Stories

Saya Tidak Ingin Menjadi Monster

“Saya tidak ingin menjadi monster atas diri saya sendiri.”

Pada satu titik di pagi hari, ketika sudah terlalu banyak frase ‘lelah’ keluar dari jiwa dan bibir, saya terduduk tanpa ditemani kopi pagi. Kepala ini pening, berputar seakan saya sedang dibawa berkeliling pada sebuah marry go round yang tak berkomando.

Kalimat panjang kembali berbisik, saya menghela nafas, “Saya. tidak. ingin. menjadi. monster. atas. diri. saya. sendiri.”

Untuk beberapa saat, seperti satu rentetean kejadian, saya teringat perasaan ketika duduk di dalam rumah tidak memberikan saya kenikmatan batin, dimana saya lebih memilih bersandar pada satu area di sudut coffee shop dengan para barista yang hanya saya kenal sebatas nama.

Banyak pertanggungjawaban yang harus diutamakan, sehingga saya kerap memilih mundur dari pertengkaran batin mengenai hal yang menambah kesesakan kepala. Saya juga bingung, mengapa ‘lelah’ kini menjadi jawaban paling deskriptif yang pernah saya berikan ketika ada pertanyaan mengenai “ada apa?”

Baru kali ini saya merasakan…., satu kata ternyata bisa memiliki arti yang begitu luas.

Pagi itu, tanpa kopi hitam panas, saya menyadari ada banyak perkara, pilihan-pilihan sulit yang menyangkut banyak orang–juga ketenangan batin diri saya sendiri–yang harus diperjuangkan. Entah sudah berapa banyak malam yang kerap saya lewati dengan menangis sambil berdoa, bertanya mengenai keputusan apa yang mampu memuaskan semua orang. Saya terkadang lupa, kita tidak bisa memuaskan semua orang. Namun bagaimana ketika semua orang disini bukanlah seluruh semesta, melainkan mereka yang punya nilai penting seperti keluarga, teman dekat, dan sesuatu yang kita anggap penting?

Malam dua lalu, saya berdoa kepada Tuhan sambil menelusup kepala ke dalam kasur: “Biarkan saya tidur. Setidaknya malam ini. Karena saya sungguh lelah, dan tidur adalah penyelamat paling cepat dari kelelahan; setidaknya untuk raga saya.”

Malam itu, Tuhan menjawab doa saya. Saya tertidur pulas, cukup lama, dan ajaibnya, tanpa mimpi.

Pagi ini, tidak jauh berselang dari peristiwa tidur tanpa mimpi, diantara puluhan ritme keterbiasaan yang saya lakukan, tanpa kopi hitam yang biasanya menemani, saya menyadari satu hal: saya sedang berkembang menjadi monster. Monster atas diri saya sendiri. Atas segala ketidakindahan dan ketidakseimbangan yang terjadi dalam hidup.

Saya tidak ingin menjadi monster atas diri saya sendiri. Memaksa kehendak, menarik semesta, mendiktaktor sekeliling.

Untuk itu, saya merasa cukup dan harus merangkak keluar.

Ada keputusan, yang sebenarnya tidak ingin dilakukan, tapi harus dijalani dalam rangka menyelamatkan diri sendiri. Terdengar egois memang, tapi egois sesekali dibutuhkan dalam hidup.

Jadi, seandainya ada satu titik semesta yang merasa saya egois, saya mohon maaf. Saya butuh untuk menyelamatkan diri saya sendiri; nilainya bukan untuk saya, tapi untuk keluarga dan mereka yang saya sayangi yang lebih membutuhkan saya.

Satu post di Path membuat saya tersenyum: Semua orang hebat dulunya adalah jiwa yang tersiksa oleh kontradiksi hati dan pikiran, tapi meneruskannya dengan tabah.

Saya bukan orang hebat. Tapi setidaknya, hebat di kepala saya adalah bisa membuat keputusan yang tidak sepenuhnya benar, tapi membuat jiwa ini tenang dan hidup dalam ketercukupan atas cinta.

Divebox Coffee
Jakarta

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.