Sayang..

Aku tahu ini terlambat atau, kemungkinan paling besar adalah, kamu sudah malas membaca ribuan kalimat yang muncul dari seluruh molekul tubuhku. Tapi biarlah… Aku perlu menuliskan ini, kepadamu.

Sayang, aku minta maaf, untuk yang kesekian kalinya. Untuk seluruh kata, untuk seluruh kalimat yang kamu ubah via Google Translate, untuk seluruh momen kata yang menyakitkan hatimu. Aku tahu maaf tidak akan pernah menggantikan apa yang hilang; akupun tahu, apabila maaf berfungsi begitu hebatnya…. tidak pernah ada yang namanya sakit hati.

Tidak ada pembelaan. Aku salah, besar.

Surat kecil ini hanya ingin mengingatkan betapa ratusan hari kita mencoba berusaha, kita mencoba menjalani ketidakmungkinan realita… dan memberi kamu momen seperti ini adalah sebuah kesalahan fatal. Aku tahu dan menyadari itu.

Surat kecil ini hanyalah bentuk penyesalan yang tidak bisa terungkap atas kata-kata. Atas kesalahan yang mungkin terfatal dan tertidak mungkin dimaafkan, tapi… bolehkah dibukakan pintu itu, sedikit saja?

Surat ini adalah sedikit momen pengingat:

  • Ketika kita pertama kali bertemu di satu pojok area terbuka, yang kemudian berhasil mentransformasikan apa yang dikatakan sebagai terpertama–setidaknya, padaku
  • Ketika kita duduk di pojok Starbucks atau Maxx Coffee atau coffee shop lainnya sambil bercerita mengenai banyak hal mengenai hidup dan kegelisahan masing-masing
  • Ketika akhirnya bertemu Ibu-mu dan mengecap tentang betapa baiknya beliau; serta, tidak lama setelahnya, ketika akhirnya bertemu Papa-ku dan kita menyadari apa yang menjadi realita yang harus dihadapi
  • Ketika seluruh tangis pada saat harus menghadapi momen pacaran jarak jauh. Seluruh pertengkaran, seluruh kelelahan… tanpa ingin memberhentikan ini semua. Walau lelah, seluruh perjuangan yang akan berhenti membuat aku takut sehingga selalu menangis setiap meningatnya
  • Seluruh pojok Bandung, Kota Tua, dan Tangerang yang menjadi tempat kita berdiri, membagi momen dan cerita, serta keresahan yang sulit diungkapan

Diakhirnya, surat kecil ini hanya ingin menjadi sebuah linimasa untukku berkata: tolong berikan satu lagi kesempatan, untuk memulai lagi, dari awal. Untuk kembali lagi percaya satu sama lain.

Untuk memberiku kesempatan memperbaiki segala kesalahan yang sudah diperbuat. Aku tahu semuanya tidak pernah akan tersembuhkan, akan sulit bagimu kembali seperti dahulu. Akan tetapi, dengan sepenuh-penuhnya: maaf aku dan berikan kesempatan itu.

Sekali saja. Aku sungguh membutuhkan itu dari kamu, saat ini. Dan aku berjanji, seumur kita bersama, ini tidak akan pernah terjadi lagi.

Aku sayang kamu. Aku kangen. 🙁

Share With Your Loved One:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *