Percakapan Sore Hari: Mengenai Bertemu Inspirasi

(Yang katanya dan sering dibicarakan dengan) Semesta,

Selamat pagi.

Terima kasih atas inspirasi tanpa batas sore hari lalu.

Sore di hari lalu, berbatasan dengan kopi hitam dan pencinta kopi yang kebingungan memesan kopi jenis apa di Starbucks, saya mengalami percakapan sore hari yang begitu menyenangkan di atas semesta ini.

Percakapan sore hari lalu seperti sebuah kumpulan inspirasi tak berbatas, namun memiliki nyawa yang sangat terintegrasi dengan jiwa. Percakapan sore hari lalu seperti sebuah oase ditengah kelelahan mencari inspirasi dan berbicara dengan bobot tinggi mengenai apapun.

Percakapan sore hari lalu mengingatkan saya mengenai wejangan jurnalis masa lalu. Katanya, menulis harus menggunakan mata subjektif dan, untuk sekali ini, kata “subjektif” membuat saya takut. Ketakutan terbesar saya adalah menjadikannya “terlalu-tidak-manusia” dan memberikan parafrase indah agar pembaca bisa turut merasakan betapa magical-nya percakapan sore hari yang begitu menginspirasi. Saya takut tidak menjabarkan fakta, melainkan fiksi-asumsi yang sudah mengawang di kepala sejak 15 menit percakapan dimulai.

Percakapan sore hari lalu terjadi selama hampir satu jam. Dan selama itulah saya bertanya mengenai apapun; keluar jalur mengenai objektif pertanyaan yang sudah memiliki arahnya masing-masing. Saya terpana dengan diri sendiri karena banyak pertanyaan non-objektif terhadap angle artikel yang sudah di-setting muncul tanpa bisa dihentikan.

Inspirasi yang lebih hebat daripada jatuh cinta, atau patah hati, atau kematian.

Setelahnya ia berlalu pergi, meninggalkan Passion Tea yang katanya menyegarkan dan merupakan pilihan tepat (karena dipesan dengan pesan sponsor: “surprise me with your Starbucks’ beverage choice“), saya hanya bisa diam sembari menghela nafas. Sejumput kalimat muncul di kepala dengan perlahan:

“Anda tidak bisa menahan inspirasi. Pun, Anda tidak bisa menjadi inspirasi apabila tidak belajar bertemu dan bertatap muka dengan inspirasi itu sendiri. Mencari inspirasi. Menggali pengalaman. Membuka lebar untuk sebuah inspirasi menjadi inspiratif, mengendap dalam tubuh Anda.”

Manusia di depan saya adalah pemuda dengan pola pikir seorang laki-laki. Dan tanpa sadar, ia mengajari saya bahwa hidup bisa membawa Anda kemanapun, bertransformasi bentuk menjadi apapun, sampai akhirnya…. Anda tahu, Anda akan berhenti. Di satu titik. Di satu waktu. Di satu masa; dan inspirasi itu menjadi diri Anda sendiri.

 

I spent my time watchin’ the spaces that have grown between us
I cut my mind on second best or the scars that come with the greeness
I gave my eyes to the boredom, still the seabed wouldn’t let me in,
I tried my best to embrace the darkness in which I swim

 

Starbucks Senayan City
17.40 WIB
(Credit Photo: Instagram Feed “The Inspiration”)

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *