• Movie,  Review

    Kepastian Cinta Dalam The Judge

    Buat saya yang cukup aktif mengikuti perjalanan film Robert Downey Jr., The Judge adalah salah satu yang paling emosional. Tidak ada perubahan karakter dalam diri Hank Palmer yang diperankan oleh Downey–masih sangat slengekan dan menyebalkan–tetapi dalam porsi emosional tingkat tinggi.

    Judge-02

    Kisah dimulai dengan perbincangan Downey dan rival kerjanya dalam sebuah toilet umum pengadilan. Dalam film ini, Downey diceritakan sebagai pengacara yang terkenal sukses membela koruptor, white-collar crime, serta orang-orang kaya yang statusnya bersalah.

    Mike Kattan: “And how does it feel, Hank? Knowing that every client you represent is guilty?”
    Hank Palmer: “It’s fine. Innocent people can’t afford me.”

    Perjalanan film The Judge baru dimulai ketika Downey mendapat kabar bahwa sang Ibu meninggal dunia. Seluruh kekuatan meluruh. Pada momen ini, Downey mulai menampaknya sisi laki-laki emosional dalam porsi yang (masih) acceptable. Emosi ini terus berkembang dan nampak semakin jelas-menguat ketika Downey mengetahui sang Ayah terkena tuduhan pembunuhan, tidak jauh berbeda dari hari kematian sang Ibu.

  • Stories

    Satu Kali Lagi Mengenai Manusia

    Buat saya, manusia adalah mahluk hidup yang paling kompleks. Ini fakta, dengan bukti yang tidak perlu terlampir karena saya percaya, hampir seluruh manusia lain mengakui konsep ini.

    Mempelajari manusia adalah hal tersulit yang pernah dilakukan manusia lain. Namun kadangkala, berbasis rasa cinta, mereka rela melakukan hal-hal (yang menurut mereka) untuk mempelajari manusia. Belasan tahun saya percaya, menjalani hidup paling baik adalah dengan mempelajari manusia sedalam-dalamnya.

    Hari ini, saya belajar bahwa konsep ini tidak sepenuhnya benar.

    “Most things will be okay eventually, but not everything will be. Sometimes you’ll put up a good fight and lose. Sometimes you’ll hold on really hard and realize there is no choice but to let go. Acceptance is a small, quite room.”

    Tahun lalu, saya temukan quote itu di deretan post Pinterest. Saya save di komputer dan ponsel, tanpa bisa mengerti benar-benar maknanya. Yes, saya tahu bahwa ada waktu untuk melepas sesuatu yang begitu kuat mengikat kita. Yes, saya mengerti konsep good fight dan mengalah dengan ego. Tapi ada satu bagian di akhir quote yang kurang saya mengerti: acceptance is a small, quite room.

  • Movie,  Review

    Her: Cinta Dalam Bentuk Moderen

    Sebenarnya, sudah cukup lama saya menikmati film Her, setidaknya hampir setengah tahun yang lalu. Namun, film ini masuk ke dalam kategori cukup membekas dan sulit dilupakan. Kalau mencari pengganti love sci-fi jaman “Eternal Sunshine Of The Spotless Mind”, Her adalah versi moderen, versi kekinian. Versi lengkap dan lebih menguras airmata.

    Menceritakan tentang seorang socially awkward, Theodore dan hubungannya dengan seorang wanita yang diperankan sangat seksi-apik oleh Scarlet Jo.

    Her-03

    Dibawa kedalam 126 menit, film besutan Spike Jonze yang juga melahirkan sebuah film menarik di tahun 2009, “Where The Wild Things Are”, Her menarik dengan cara yang… well, begitu moderen. Karena sungguh, tak ada yang lebih menegangkan daripada menyaksikan bagaimana moderenisasi membawa manusia menjadi tidak fungsional. Atau mungkin, yang membuat film ini menarik adalah prediksi Jonze mengenai modernisasi yang akhirnya menjadi simalakama.

  • Stories

    Manifest Mimpi

    Saya lupa pernah membaca dimana, namun kalimat ini merupakan salah satu penyemangat di kala sedang ada di titik bawah:

    “Your thoughts determine your feelings, your feelings determine your actions, and your actions determine your character.”

    Saya adalah manusia yang hidup dari mimpi. Tidak pernah saya bayangkan harus mengerjakan sesuatu yang pada akhirnya menjauhi mimpi saya. Namun di sisi lain, saya juga percaya bahwa realita adalah teman baik semua manusia; jadi, ini adalah gabungan yang cukup kompleks yang kerap menjadikan saya bernegosiasi antara mimpi dan keadaan. Banyak yang bilang tindakan ini adalah idealis realistis.

    Terbiasa memutuskan untuk jangka panjang, saya kadang suka gemas sendiri apabila menemukan atau bersinggungan dengan orang-orang yang go with the flow. No, I’m not that controlling… Karena ada hal-hal yang memang pada dasarnya tidak bisa kita kontrol dan harus go with the flow, misalnya, percintaan dan perasaan. Sadar mengenai hal itu, saya jadi sedikit controlling satu hal yang paling bisa saya control: pekerjaan, mimpi, karier.

  • Article

    Instead Of Fighting For Someone To Stay In Your Life, Let Them Leave

    Why is it that we have such a hard time letting go of things that aren’t good for us?

    We’ve all been there. We know something is terrible for us and we know that it will do more harm than good, but we still hold on to it. “Hold” may be too light of a term. We cling. We cling to things that will ultimately leave us worse for wear – and it’s ridiculous.

    Usually, this is the case with relationships. We stay in less than stellar relationships well past the expiry date. Like spoiled milk, curdling in the fridge, these toxic relationships taint everything around them with their shittiness. Yet, we’re hesitant to get rid of them. Thus begins a vicious cycle. We allow ourselves to sacrifice time, dignity, energy and self-esteem and, in the end, we’re left looking back at the mess wondering how we allowed ourselves to become that desperate person.

  • Momentum

    Happy New Year

    Happy New Year-01 Selamat bertahun 2015, pembaca, pecinta buku, pencari kebahagiaan, penikmat senja. Semoga tahun ini dipenuhi berkah, dipenuhi cinta, dipenuhi ketidakpastian yang membuat kalian belajar bahwa pasti adalah ketidakpastian. Selamat belajar mengenal diri Anda sendiri. Selamat belajar untuk tetap bertahan disatu chaos, tanpa perlu keluar dari lingkaran hidup.

    Sesamamu, Manusia.