekolah lu siapa yang bayar? Oma siapa yang jaga?” Tuturnya.

Tidak pernah seutuhnya saya mengerti makna kalimat itu sampai realita memaksa saya mengerti. Di pagi hari dalam mobil tuanya, ia meminta. Dengan suara lelah dan wajah penuh kerut, ia meminta. Itu pertama kali ia meminta, secara gamblang. Itu pertama kali ia bercerita mengenai umurnya yang tidak lagi muda dan sulitnya mencari uang di umur yang seharusnya sudah masuk usia pensiun.

Saat itu, saya hanya mampu terdiam. Seperti tertelan lubang hitam angkasa yang memberi nama sebagai pengertian.

Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak “kelapangdadaan” yang ia berikan untuk menghidupi saya. Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk memastikan saya bisa menempati rumah terbaik, teraman, ternyaman. Hari itu saya belajar, kasih tanpa pamrih yang keluar seorang laki-laki.

Continue Reading →

24. October 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Postcard Letter | Tags: | Leave a comment

Percakapan Sore Hari: Mengenai Bertemu Inspirasi

(Yang katanya dan sering dibicarakan dengan) Semesta,

Selamat pagi.

Terima kasih atas inspirasi tanpa batas sore hari lalu.

Sore di hari lalu, berbatasan dengan kopi hitam dan pencinta kopi yang kebingungan memesan kopi jenis apa di Starbucks, saya mengalami percakapan sore hari yang begitu menyenangkan di atas semesta ini.

Percakapan sore hari lalu seperti sebuah kumpulan inspirasi tak berbatas, namun memiliki nyawa yang sangat terintegrasi dengan jiwa. Percakapan sore hari lalu seperti sebuah oase ditengah kelelahan mencari inspirasi dan berbicara dengan bobot tinggi mengenai apapun.

Percakapan sore hari lalu mengingatkan saya mengenai wejangan jurnalis masa lalu. Katanya, menulis harus menggunakan mata subjektif dan, untuk sekali ini, kata “subjektif” membuat saya takut. Ketakutan terbesar saya adalah menjadikannya “terlalu-tidak-manusia” dan memberikan parafrase indah agar pembaca bisa turut merasakan betapa magical-nya percakapan sore hari yang begitu menginspirasi. Saya takut tidak menjabarkan fakta, melainkan fiksi-asumsi yang sudah mengawang di kepala sejak 15 menit percakapan dimulai.

Continue Reading →

20. October 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum, Postcard Letter | Leave a comment

2.4

Ini mungkin akan jadi kegiatan rutin.

Namun, tepat setahun lalu, saya menulis surat ulang tahun kepada diri sendiri di umur 23, disini. Entah saya yang memang pada dasarnya melodramatik atau karena keadaan simpel sedang tidak bersahabat, saya kabur… kabur, dan untuk pertama kalinya memilih berganti hari ulang tahun di Bandung. Satu kota yang hanya memakan waktu maksimal empat jam dari Jakarta, namun untuk satu alasan yang tidak tahu mengapa, terasa begitu bersahabat.

Alasan saya kabur sebenarnya sungguh sederhana. Tahun ini, saya merasa menjadi manusia paling bodoh yang pernah ada dan tercipta di muka bumi. Me-recall apa yang menjadi doa saya di tahun lalu: “Semoga saya bisa berdiri sampai angka 2 bertemu angka 4 dan mengkisahkan satu cerita hidup tentang cinta yang selama ini saya cari.”

Mungkin, doa ini berkontribusi paling maksimal atas segala kebodohan, ketidaklogisan pikiran yang memamahbiah sejak saya berada di umur 23 tahun. Ketakutan, ketidakpercayaan, ketidakmampuan untuk jujur dengan diri sendiri, serta keinginan kuat menyenangkan orang terdekat adalah permasalahan utama saya. Masalahnya saya terkadang lupa: orang terdekat diri saya, adalah diri saya sendiri.

Continue Reading →

05. September 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Postcard Letter | Leave a comment

Konsep Memaafkan

Saya jarang menuliskan kalimat ini, tapi yes, saya adalah seseorang yang masuk dalam kategori sering pergi ke gereja. Bukan hanya rutinitas, ada sebuah kegiatan dan keinginan di dalam rumah itu. Namun jangan khawatir karena saya tidak akan membahas mengenai bagaimana seseorang harus hidup dalam norma gereja dan konfliknya. No.

Tepat pagi ini, diantara ibadah Kenaikan Tuhan Yesus, saya mendapat satu hal mengenai, tentu saja, kehidupan.

Belakangan, saya sedang mengalami early quarter life crisis. Banyak hal yang saya pertanyakan, dengan kuota pertanyaan lebih sulit dari saat saya tidak berada dalam fase krisis ini. Banyak pola pikir hidup yang berubah, dan saya mulai mengambil keputusan yang terasa “sangat tidak saya.”

Pagi ini, lewat satu khotbah panjang dari Gembala Pendeta, saya mendapat sedikit kesimpulan dari hidup: whatever life goes, when you have hate in your heart, all teories will go wrong.

Ada satu quote yang menarik: “I forgive but I will not forget.

Satu kalimat (yang katanya) bijaksana mengenai konsep kebencian dan memaafkan. Satu kalimat yang sering menjerumuskan seseorang dan memporakporandakan konsep memaafkan.

Menariknya, dewasa ini, ketidakmampuan melupakan kesalahan biasanya berakhir pada kemampuan untuk bombardir rasa di sosial media ─ which, sometimes, I find so funny. Sosial media dan drama digitalnya adalah salah satu yang kerap membuat proses memaafkan jadi timpang. Yes, I forgive… but I do forget? Hmm, not really. Atau, ketika kita merasa sudah melakukan tindakan/progresi memaafkan, namun atas nama inner circle di Path atau lock profile di Twitter, kita tetap berbicara mengenai status sebal. IS IT really an act of forgiveness? Saya bukanlah manusia dengan timeline suci di sosial media. Namun saya bisa pastikan, sejak beberapa tahun terakhir, saya belajar untuk mengutarakan perasaan-perasaan penting tidak di sosial media, namun face to face alias bicara langsung.

Baca Juga: Forgiveness

Pada hari ini saya belajar, satu hal yang tidak bisa dilakukan adalah memaafkan tanpa melupakan. Melupakan seluruh kesalahan adalah paket komplit-tidak-bisa-dipisahkan dari memaafkan. Kebencian tidak pernah membawa hidup kita ke titik manapun. Ketidaksukaan atas sesuatu tidak akan memberikan kita waktu untuk mencintai hal lain. Yes, you allow to not get along with someone; but not hate them. Hate is overrated and it costs you everything.

(This Is My #NoteToSelf)

18. August 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum, Stories | 1 comment

Filosofi Kopi: Film Penuh Filosofi

Kalau boleh jujur, sebagai penikmat kata dan musik dari Dewi “Dee” Lestari, sudah kerap kali saya dikecewakan dengan adaptasi filmnya. Mulai dari Perahu Kertas yang (seharusnya) lebih mudah diterjemahkan secara visual, sampai Supernova yang absolut tidak memiliki batasan visual pasti.

Filkop-02

Memberanikan diri, saya ambil kesempatan di Jumat malam untuk berbagi dengan salah satu film karya Angga Dwimas SasongkoFilosofi Kopi. Sudah lama saya mengenal novelet “Filosofi Kopi”, dan — seperti para pembaca umumnya– saya sudah membayangkan dengan samar-samar mengenai Ben & coffee shop bernama Filosofi Kopi.

Continue Reading →

11. April 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Movie, Review | Leave a comment

← Older posts

Newer posts →