Pertanyaan Mengenai Kamu

Now Listening: Tiap Senja – Float

Ini sudah lewat tiga bulan dan saya masih bertanya-tanya mengenai kamu. Mengenai saya. Mengenai kita.

Saya sudah lelah daya menghisap seluruh emosi sendirian… saya hanya ingin bertanya kepada kamu, seperti dulu saya bertanya banyak hal.

Semua orang berkata, kamu hanya menggunakan saya atas nama kepentingan. Saya berusaha menepi asumsi itu, tapi tak mampu menahan bisik dan tanya: “betulkah?”

Saya mengingat seluruh detail hari-hari yang kita jalani. Seluruhnya, tanpa jeda. Seharian bermalam di Jakarta saat pergantian hari menuju ulang tahun, percakapan setiap menit via telepon, berbagi kisah di Pantai Melayu dan kamu di Jakarta, ucapan kangen pertama kali ….. semuanya masih melekat di kepala dan terlihat nyata.

Saya ingin bertanya, melihat ke dalam matamu, mencoba meraih jawaban disana dari satu pertanyaan yang tertahan sepanjang nafas: semuanya pura-pura? Apakah hanya saya yang berlebihan merasakan rasa dan menafsir emosi?

Katamu, kamu tidak tahu seberapa jauh saya disakiti dan dibuat lupa dengan kata percaya. Saat itu, saya hanya bisa menjawab dalam hati, “kamu membuat saya lupa bahwa saya melupa kata percaya… saya hanya takut mengatakan itu, terang-terangan.”

Walau pada akhirnya, seberapapun saya mencoba menjelaskan kepada kamu, cinta adalah rasa. Mungkin kita kurang merasakan cinta itu, atau saya salah menafsir emosi, atau kamu memang persis seperti apa yang mereka semua katakan.

Demi apapun, berikan saya satu penjelasan yang realistis, bukan surealis, mengenai semua ini. Bentangan kamu jelas, simbolik antar manusia yang terbuka, namun saya meluruh dengan asa. Kalau boleh mengutip lirik lagu yang saat ini saya dengar:

Tidakkah bimbang menyiksa, padahal masih banyak pulau yang dapat kamu temu? Sejenak saja, hampirikku… biar riak berlabu di pantaiku.

3:25 PM
Starbucks Coffee

05. April 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum | Leave a comment

Forgiveness

Ada kejadian yang masih tersimpan baik di memori kepala saya: Tragedi Air Asia dan Charlie Hebdo. Yes, keduanya punya latar belakang kisah yang berbeda; satu mengenai idealisme, sedangkan yang satu mengenai… well, mesin yang rusak, penerbangan yang tidak harusnya ada pada jam itu, bahkan (katanya) pemutihan.

Satu pikiran berlompat dalam kepala saya ketika membaca ini: “karena kita, saya, Anda, mungkin dapat meninggal di esok hari, bahkan mungkin detik kesepuluh setelah kalimat ini.

Continue Reading →

17. March 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum | Leave a comment

Friendship Playlist – Playlist Music Share With My Music Soulmate

Happiness is, when we found our music-soulmate, a loved ones who always have that “same pleasure” when you both talk about music. The weirdest, the loudest, the un-populer… so many things and you just enjoy the convo.

One of my music soulmate, a friend since I was in college, sent me her must-listen music list. It’s quite fun–and memorable moment–because she’s in Bandung while I’m in Jakarta. It’s like, we share some personal music-memory-journey thru–I fuckin’ don’t know– 100 KM aparts?

Continue Reading →

16. March 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Postcard Letter | Leave a comment

Kepastian Cinta Dalam The Judge

Buat saya yang cukup aktif mengikuti perjalanan film Robert Downey Jr., The Judge adalah salah satu yang paling emosional. Tidak ada perubahan karakter dalam diri Hank Palmer yang diperankan oleh Downey–masih sangat slengekan dan menyebalkan–tetapi dalam porsi emosional tingkat tinggi.

Judge-02

Kisah dimulai dengan perbincangan Downey dan rival kerjanya dalam sebuah toilet umum pengadilan. Dalam film ini, Downey diceritakan sebagai pengacara yang terkenal sukses membela koruptor, white-collar crime, serta orang-orang kaya yang statusnya bersalah.

Mike Kattan: “And how does it feel, Hank? Knowing that every client you represent is guilty?”
Hank Palmer: “It’s fine. Innocent people can’t afford me.”

Perjalanan film The Judge baru dimulai ketika Downey mendapat kabar bahwa sang Ibu meninggal dunia. Seluruh kekuatan meluruh. Pada momen ini, Downey mulai menampaknya sisi laki-laki emosional dalam porsi yang (masih) acceptable. Emosi ini terus berkembang dan nampak semakin jelas-menguat ketika Downey mengetahui sang Ayah terkena tuduhan pembunuhan, tidak jauh berbeda dari hari kematian sang Ibu.

Continue Reading →

05. March 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Movie, Review | Leave a comment

Satu Kali Lagi Mengenai Manusia

Buat saya, manusia adalah mahluk hidup yang paling kompleks. Ini fakta, dengan bukti yang tidak perlu terlampir karena saya percaya, hampir seluruh manusia lain mengakui konsep ini.

Mempelajari manusia adalah hal tersulit yang pernah dilakukan manusia lain. Namun kadangkala, berbasis rasa cinta, mereka rela melakukan hal-hal (yang menurut mereka) untuk mempelajari manusia. Belasan tahun saya percaya, menjalani hidup paling baik adalah dengan mempelajari manusia sedalam-dalamnya.

Hari ini, saya belajar bahwa konsep ini tidak sepenuhnya benar.

“Most things will be okay eventually, but not everything will be. Sometimes you’ll put up a good fight and lose. Sometimes you’ll hold on really hard and realize there is no choice but to let go. Acceptance is a small, quite room.”

Tahun lalu, saya temukan quote itu di deretan post Pinterest. Saya save di komputer dan ponsel, tanpa bisa mengerti benar-benar maknanya. Yes, saya tahu bahwa ada waktu untuk melepas sesuatu yang begitu kuat mengikat kita. Yes, saya mengerti konsep good fight dan mengalah dengan ego. Tapi ada satu bagian di akhir quote yang kurang saya mengerti: acceptance is a small, quite room.

Continue Reading →

11. February 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Stories | Leave a comment

Her: Cinta Dalam Bentuk Moderen

Sebenarnya, sudah cukup lama saya menikmati film Her, setidaknya hampir setengah tahun yang lalu. Namun, film ini masuk ke dalam kategori cukup membekas dan sulit dilupakan. Kalau mencari pengganti love sci-fi jaman “Eternal Sunshine Of The Spotless Mind”, Her adalah versi moderen, versi kekinian. Versi lengkap dan lebih menguras airmata.

Menceritakan tentang seorang socially awkward, Theodore dan hubungannya dengan seorang wanita yang diperankan sangat seksi-apik oleh Scarlet Jo.

Her-03

Dibawa kedalam 126 menit, film besutan Spike Jonze yang juga melahirkan sebuah film menarik di tahun 2009, “Where The Wild Things Are”, Her menarik dengan cara yang… well, begitu moderen. Karena sungguh, tak ada yang lebih menegangkan daripada menyaksikan bagaimana moderenisasi membawa manusia menjadi tidak fungsional. Atau mungkin, yang membuat film ini menarik adalah prediksi Jonze mengenai modernisasi yang akhirnya menjadi simalakama.

Continue Reading →

22. January 2015 by Ribka Anastasia
Categories: Movie, Review | Leave a comment

← Older posts

Newer posts →