Perjalanan Rasa

“Books are the plane, and the train, and the road. They are the destination, and the journey. They are home.” (Anna Quindlen)

“Kemana kamu akan pergi?”

“Rumah.”

“Rumah? Kamu tidak seperti orang yang ingin pulang ke rumah.”

“Maksudnya?”

I’m not American, I’m Chinese. But I’ve been staying here (America) for ten years. This is where I belong to be. Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.
(Life Traveler, Windy Ariestanty)


Mari masuk ke dalam sebuah perjalanan, di dalam sebuah lorong stasiun kereta yang panjang atau bandara dengan pesawat yang sama besarnya. Pilihan ada di tangan, ingin menaiki apa; kereta atau pesawat.

Destinasinya adalah sebuah rasa baru mengenai hidup yang mungkin akan jadi hasil destinasi yang terus melekat erat di tubuh. Tidak bisa dihilangkan walau keinginan untuk menghapus itu terasa besar. Destinasi lain adalah untuk mencari apakah rumah yang sudah ada saat ini, benar-benar rumah dimana kita sesungguhnya berada.

Perjalanan ini memakan waktu tiga ratus enam puluh lima hari, atau kadang kala, tiga ratus enam puluh enam hari, dan ini dinamakan perjalanan waktu. Untuk perjalanan ini, biaya yang dibutuhkan adalah keberanian dan bijaksana yang tidak habis dimakan keadaan. Biaya yang terasa bisa dipenuhi di awal, namun akan menjadi biaya tersulit yang pernah ada di seluruh perjalanan.

Perjalanan ini juga seringkali dinamakan “perjalanan rasa” karena berkumpulnya seluruh rasa menjadi satu sesuai waktunya masing-masing. Cinta, bahagia, haru, empati, kesedihan, kekecewaan, keras kepala, dan segala jenis rasa lainnya yang terlalu banyak untuk disebut.

Dan ketahuilah, dari semuanya, menikmati perjalanan adalah hal terpenting sebelum akhirnya mencapai destinasi terakhir. Destinasi yang sesungguhnya akan dipenuhi rasa lain yang nantinya mencapai gramatika kata bernama past dan diberi judul pengalaman. Pengalaman selama setahun penuh dan akhirnya (serta biasanya) akan mencapai masa kontemplasi di kode tanggal 31.12.

Namun untuk semua itu, daripada terlambat dan hanya menyesal tanpa menikmati barang sedikit waktu pun selama sekitar 8.670 jam …… menikmati lalu bersyukur pada akhirnya adalah yang terbaik.

…. sebelum menemukan atau kembali ke rumah dimana kita seharusnya berada.

Photo Featured by Rezky Nugraha

Share With Your Loved One:

Posted by Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *