Pengejar Matahari

Mereka adalah pengejar matahari. Namanya bermacam-macam, jenis kelaminnya pun bisa perempuan atau laki-laki. Mereka semua acapkali ditemukan sedang duduk-duduk di pinggir pantai, menunggu matahari yang datang atau pulang kembali ke tempatnya.

Sayangnya mereka jarang berbicara satu sama lain. Nampaknya sepi adalah teman baik para pengejar matahari, dan mereka begitu nyaman berbagi hening.

Di pinggir pantai, para pengejar matahari berbagi tempat dengan mereka para penikmat senja, pecinta biru laut, atau dengan mereka yang hanya duduk-duduk di pinggir pantai tanpa bisa diberi julukan.

Menariknya, mereka selalu bisa dibedakan dan diidentifikasi; biasanya cenderung paling pendiam dan pengamat. Begitulah para pengejar matahari. Mereka lebih senang berdialog bukan pada saat sedang mengejar matahari. Bukan pada saat senja atau subuh.

Banyak orang yang selalu mempertanyakan mengapa banyak pengejar matahari mampu bertahan dalam diam yang begitu stagnan dan panjang. Pengejar matahari bertanya balik, namun hanya di dalam hati: “mengapa banyak orang harus berusaha berbicara ketika diam adalah segala jawaban atas satu pertanyaan?”

Banyak yang menilai bahwa pengejar matahari adalah anak manusia yang sudah sangat mengenal dirinya. Mereka hanya tidak tahu, pengejar matahari adalah mereka yang paling sedikit mengenal dirinya, namun paling punya keinginan kuat untuk terus mencari tahu. Bagi pengejar matahari, jawaban atas segala pertanyaan adalah pertanyaan itu sendiri.

Photo featured by Rezky Nugraha

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *