Berhentikan Kereta Ini, Cukup Sekali Saja

Wajah itu selalu bertekun di balik layar komputer, membuat matanya tidak bisa melihat terlalu jauh, terlalu dekat, dan terlalu malam. Ia relakan seluruh waktu dalam hidupnya untuk menghidupi orang lain yang bukan dirinya sendiri. Ia dengan sederhana, namun berhasil secara utuh, mentransfer energi cinta dan positivas hidup dengan tanpa timpang mengajar betapa kerasnya hidup. Dan betapa kita harus kuat menghadapi semuanya.

Dengan umurnya yang tidak lagi muda, tanpa pernah mengeluh, ia emban terus tanggung jawab yang tertulis eksplisit di buku nikah. Tidak pernah ia nikmati kerja keras yang selama ini telah lakukan. Kota terjauh yang pernah ia sambangi adalah Manado—setidaknya, seingat saya. Dan tidak pernah sekalipun ia menginjak kaki keluar negeri.

Pernah saya bertanya mengenai kemana saja larinya uang yang selama ini ia cari. Ia hanya mesem dengan wajah menyebalkan seperti biasa. “Sekolah lu siapa yang bayar? Oma siapa yang jaga?” Tuturnya.

Tidak pernah seutuhnya saya mengerti makna kalimat itu sampai realita memaksa saya mengerti. Di pagi hari dalam mobil tuanya, ia meminta. Dengan suara lelah dan wajah penuh kerut, ia meminta. Itu pertama kali ia meminta, secara gamblang. Itu pertama kali ia bercerita mengenai umurnya yang tidak lagi muda dan sulitnya mencari uang di umur yang seharusnya sudah masuk usia pensiun.

Saat itu, saya hanya mampu terdiam. Seperti tertelan lubang hitam angkasa yang memberi nama sebagai pengertian.

Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak “kelapangdadaan” yang ia berikan untuk menghidupi saya. Hari itu saya belajar, sudah berapa banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk memastikan saya bisa menempati rumah terbaik, teraman, ternyaman. Hari itu saya belajar, kasih tanpa pamrih yang keluar seorang laki-laki.