Penutup Tahun 2015 2.0

Desember, 22.

Saya selalu percaya kepada angka 22; bahwa ada nilai ‘mistis’ yang dimiliki oleh gabungan angka 2 kembar ini. Saya menyukai 22, dan untuk beberapa life cases, angka/tanggal ini kerap berpartisipasi sebagai tanggal penting.

Starbucks half price (yes, ini penting karena saya cinta kopi), tanggal pertemuan pertama dengan teman maya yang menjadi sahabat baik, tanggal jadian pertama dengan mantan pertama di SMP, tanggal masuk kantor pertama kali, sampai –bahkan–tanggal jadian kedua teman dekat saya, merupakan momen-momen yang dibagi di angka/tanggal 22.

Dan sekali lagi, 22 berkontribusi sebagai cinta baru. Pergantian menit pertama di 22 Desember 2014, saya punya banyak hal untuk di-figure it out pada tahun 2015. Bingung harus memulai dari titik bagian mana, namun kali ini, biarkan saya sedikit menjadi (sok) dewasa.

I found my true best friend.
They said passion is a true best friend, I couldn’t more agree. Menulis adalah salah satu hal yang membuat saya tetap terjaga waras dalam hidup. Seseorang pernah bertanya kepada saya, “mana yang kamu pilih, menjadi marketer atau jurnalis?” Jawaban saya cepat. Menulis, jurnalis, reporter–apapun sebutannya–adalah panggilan. True life’s calling. Menulis adalah bagian hidup, bukan pilihan. So, please, find your true calling and life your live thru that.

They quoted about life is a journey. Well, it’s seriously and fucking true.
2014 adalah tahun pembelajaran; mengenai cinta, mengenai nilai persahabatan, mengenai kemampuan mengenal diri sendiri, terbesar adalah mengenai kepercayaan. Hidup adalah satu perjalanan yang tidak pernah ada contekkan catatan. You can’t live your life based on your past. It’s a new beginning–everyday is a new beginning. Be present.

You only have one life, choices are yours, choose wisely.

Things eventually will change. Sometimes, it’s a part of the growing up.
Mengutip kata Penelope Gracia di serial Criminal Minds, saya sesungguhnya benci dengan perubahan. Hidup tahun ini mengajarkan bahwa hal paling statis dari sebuah fleksibelitas adalah perubahan. Tersulit dari perubahan: menerima perubahaan itu sendiri. Saya belajar melakukan ini.

Don’t be bitter.
Be soft. Do not let the world make you hard. Do not let pain make you hate. Do not let the bitterness steal your sweetness.

Karena saya tidak percaya reinkarnasi dan juga yakin satu kesempatan diberi kehidupan itu cukup, saya percaya cinta adalah jawaban. Spread the love whenever you go, be a good vibe. Bukan total positif, sesekali terjatuh dan menjadi negatif tidak apa. Namun sungguh, satu torehan di hati bukan berarti membuat seluruh dunia jadi sesimpel hitam dan putih; dunia masih memiliki warna. Sudah terlalu banyak hitam dan putih, jadilah warna. Seperti kata Robin Lim, mencintai seperti kuku jari. Dipotong sampai sejauh apapun, ia akan tetap tumbuh dengan nilai cinta yang cukup.

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *