Surat Dari Hati Seorang Wanita Yang Terluka Dan Memilih Menepi

Ini mengenai suara hati seorang wanita yang tidak terpilih secara rupa, dan memilih menepi.

Buat Anda yang merasa sudah berada di titik memutuskan, tanpa benar-benar memperjuangkan apa yang menjadi perasaan Anda sesungguhnya, selamat! Anda tetap menjadi manusia paling jujur di rotasi alam semesta saya.

Mungkin saya bodoh, atau mungkin ini karma tidak pernah mencintai seluruh hati sejak duapuluhenam tahun hidup. Entahlah.

Saya punya ideologi begini: Perasaan itu adalah salah satu hal paling kompleks yang pernah manusia bisa benar-benar simpulkan kebenarannya. Perasaan–yang dengan bangga saya sebut cinta ini–membuat saya mampu melihat bahwa seseorang bisa bersama seseorang yang lain tanpa impresi yang benar-benar besar mengelilingi keduanya. Atau bahkan sebaliknya, memilih tidak bersama padahal punya sejuta impresi yang begitu melekat antar satu sama lain.

Saya akhirnya belajar untuk mencukupkan diri.

Cukup mengenai, mendengar dari mulutmu dan melihat dari sorot matamu bahwa lewat waktu krusial dan segala kegilaan di hari libur lalu, kita bertemu dalam kedewasaan dan putuskan untuk saling mencinta dalam kepasrahan. Tidak peduli ragamu dimana, tetapi hati kita bertaut dalam semesta dirimu dan diriku. Cukup untuk mengetahui kita lebih memilih meletakan hati—dan masa depan—kepada Yang Diatas untuk benar-benar dipasrahkan. Cukup untuk mengerti bahwa cinta itu memang begini adanya: memasrahkan, tidak perlu memilih, dan melihat melalui segala ketidakberdayaan.

Walaupun, saya tidak bisa katakan cukup adalah “benar-benar” cukup. Saya masih manusia biasa dan keluar dari sebuah arena perang tanpa benar-benar berperang (walau, sampai detik ini saya percaya, cinta bukanlah peperangan) hanya karena terlalu mengerti bahwa kamu tidak pernah bisa benar-benar memilih dikala lelah/panik, ego ini masih terlalu manusia untuk menyerah. Ego ini masih nampak ingin bersinar, walau tak bisa benar-benar kunampakan bentuknya. Tapi, tidak menyerah hanya semakin memperkeruh suasana, bukan?

Ada kalanya ketika saya lelah, atau beberapa lagu kita terdengar dari radio, atau beberapa kenangan muncul di kepala, ada pertanyaan sedikit terucap: mengapa kalau hatimu lebih memilih hatiku, keduanya tidak bisa benar-benar bersama? Atau, ketika kamu meyakinkan saya, di hari ketiga setelah seluruh kegilaan di hari libur itu selesai berputar dan kita bertemu dalam kedewasaan, kamu tetap tidak bisa jujur kepada dia mengenai perasaanmu yang sesungguhnya? Namun, saya terlalu cinta. Terlalu cinta untuk melihat kejanggalan itu dan memilih untuk percaya bahwa kamu berkata dari realita, bukan dari tekanan karena mengecewakan banyak hal, juga molekul manusia.

Ideologi “hati memilih dan tidak dipilih” menjadi dasar saya bertahan dalam seluruh keadaan tidak berlogika ini. Saya belajar mencukupkan diri dan memeluk Tuhan dalam jarak paling erat untuk bisa benar-benar ikhlas. Saya tidak perlu jelaskan dengan menggebu-gebu mengenai bahwa hatimu memilih hati saya, kepada siapapun itu, karena akan muncul pertanyaan paling hakiki dari semuanya: mengapa hatinya memilih kamu, tapi tidak bersama kamu?

Kamu tahu, saya akan minim jawaban, bahkan cenderung malas menjelaskan analogi yang saya punya mengenai ini. Saya akan sangat terlihat semakin bodoh ketika mencoba menjelaskan betapa saya tahu kamu sedang hilang arah, dan saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya adalah terang untuk menuntunmu kembali ke rumah kita. Bersama Tuhan. Apabila diperbolehkan.

Walau begitu, kenyataan absolut mengenai:

Kamu menyakiti saya–dengan seluruh kemampuanmu–kamu menyakiti saya, tidak pernah bisa saya selipkan sedikitpun lewat bibir ini. Saya memilih katakan, kamu hilang arah dan saya belajar pahami itu.

Kamu berbohong–dengan seluruh keabsahan fakta–kamu berbohong mengenai banyak hal, dan saya memilih percaya dengan seluruh kata-katamu. Percaya karena malam kemarin, setelah selesai segala kegilaan, dan kita bertemu dalam kedewasaan, matamu berbicara terlalu banyak dan terlalu jujur, untuk saya lakukan validasi.

Kamu adalah manusia yang memakan habis kepercayaan saya akan dunia. Tapi, Sayang, Tuhan masih begitu berbelas kasih dengan saya. Tidak ada keraguan padamu, atau pada diri saya, atau pada manusia lain; bahkan sampai detik ini, tiga hari setelah kegilaan ini akhirnya mereda. Saya memilih masih percaya ketika kamu bilang, “kamu cinta saya. Hati kamu memilih saya.”

Kamu adalah satu-satunya orang yang membuat saya punya cukup alasan untuk membenci atau berlaku kasar. Tapi saya tidak mampu, dan tidak cukup kuat, untuk bisa membenci atau mengutuk kamu dan manusia lainnya.

Sayang,

Malam kemarin, puluhan kali mata kita bertemu, puluhan kali kita berusaha menggengam pada ketidakberdayaan dan ketidakpastian, puluhan kali juga saya yakin, cinta itu hanya untuk saya. Bukan cinta yang terdefinisi dari berapa banyak jawaban pesan, atau dering telepon, atau ucapan “aku sayang kamu”, atau pada kecupan, atau pelukan, atau validasi dalam status; ini tentang cinta dalam diam, yang hanya dipahami oleh saya. Anehnya, saya yakini perasaan kita nampak sejalan dan sewarna dalam segalanya: rasa, bentuk, dan kuota.

Sayang,

Banyak orang yang membaca ini akan berpikir saya pasti hanya berhalusinasi dalam kesakitan paling dalam. Naive bahasa lebih membuminya. Tapi.. Kamu tahu saya kan, Kak? Kita adalah sepasang manusia yang melihat terlalu saling mengenal satu sama lain. Terlalu bersahabat sangat baik, dan terlalu bermimpi besar tentang masa depan kita.

Tapi, mencintaimu adalah melihatmu bahagia, walau saya harus setengah mati menahan ego untuk tidak memperjuangkanmu. Saya bisa, saya mampu, tapi, tidaklah. Air berlabuh pada sungai yang sama nantinya, kalau air itu memang harus berlabuh.

Pilihan saya–atau bahkan kita berdua–untuk mencintai seperti angin; akan saya terima. Seperti katamu: tidak perlu saya berteriak meminta kamu memperjuangkan saya, hatimu disini dan tidak akan kemana-mana. Tidak perlu benar-benar menggenggam, tidak perlu benar-benar bersentuhan fisik, tidak perlu benar-benar memiliki.

Malam kemarin adalah cukup untukku mengerti hatimu dan derunya. Benar atau tidaknya apa yang kamu katakan, saya kembali memilih percaya.

Sayang percayalah aku berserah dengan ketidakberdayaan, berbahagia dengan satu impian bahwa kita mungkin bisa bersama suatu hari nanti; bukan karena kita memaksakan keadaan, atau karena kamu didera perasaan bersalah. Kupikir cinta tak akan lelah memberi, namun ternyata, cintaku pada diriku sendiri lebih besar. Jadi biarlah kini, mengetahui hatimu sudah menjadi milik saya adalah kekuatan untuk menepi dan berjalan meneruskan hidup.

Maaf, kulepaskan engkau terlebih dahulu, muara tawaku. Kutunggu kau dalam waktu yang tidak bisa kuprediksi, dalam cinta yang tertimbun dalam-dalam di hati, dalam kepasrahan jiwa dan raga.

Doaku, semoga kamu benar-benar bahagia. Kalau memang yang kamu katakan benar adanya, jujurlah pada dirimu sendiri dan jangan siksa jiwamu. Karena, kalau kamu tidak bahagia, sungguhlah… sungguhlah… melepaskanmu adalah keputusanku yang paling bodoh.

 

Dari,
Yang mencintaimu melalui hatinya yang terdalam
(Percayalah, aku paham betul perbedaan arti cinta dan jatuh cinta. Dan… “Aku cinta kamu.”)
Yang 
terluka karena tidak punya kesempatan untuk berjuang lebih besar
(Tetap ya menjadi manusia…)
Dan memilih menepi agar kamu bahagia

About Ribka Anastasia

Ribka Anastasia Setiawan. Virgo. Have an affair with words and life. Full-time writer, part-time journalist, amateur copywriter, personal blogger. In love with life.

12. April 2018 by Ribka Anastasia
Categories: Momentum, Parafrase | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *